Percik Firman: Menerima Hidup dengan Bersyukur

Twitter
WhatsApp
Email
Keinginan manusia untuk tahu tanda-tanda terlampau jauh, kadang bertanya kepada Allah, bahkan mendikte Allah. Mana tanda kasih Allah kepadaku? Katanya Allah Maha Kasih, mengapa saya menderita?

Senin, 16 Februari 2026

Bacaan Injil : Mrk 8:11-13

 

Saudari-saudaraku yang terkasih

Hidup manusia tidak dapat dilepaskan dari tanda. Misalnya, saat lampu merah menyala menjadi tanda kendaraan harus berhenti. Tanda kendaraan boleh berjalan saat lampu lalu lintas hijau. Tanda orang hidup adalah jatung berdetak dan batang otak berfungsi normal.

Tanda tak akan berarti apa-apa kalau orang tidak percaya. Kalau orang minta tanda untuk menjadi percaya, pada dasarnya rapuhlah kepercayaan orang itu. Tanda hanya berarti bagi orang yang percaya dan mengikutinya.

Keinginan manusia untuk tahu tanda-tanda terlampau jauh, kadang bertanya kepada Allah, bahkan mendikte Allah. Mana tanda kasih Allah kepadaku? Katanya Allah Maha Kasih, mengapa saya menderita?

Dalam Injil hari ini orang-orang Farisi menuntut tanda pada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus keberatan memberikan tanda yang diminta. Mereka meminta Dia melakukan suatu tanda yang dramatis, sesuatu yang spektakuler terlihat langsung turun dari langit. Meski demikian, permintaan ini tidak memperlihatkan keinginan mereka untuk beriman pada Yesus.

Apalagi sebelumnya mereka pernah menyatakan bahwa kuasa Yesus datang dari setan. Ini merupakan penolakan terhadap kemesiasan Yesus. Jadi apapun yang Yesus lakukan tidak akan membuat mereka mau percaya.

Yesus menolak untuk memberikan tanda yang diminta orang Farisi karena tujuan-Nya melakukan mukjizat bukan untuk meyakinkan orang yang memang keras hati dan menolak percaya. Yesus melakukan mukjizat untuk menyatakan kuasa dan kasih karunia Allah. Itulah sebabnya Yesus kemudian memperingatkan para murid untuk tidak bersikap seperti orang Farisi.

Melihat (menerima) tanda itu berarti melihat (menerima) hidup ini dengan rasa syukur. Sebab, Tuhan sendirilah yang ada dan hadir menopang hidup.

Pertanyaan refleksi, bagaimana relasi kita dengan Tuhan akhir-akhir ini? Masih suka mengeluh pada Tuhan? Atau malah sering mendikte Tuhan untuk memaksakan keinginan diri?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr