Jumat Agung, 3 April 2026
Bacaan Injil: Yoh 18:1-19:42
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Pada hari ini kita merayakan wafat Yesus di salib. Di berbagai paroki dan komunitas diadakan ibadat Jumat Agung untuk mengenangkan wafat Yesus tersebut. Ada permenungan tentang kisah sengsara (passio). Passio berasal dari bahasa Latin “patior” yang artinya “sengsara”. Passio Yesus Kristus menunjuk pada sengsara yang diderita Kristus demi menebus umat manusia. Kisah ini berawal dari sakratul maut di Taman Getsemani hingga wafat-Nya di Bukit Golgota atau Kalvari. Meskipun tidak bersalah, Yesus dijatuhi hukuman mati dengan disalib.
Menurut Sejarawan Roma, Herodotus, hukuman salib berasal dari Babilonia dan melalui Persia dan Fenesia diterima oleh hukum Romawi. Dari sinilah tradisi hukuman salib diterapkan di Kekaisaran Romawi untuk menghukum para budak, penduduk setempat, dan penjahat kelas rendah demi menjaga stabilitas dan keamanan.
Flavius Yosephus melaporkan adanya banyak penyaliban di Roma menghabiskan banyak kayu untuk penyaliban. Penyaliban merupakan bentuk hukuman atau eksekusi yang paling kejam, paling keras dan paling buruk di antara tiga hukuman (dibakar, dipenggal kepala, dan disalibkan) di Romawi waktu itu.
Dalam ajaran Evangelii Gaudium, Paus Fransiskus mengungkapkan dengan sangat inspiratif terkait dengan ajakannya kepada kita zaman ini untuk memandang salib Yesus. Bapa Suci mengatakan, ”Kita perlu berdiri (duduk) di hadapan-Nya dengan hati terbuka; membiarkan-Nya memandang kita;….Betapa baiknya duduk di hadapan salib atau berlutut di hadapan Sakramen Mahakudus, dan hadir begitu saja di hadapan-Nya! Betapa sangat indahnya ketika Dia kembali menyentuh hidup kita dan mendorong kita untuk membagikan kehidupan baru-Nya” (EG, No. 264).
Salib menjadi tanda nyata kasih Allah pada manusia. Marilah pada hari Jumat Agung ini secara khusus kita duduk tenang memandang salib Kristus di rumah atau kamar kita masing-masing sambil bertanya dalam diri kita masing-masing: apa makna salib Kristus dalam hidup kita? Bagaimana sikap kita dalam menghadapi “salib kehidupan” selama ini?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









