Solidaritas: Buah Perjumpaan Antara Keheningan dan Realitas

Twitter
WhatsApp
Email

Delapan tahun dipercaya menjadi Vikep (1 Juni 2018 -7 Oktober 2020; 7 Oktober 2020 – Juli 2026) di Yogyakarta bagi saya merupakan kesempatan berahmat. Berahmat karena  dalam keheningan saya mencoba  mencari dan menemukan kehendak Allah dalam tugas perutusan ini.

Awal saya menerima perutusan sebagai vikep bukan sebuah kegembiraan atau kebanggaan. Awal  menerima tugas perutusan ini saya merasa berat karena saya merasa tidak mampu. Dalam penerimaan tugas perutusan ini saya butuh waktu untuk berproses. Saya merasa berat karena saya seakan-akan pekerja untuk tugas ini. Saya menjadi pekerja, harus bisa ini itu, sementara saya sadar bahwa saya penuh dengan keterbatasan dan kemampuan. Intinya, awal menjalani tugas ini saya stress. Saya stress karena saya lupa bahwa saya hanyalah rekan kerja atau kolaborator Allah. Allahlah yang bekerja, saya hanyalah rekan kerja Allah.

Bertolak dari kesadaran ini saya terus berproses untuk berserah, namun tidak menyerah. Tuhan yang mengutus saya, pasti akan menyertai dan mendampingi karya perutusan saya. Penyertaan Tuhan sungguh nyata. Penyertaan-Nya itu terwujud dalam diri teman-teman sekerja.Dewan harian Kevikepan, Ketua komisi, Rama paroki, karyawan Kevikepan, Ormas Katolik sungguh membantu karya perutusan say aini.

Tugas menantang yang saya alami adalah adanya pandemi covid 19 dan menyiapkan pemekaran Kevikepan Yogya. Pengalaman ketidakberdayaan sungguh saya alami. Dalam pengalaman ketidakberdayaan itu saya harus berbuat apa? Dalam keheningan dan berhadapan dengan realitas, ternyata menghasilkan buah solidaritas. Berkat bantuan teman-teman FMKI DIY kami membentuk komunitas Ketahanan Pangan dan Komunitas Jual Beli Online Kevikepan Yogya. Para Psikolog katolik siap membantu umat atau keluarga yang mengalami dampak pandemi secara psikologis. Paguyuban dokter  Katolik membantu umat untuk mendapatkan vaksinasi. Komunitas Doa Bersama secara online terbentuk untuk saling meneguhkan dalam ketidakberdayaan. Solidarias ini Adalah buah dari keheningan dalam perjumpaan dengan realitas.

Untuk semakin membantu dalam menulis refleksi ini, saya mencoba untuk menyusun dengan membuat pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

1.Bagaimana Kevikepan Yogyakarta setelah dimekarkan menjadi dua kevikepan?

Per 7 Oktober 2020, Kevikepan Jogja  resmi dimekarkan menjadi dua, Kevikepan Yogyakarta Barat dan Timur. Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada Panitia Ad Hok pemekaran Kevikepan Jogja. Selama hampir sepuluh bulan (terhitung dari bulan April 2019 – Februari 2020) panitia ad hok bekerja keras untuk mempersiapkan pemekaran kevikepan ini. Panitia ad hok mencoba melihat dan mencermati dari berbagai macam segi (sejarah, social budaya, politik, hukum Gereja dll) dan menggunakan data umat Katolik yang ada di DIY sebagai pertimbangan untuk mengambil keputusan.

Harapannya setelah dimekarkan, efektifitas dan efisiensi dalam pelayanan pastoral sungguh bisa dirasakan. Yang semula mengampu 37 paroki, kini tinggal mengampu 19 paroki, dua paroki Administratif, dan dua stasi. Demikian juga dengan keterlibatan umat; dengan dimekarkannya kevikepan DIY menjadi dua, makin banyak Rama dan umat yang terlibat atau ambil bagian dalam reksa pastoral di kevikepan.

2.Kevikepan Jogja Timur lahir dalam situasi Pandemi

Dalam masa pandemic karena covid 19 Kevikepan Jogja Barat dan Timur lahir. Bagi saya,  ini adalah situasi sulit yang sungguh menantang. Dalam situasi yang sulit namun menantang ini, saya tidak sendirian. Saya mempunyai keyakinan bahwa banyak Yusup-Yusup dan Elisabeth-Elisabeth yang dalam keheningan siap bergerak untuk menanggapi situasi yang ada. Bagi kami masa sulit karena covid menjadi kesempatan berahmat untuk menghadirkan wajah Allah yang penuh belas kasih.

Dalam masa pandemi covid 19 ini, dikala begitu banyak warga masyarakat yang berdampak, keterlibatan umat di tingkat paroki dan lingkungan  semakin tampak nyata. Gerakan solidaritas social tumbuh berkembang hampir di segala lini.

Di Kevikepan DIY (sbelum dimekarkan) tumbuh Gerakan ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi (JOLALI). Setelah Kevikepan DIY dimekarkan muncul gerakan baru sebagai wujud kepedulian dan kepekaan (sense of crisis) untuk menangapi situasi. Pada bulan Januari 2021 muncul Panco (Peneguhan dan Pendampingan dari sisi medis bagi mereka yang terpapar virus corona 19. Tim ini terdiri dari para dokter dan para penyintas covid 19. Para dokter siap memberikan pencerahan bagi keluarga atau para pasien yang terpapar covid 19. Harapannya para keluarga Katolik dan mereka yang terpapar covid 19 mendapatkan informasi yang benar dan utuh dari para dokter berkaitan penanggulangan penyebaran covid 19 dan tindakan-tindakan medis yang harus mereka lakukan. Tim ini sangat efektif untuk memutus mata rantai berita-berita hoax berkaitan dengan obat medis yang harus dikonsumsi. Para pasien covid 19 dan keluarganya diberi keleluasaan untuk bertanya secara terbuka dan detail tentang covid 19 kepada para dokter yang sungguh kompeten. Jawaban para dokter sungguh mencerahkan bagi mereka.

Pada bulan Juni 2021 terbentuk Tim Pendamping Rohani Kevikepan Jogja Timur. Tim yang anggotanya para rama dan Suster serta awam ini mengadakan kegiatan doa peneguhan secara online. Doa peneguhan ini diadakan setiap malam pukul 20.30 wib. Yang mengikuti acara doa peneguhan ini tidak hanya umat Katolik yang ada di DIY, tetapi lintas Keuskupan, lintas kota dan pulau, bahkan lintas negara. Tim ini berlangsung sampai dengan tanggal 28 Agustus 2021. Untuk menjawab kerinduan umat yang kadhung tresna dengan doa peneguhan ini, maka Kevikepan tetap melanjutkan doa peneguhan iman setiap hari kamis dan minggu. Di bulan Oktober ini Tim doa peneguhan iman mengadakan doa Rosario bersama setiap malam.

Pada bulan Agustus 2021 dibentuk Tim Pendampingan Psikologis. Tim ini mendampingi secara privat umat atau keluarga yang terdampak secara psikologis karena wabah covid 19 ini.

Pada tanggal 15 Juli 2021 – 1 Oktober 2021 dibuka shelter Syantikara. Shelter ini diinisiasi oleh para Suster CB dan yayasan panti Rapih. Kevikepan Jogja Timur ikut ambil bagian dalam pengadaan akomodasi shelter ini. Karena wabah covid 19 sudah melandai, mereka yang isoman berkurang drastis, shelter Syantikara ini akhirnya ditutup per tanggal 1 Oktober 2021.

Gerakan ketahanan ekonomi yang semula JOLALI 1, 2 dan Gunung Kidul, kini gerakan ini berkembang, sehingga ada wag PJS (Persaudaraan Jogjapreuener Sehati) dan Bakule Kang Yusup. Gerekan ini, kecuali untuk mengembangkan ekonomi rumah tangga, mereka juga membangun semangat solidaritas social antar anggota.

Gerakan Kepedulian Allah Adalah Kasih. Gerakan ini diinisiasi oleh Komisi PK3 Kevikepan Jogja Timur. Programnya adalah pengadaan peti jenasah secara gratis bagi umat yang membutuhkan. Kecuali itu, bekerja sama dengan Kevikepan Jogja Barat mengadakan gerakan vaksinasi yang bertempat di paroki-paroki.

Pengalaman ketidakberdayaan karena wabah covid 19 tidak membuat kami lumpuh. Dalam situasi macam ini kami terus bergerak untuk menanggapi situasi. Kami diajak untuk berani keluar dari zona nyaman, masuk ke zona beresiko. Solidaritas Adalah buah keheningan dalam perjumpaan dengan realitas.

3.Apa yang harus dan terus dikembangkan.

Saya sadar, kevikepan tidak bisa bekerja sendirian. Kami harus berkolaborasi dengan banyak pihak. Maka sangat perlu terus dibangun kerjasama lintas komisi. Harapannya komisi-komisi yang ada siap jemput bola, terjun ke paroki-paroki untuk mengadakan pendampingan baik secara online maupun offline.

Kerja sama lintas iman dan kerja sama dengan lembaga-lembaga Perguruan Tinggi terus ditingkatkan.

Saya bersyukur Perguruan Tinggi Negeri (UGM) dan Perguruan Tinggi Katolik yang ada di Yogya  (UAJY)sangat terbuka untuk diajak berkolaborasi. Sesuai dengan disiplin ilmu yang kami butuhkan, mereka siap terlibat dalam gerak langkah Kevikepan.

Semoga karena bimbingan Roh Kudus, kami semakin tanggap dengan situasi yang ada. Semoga kegembiraan dan harapan. Duka dan kecemasan orang-orang zaman ini, juga menjadi kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan kita.

Kantor Kevikepan Jogja Timur berpindah.

Awal diutus menjadi Vikep Jogja, saya tidak bisa langsung bertempat tinggal di Kidul Loji. Saat saya masuk atap pastoran Kidul Loji direnov karena kayunya dimakan rayap. Saya memutuskan untuk tinggal di Komunitas pastoran Kalasan. Awal bulan Januari 2019 renovasi pastoran Kidul Loji rampung, saya mulai menetap di komunitas pastoran Kidul Loji.

Mengingat aula paroki Kidul Loji akan dibangun, akhirnya saya  memberanikan diri matur Bapak Uskup untuk memindahkan Kator Kevikepan Jogja Timur di Domus Pacis Puren paroki St. Yohanes Rasul Pringwulung. Saya memutuskan untuk matur kepada Bapak Uskup untuk memakai Wisma Domus Pacis Puren sebagai kantor Kevikepan Jogja Timur karena sudah tidak ada penghuninya.

Per 2 Oktober 2021 Wisma Domus Pacis Puren resmi menjadi kantor Kevikepan Jogja Timur. Bersamaan dengan itu, para Rama yang tinggal di pastoran Pringwulung, atas seizin Bapak Uskup bergabung di Wisma Domus Pacis menjadi satu komunitas sampai sekarang ini.

Dinamika Kevikepan Jogja Timur

Selama enam tahun menjadi Vikep Jogja Timur saya merasakan dinamika Kevikepan begitu dinamis. Saya mengucapkan terima kasih kepada Dewan Harian Kevikepan dan Komisi-komisi yang selalu membantu dan mendukung tugas-tugas penggembalaan saya. Terima kasih kepada Tim Supervisi Kevikepan yang selalu mempunyai Goal Setting dalam menjalankan supervisi ke paroki-paroki dan terus mengawal rekomendasi supervisi  sehingga membantu paroki-paroki dalam menjalankan tiga tata (tata penggembalaan, tata Kelola Administrasi, dan tata Kelola harta benda).

Kerja komisi dengan cara jemput bola, hadir ke paroki-paroki untuk memberikan pendampingan menjadi pilihan kita untuk menggerakkan paroki sebagai pusat pelayanan pastoral. Kevikepan sebagai penggerak pelayanan -lewat komisi-komisi- berjalan cukup baik.

Kecuali dinamika komisi, Kevikepan Jogja Timur berjejaring dengan Lembaga-lembaga karya lainnya seperti UAJY jurusan Teknologi Pangan dan BRI Cabang DIY dalam pendampingan kepada para pelaku usaha Katolik yang tergabung dalam komunitas JOLALI, Keluarga PJS dan pasare kang Jusup. Bentuk kerja sama ini diharapkan terus berlanjut.

Mengawal ARDAS IX

Kevikepan Jogja Timur mengambil kebijakan bahwa Tim Programasi Kevikepan dan paroki masa pelayanannya selama 5 tahun. Hal ini dirasa penting mengingat keberlangusngan program ARDAS  yang terus berkesinambungan harus dikawal.

Kevikepan Jogja Timur juga sudah membentuk TOT ARDAS 2026-2030. Tugas tim ini Adalah membuat bahan-bahan untuk sosialisasi dan konsientisasi ARDAS IX. Sesuai dengan Butir Fokus Pastoral 2026, TOT ARDAS IX telah membuat baselines ARDAS dan mensosialisasikan ke paroki-paroki. Rencananya di bulan Agustus TOT ARDAS IX Kevikepan Jogja Timur akan mengadakan kunjungan ke paroki-paroki.

Demikian refleksi dan laporan yang saya buat untuk menjadi bahan timbang terima dengan Rama Vikep yang baru.

Akhirnya saya mengutip Injil Lukas 17:10,

“Demikian jugalah  kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: kami Adalah hamba yang tidak berguna; kami hanhya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

 

Berkah Dalem.

Andrianus Maradiyo