Open House Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan, Romo Rektor: “Tidak Ada Panggilan Tanpa Cinta”

Twitter
WhatsApp
Email

PAROKI MACANAN – Ratusan anak PIA dan PIR dari berbagai paroki di Keuskupan Agung Semarang menghadiri Open House yang diselenggarakan oleh Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan – Magelang, Minggu, 19 April 2026.

Rektor Seminari, Vincentius Istanto Pramuja, SJ – dalam sambutannya di pembukaan open house mengatakan, tujuan open house adalah mengajak orang muda untuk mengenal dan kemudian tertarik masuk seminari. “Tidak ada panggilan tanpa cinta,” tuturnya.

Romo Rektor Seminari, Romo Vincentius Istanto Pramuja SJ, saat diwawancarai Komsos Macanan

Acara open house ini merupakan acara tahunan Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan dalam rangka memperingati pesta nama St. Petrus Canisius setiap tanggal 27 April. Petrus Canisius menaruh perhatian besar pada pendidikan calon-calon imam dan mendirikan seminari-seminari.

Seminari Menengah Santo Petrus Canisius, yang populer dikenal dengan nama Seminari Mertoyudan, adalah sebuah rumah formatio para calon imam. Ini adalah tempat pendidikan dan pembentukan diri para calon imam yang didirikan sejak tahun 1912 di Muntilan oleh Romo Van Lith SJ dan Romo Mertens SJ dengan nama pelindung Santo Petrus Canisius.

PIA dan PIR salah satu paroki (Macanan) di Keuskupan Agung Semarang yang ikut hadir dalam acara Open House

Di seminari tidak hanya dikembangkan aspek kognitif tapi juga aspek afektif, bagaimana nilai-nilai menghargai orang lain dan nilai kedisiplinan. Ada pelajaran khusus yang diterima oleh calon imam, yaitu pelajaran Kitab Suci dan bahasa Latin. Tidak mungkin menjadi imam jika tidak pernah belajar Kitab Suci. Salah satu pendidikan yang integral adalah mengembangkan humaniora. Untuk mengembangkan humaniora, seminaris dilatih untuk bisa mengolah rasa keindahan melalui musik.

Romo Rektor Seminari, Romo Vincentius Istanto Pramuja, SJ – dalam wawancaranya mengatakan, “Kami ini ada 3 S, yakni Sanctitas (Kesucian), Scientia (Pengetahuan), dan Sanitas (Kesehatan). Kekuatan rohani itu harus ada. Menjadi imam itu menjadi guru rohani. Untuk menjadi guru rohani harus mendalami doa, bacaan rohani, ekaristi, devosi, sakramen, perayaan sakramen. Ini yang harus kuat.”

“Kalau itu tidak dibiasakan, tidak mungkin terjadi yang namanya kesucian itu. Maka dari itu latihan terus menerus itu harus diingatkan. Orang yang suci tapi tidak bisa kerja tidak ada gunanya. Karena itu harus sehat supaya bisa diutus, seperti bisa mengajar, bisa pelayanan sakramen. Karena itu, penting sarana kesehatan harus dilengkapi.”

Penampilan orkestra musik oleh para seminaris

“Sedang Scientia itu pengetahuan. Pentingnya membekali dengan kecakapan terus menerus, mau belajar, mau membuka diri terhadap perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan. Tantangan terbesarnya adalah kemalasan membaca. Maka kami membatasi media sosial, supaya tidak sibuk bermedia sosial, tetapi sibuk membaca pengetahuan. Jadi mengembangkan diri harus kuat, “tambahnya.

Sementara Frater Clemens Deo Krisnatama, MSF – yang akrab dipanggil Frater Deo mengungkapkan kalau tinggal di asrama seminari itu menyenangkan. Di asrama sudah ada jadwal-jadwal. Ini dasar awal pembentukan karakter dan pengembangan diri.

Para Frater dan Suster yang ikut menyemarakkan acara Open House

Menanggapi anak-anak muda yang antusias dengan acara open house, terutama dengan stan-stan yang ada, Frater Deo berujar, “Banyak stan permainan (games) ini yang menyediakan adalah anak-anak seminari. Di sini saya diminta untuk mendampingi. Mari yang mau masuk seminari dan tertarik menanggapi panggilan Tuhan, mulai sekarang yang rajin belajar agar nanti bisa meraih cita-cita, “ajaknya.

Clementine Roesiani (Komsos Macanan)