Jumat, 27 Februari 2026
Bacaan Injil : Mat 5:20-26
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus memperluas pemahaman kita akan “Sepuluh Firman“. Sabda Perjanjian Lama (‘Kamu telah mendengar’) dikontraskan dengan sabda Yesus (‘Tetapi Aku berkata kepadamu’). Hal ini memperlihatkan bagaimana Tuhan Yesus untuk menggenapi hukum Taurat dan nubuat nabi sambil menerangkan makna sejati dari “Sepuluh Firman” (bdk. Mat 5:17). Ia menunjukkan kuasa-Nya untuk memberikan prinsip-prinsip moral yang lebih radikal dan menuntut.
Kita diingatkan agar tidak berpuas diri karena telah menuruti hukum (legalitas, literalistis), namun selalu berusaha untuk memahami inti dan tujuan dari Allah memberikan hukum itu. Yesus mengajak kita untuk kembali ke dalam diri dan hati nurani, melihat motif, lalu berusaha untuk menghindari hal-hal sepele yang bisa berujung pada dosa berat.
Sebagai contoh, Tuhan Yesus menegaskan bahwa membunuh bukan hanya soal aktifitas fisik, tetapi juga ketika mengeluarkan amarah kepada orang lain. Juga pada saat mengatakan orang lain sebagai kafir dan jahil.
Semua itu menjadi bentuk perbuatan membunuh sebab dengan amarah, dengan mengatakan kafir atau jahil, pada saat bersamaan kita membunuh pribadi orang lain. Yang menjadi korban bukan fisik lahiriahnya, tetapi perasaan dan psikis orang itu. Dan bisa memancing terjadinya pertumpahan darah.
Ketiga hal tersebut (marah, kafir, dan jahil) terungkap melalui kata-kata yang terucap dari mulut kita. Itu berarti kata-kata yang keluar dari mulut kita memiliki potensi untuk membunuh orang lain.
Setiap kata-kata negatif punya potensi untuk membunuh, mematikan dan menghancurkan hidup seseorang. Hal ini mirip mulutmu adalah harimaumu. Maka, bijaksanalah dalam berkata-kata. Mulut bisa memberkati dan menyemangati, tetapi juga bisa berpotensi menyakiti dan melukai.
Pada masa Prapaskah ini, Tuhan Yesus mengajak kita untuk mengasah hati nurani dengan mengendalikan mulut kita. Kita perlu memperbaiki relasi kita dengan sesama melalui tobat dan memulihkan hubungan yang telah rusak (rekonsiliasi).Mati-raga kita bukan hanya sebagai bukti iman kita kepada Allah, tetapi juga terwujud dalam aksi nyata kita kepada sesama.
Pertanyaan refleksinya, sejauh mana selama ini kita mengendalikan mulut kita terhadap sesama? Akhir-akhir ini mulut kita lebih banyak menyemangati atau menyakiti sesama?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









