Sabtu, 12 September 2026
Bacaan Injil : Luk 6:43-49
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Dalam bacaan Injil hari ini disampaikan pitutur atau wejangan Tuhan Yesus agar kita bijaksana dalam berkata-kata dan bertindak. Kebijaksanaan itu diwujudkan dengan perkataan dan tindakan kita.
Yesus mengajak kita untuk senantiasa memperhatikan kebersihan atau kesucian hati kita dengan mendengarkan sabda-Nya dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita menjadi pendengar, pembaca sekaligus pelaksana sabda Tuhan.
Orang lain mengetahui perbendaharaan atau isi hati kita melalui segala perkataan dan perbuatan kita. Tuhan Yesus mengungkapkan bahwa orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik, dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Mengapa? Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.
Tuhan Yesus menggambarkan hal itu dengan perumpamaan tentang pohon dan buah. Orang mengenal setiap pohon dari buahnya. Tidak ada pohon baik yang menghasilkan buah yang tidak baik. Dan sebaliknya, tidak ada pula pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.
Hari ini kita diingatkan untuk terus berusaha dan berani menyuarakan kebenaran, baik itu iman yang benar, berita yang benar, bukan malah menyebar fitnahan atau berita yang tidak benar (hoaks). Dalam hidup sehari-hari orang akan senang bergaul dengan orang yang bisa dipercaya.
Berhati-hatilah dengan perkataan kita. Bijaksanalah menggunakan mulut kita. Antara hati dan mulut merupakan satu kesatuan. Apa yang tersimpan di dalam hati, bisa tampak dalam perkataan lewat mulut.
Di kota Roma ada salah satu gereja yang banyak dikunjungi peziarah. Nama gereja itu adalah gereja Santa Maria in Cosmedin. Di teras gereja itu ada patung La Bocca della Verità, yang artinya Mulut Kebenaran. Patung wajah “Mulut Kebenaran” ini dipasang di teras dinding gereja Santa Maria di jantung kota Roma sejak abad ke-17.
Bentuk La Bocca amat sederhana, yakni sebuah patung wajah yang dibuat dari marmer tebal dengan diameter sekitar 2 meter dan berbobot 1.300 Kg. Mulut ‘La Bocca’ terbuka lebar.
Menurut legenda Roma kuno, orang yang diragukan kebenaran omongannya, akan dibawa ke tempat ini. Dengan disaksikan banyak orang, dia diminta memasukan tangannya ke dalam mulut ‘La Bocca’. Bila ia berbohong, La Bocca akan menggigit tangannya.
Bukan tanpa alasan bahwa orang Roma Kuno sangat menghargai apa artinya sebuah kebenaran. Mengapa? Kehormatan dan harkat seseorang pertama-tama tidak ditentukan oleh penampilan, harta, kepandaian atau apapun. Tetapi ditentukan kebenaran yang keluar dari mulutnya. Bila orang sudah tidak bisa dipercaya lagi, tamatlah riwayatnya. Dalam banyak aspek kehidupan, kebenaran memegang peranan penting.
Hal ini sejalan dengan pitutur atau wejangan nenek moyang kita. Dikatakan, “Ajining dhiri gumantung saka ing lathi.” Artinya, kehormatan diri kita tergantung dari ucapan kita. Berucap pada zaman modern ini tidak hanya dengan lisan (mulut) kita. Tetapi sekarang jari-jari (driji) kita pun lincah menebar kata-kata. Apapun yang kita ketik, kadang menggambarkan diri kita.
Dengan demikian, ungkapannya menjadi “Ajining dhiri gumantung saka ing lathi lan driji”. Kehormatan diri kita akan tampak dari apa yang kita sampaikan melalui mulut dan tangan kita. Setiap kata yang kita ucapkan, setiap huruf yang kita tulis, mengandung makna yang harus kita pertanggungjawabkan kebenarannya.
Pertanyaan refleksinya, Sejauh mana kita bertuturkata dan bertindak sesuai dengan suara hati kita selama ini? Risiko apa yang pernah kita alami saat menyuarakan kebenaran?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









