Percik Firman: Bahaya Ketamakan

Twitter
WhatsApp
Email
Dalam ajaran Gereja Katolik ada yang namanya dosa pokok. Dosa pokok adalah dosa yang mengakibatkan dosa-dosa lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk lainnnya.

Jumat I, 6 Maret 2026

Hari Pantang dan Devosi Hati Kudus Yesus

Bacaan Injil : Mat 21:33-43.45-46

 

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Dalam ajaran Gereja Katolik ada yang namanya dosa pokok. Dosa pokok adalah dosa yang mengakibatkan dosa-dosa lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk lainnnya.

Menurut Santo Gregorius Agung, dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 1866, ada 7 dosa pokok, yaitu: kesombongan, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan, kemalasan, iri hati, dan ketamakan.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan bagaimana para penggarap kebun anggur dikuasai ketamakan. Mereka ingin menguasai semua hasil kebun anggur. Mereka tidak mau menyerahkan hasil kebun anggur itu kepada sang tuan pemilik.

Saat ada para utusan datang menagih hasil kebun anggur, para penggarap malah menangkap, memukuli, melempari batu dan membunuh para utusan itu. Bahkan anak tunggal yang menjadi ahli waris pun dibunuh.

Ketamakan (bahasa Latin: avaritia) adalah keinginan tak terkendali atas materi atau harta duniawi. Dalam Kitab Suci tertulis bahwa orang yang tamak tidak pernah memiliki uang yang cukup dan tidak pernah penghasilannya terpuaskan (Pengkhotbah 5:9).

Santo Paulus mengatakan bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan dan menyebabkan seseorang dapat menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya sendiri (1 Tim 6:10). Hal ini mau menegaskan betapa seriusnya bahaya dosa pokok ketamakan ini.

Orang seringkali tergiur akan harta dan mengira bahwa harta akan mampu membuat kita bahagia. Kita lupa bahwa pada hakekatnya apapun yang kita punya bukanlah milik kita sendiri. Tetapi Tuhanlah sesungguhnya Sang Pemilik. Kita hanya diitipi. Dalam hal ini, kita bisa belajar dari sikap Ayub atas harta kekayaan.

Harta yang ditimbun hanya untuk kepentingan pribadi akan sia-sia. Harta perlu disalurkan untuk menolong sesama yang membutuhkan. Berbagi itu membahagiakan. Jangan sampai kita diperbudak oleh ketamakan akan harta.

Hari Jumat ini kita menjalani pantang. Pantang kita juga perlu berdimensi sosial. Berpantang tanpa disertai doa itu namanya diet. Berpantang tanpa disertai derma itu namanya pelit.

Pertanyaan refleksinya, apakah kita pernah dikuasai ketamakan dalam hidup ini? Bagaimana sikap kita terhadap harta kekayaan (uang, kendaraan, bakat atau talenta) yang dimiliki?

Hati Yesus yang Mahakudus, kasihanilah kami.

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr