PAROKI NANDAN – Semangat ensiklik Laudato Si’ diwujudkan secara konkret melalui Pelatihan Tata Hias Altar Bernafaskan Laudato Si’ yang digelar di Paroki Santo Alfonsus Nandan pada Sabtu, 28 Februari 2026. Kegiatan yang diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai lingkungan ini diselenggarakan sebagai upaya mengarahkan praktik tata hias altar agar lebih ramah lingkungan dan selaras dengan semangat pertobatan ekologis dalam ensiklik Laudato Si’.
Pelatihan merupakan kolaborasi antara Tim Tata Hias Altar dan Tim Pelayanan Kecintaan terhadap Lingkungan Hidup (KCLH) paroki. Kegiatan ini berangkat dari refleksi bersama atas penggunaan bahan dekorasi yang dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan prinsip ramah lingkungan, seperti oasis atau florafoam yang sulit terurai, bunga potong dengan biaya tinggi, serta dekorasi berlebihan.

Acara dibuka oleh Sekretaris Dewan Pelayanan Pastoral Paroki, Pambuka Vita Adi, yang menyampaikan pesan dari Romo Paroki, Romo Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, Pr. Dalam sambutannya ditegaskan bahwa para penghias altar memiliki peran penting dalam mendukung perayaan Ekaristi. “Menghias altar bukan hanya soal estetika, tetapi juga wujud iman dan pertobatan ekologis. Sentuhan keindahan yang dihadirkan hendaknya mencerminkan tanggung jawab kita merawat bumi sebagai rumah bersama,” demikian pesan yang disampaikan.

Ketua Tim Tata Hias Altar, Yosep Winada, menjelaskan bahwa konsep tata hias altar Laudato Si’ diwujudkan dengan mengganti bunga potong dan florafoam menggunakan tanaman hias hidup dalam pot. Tanaman tersebut dapat berasal dari koleksi umat yang dipersembahkan dan didoakan dalam misa, kemudian dirawat kembali setelah digunakan. “Dengan model ini, kita tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga lebih hemat. Selama ini satu kali menghias altar bisa menghabiskan dana minimal Rp500 ribu per lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan tanaman hidup membantu mengurangi dampak pencemaran tanah akibat pupuk dan bahan kimia dari produksi bunga potong. Selain itu, kreativitas dalam memanfaatkan bahan alami seperti batang kayu, keranjang bambu (kreneng), dan cocopeat tetap mampu menghadirkan keindahan yang selaras dengan suasana liturgi.

Sementara itu, Fransiska Retno Widudatwati dari Tim KCLH menuturkan bahwa seluruh sisa bahan hiasan akan diolah menjadi pupuk organik. “Tidak ada limbah yang terbuang sia-sia. Dedaunan di area paroki dapat dimanfaatkan menjadi pupuk dan ekoenzim untuk menyuburkan tanaman hias,” katanya. Menurutnya, kondisi lingkungan paroki yang masih hijau dan rindang menjadi potensi besar untuk mendukung gerakan ramah lingkungan secara berkelanjutan.

Dalam sesi praktik, peserta menyaksikan demonstrasi penataan altar dengan aneka tanaman pot yang dipadukan secara harmonis. Penataan dilakukan dengan memperhatikan alur liturgi, komposisi warna, serta kesederhanaan yang tetap anggun. Sejumlah peserta menyatakan siap menerapkan model tersebut di lingkungan masing-masing karena dinilai lebih hemat, edukatif, dan sejalan dengan panggilan merawat ciptaan.
Kianto Atmodjo dari Tim Laudato Si’ Kevikepan Yogyakarta Timur, mengapresiasi langkah perubahan ini. Ia menilai umat secara tidak langsung memperhatikan tata hias altar setiap misa. “Ketika altar mencerminkan semangat merawat bumi, umat akan merasa bersyukur dan terinspirasi, meski tanpa kemewahan bunga potong,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, Paroki Santo Alfonsus Nandan menunjukkan bahwa gerakan Laudato Si’ tidak berhenti pada wacana, tetapi diterapkan dalam praktik liturgi sehari-hari. Perubahan pola tata hias altar menjadi bagian dari transformasi perilaku dari sikap konsumtif menuju gaya hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan, dengan komitmen bersama untuk terus belajar dan saling mendukung.








