Percik Firman: Jamu Jati Kendi

Twitter
WhatsApp
Email
Pada suatu hari saat ada pertemuan OMK, ada seorang OMK yang bertanya kepada saya, “Romo, saya ditanya teman muslim. Kenapa kamu orang katolik makan B2 dan B1? Bukankah itu makanan haram? Mohon penjelasan, Romo”

Rabu, 11 Februari 2026

Bacaan Injil : Mrk 7:14-23

 

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Pada suatu hari saat ada pertemuan OMK, ada seorang OMK yang bertanya kepada saya, “Romo, saya ditanya teman muslim. Kenapa kamu orang katolik makan B2 dan B1? Bukankah itu makanan haram? Mohon penjelasan, Romo”. Pertanyaan ini bagi saya sangat baik, karena menunjukkan ‘kepo’ (ingin tahu) dan kesungguhan OMK itu untuk mendalami ajaran Gereja secara lebih.

Soal haram dan halal menjadi bahan pengajaran Tuhan Yesus dalam bacaan Injil pada hari ini. Jawaban saya waktu itu pun saya dasarkan dari ajaran Yesus hari ini. Pada dasarnya, Yesus mengajak kita untuk melihat dasar kehidupan keagamaan kita, yakni hati manusia.

Yesus meluruskan pemahaman ‘najis’ atau haram yang salah kaprah dalam masyarakat. Najis atau haram bukan sekedar soal makanan, apalagi ada sertifikat halal atau tidak. Tetapi lebih pada tindakan yang dapat merusak, meracuni, dan berakhir pada dosa dalam diri manusia itu.

Yesus mengajarkan kepada kita bahwa yang dikatakan ‘najis’ adalah segala sesuatu yang keluar dari hati, bukan yang masuk ke dalam perut manusia.

Hidup keagamaan yang diajarkan oleh Yesus bukan atas dasar perintah Allah yang tertulis dalam bentuk hukum, melainkan yang tertulis dalam hati manusia. Itulah yang ditegaskan oleh Yesus bahwa apa yang di luar dan masuk ke dalam manusia tidak dapat menajiskan, melainkan yang keluar dari dalam hati manusia melalui mulutnya itulah yang menajiskan (haram).

Yang masuk ke dalam perut melalui mulut, akan berakhir menjadi ‘kotoran’. Tapi yang keluar dari dalam hati manusia dan keluar melalui mulutnya dan tindakannya itulah yang menajiskan. Misalnya: suka marah-marah, berkata-kata kotor, menggosip, menfitnah, caci maki, iri hati, dll.

Yang keluar dari hati dan melalui mulut (dan tangan) orang itulah yang menajiskan. Hati-hati atas tanganmu. Pada zaman sekarang ini dengan HP atau medsos tangan kita bisa lebih “kejam dan tajam” daripada mulut, untuk menyakiti hati, menyebar fitnah dan hujat. Maka, ingat Jamu Jati Kendhi (Jaga Mulut, Jaga Hati dan Kendalikan diri).

Marilah kita mohon agar kita makin dimampukan untuk hidup lebih baik (bertobat), menjaga kesucian dan kemurnian hati dan pikiran kita.

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr