Gedangan – Komisi Karya Misioner (KKM) Kevikepan Semarang mengadakan Rekoleksi dan Upgrading Pendamping PIA-PIR Rayon Barut pada hari Minggu, 22 Februari 2026 di Gereja Santo Yusup Gedangan. Hal ini menjadi pengalaman yang menyegarkan sekaligus meneguhkan kembali makna pelayanan sebagai pendamping anak dan remaja. Sejak awal kegiatan, suasana terasa hangat dan penuh kebersamaan. Melalui salam sapa, doa, dan animasi, peserta diajak untuk benar-benar hadir dan membuka diri mengikuti seluruh proses hari itu.
Dalam sambutan yang disampaikan oleh Pak Andrian (wakil dewan Gereja Gedangan), ditekankan bahwa perbedaan generasi dan perubahan zaman sangat mempengaruhi cara pendampingan. Anak dan remaja masa kini tumbuh dalam situasi yang berbeda, sehingga pendekatan pelayanan juga perlu menyesuaikan. Pesan ini sederhana tetapi kuat: pendamping perlu terus belajar memahami dunia anak sekarang, bukan hanya mengandalkan cara lama. Penguatan ini juga dilengkapi oleh kehadiran Suster Elena, SDP selaku Ketua KKM Kevikepan Semarang yang menegaskan pentingnya kesadaran panggilan dan ketulusan dalam pelayanan.

Sesi materi public speaking bersama Kak Mumu memberi pemahaman bahwa berbicara di depan anak bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi membangun komunikasi yang hidup. Cara berbicara, ekspresi, intonasi, dan kemampuan membaca respons anak sangat menentukan apakah pesan benar-benar sampai. Komunikasi yang baik membuat pendampingan terasa lebih dekat, menarik, dan mudah dipahami.

Pemahaman ini diperdalam melalui materi perkembangan dan kebutuhan anak sesuai usia yang dibawakan oleh Kak Gaby. Pendamping diajak menyadari bahwa setiap tahap usia memiliki cara berpikir dan kebutuhan yang berbeda, sehingga pendekatan tidak bisa disamaratakan.

Materi terakhir dari Kak Tiara berfokus pada penyusunan pembelajaran yang terarah dan terencana. Peserta dibagi dalam kelompok untuk berdiskusi dan menyusun silabus pendampingan dari bulan Maret sampai Juli. Setelah proses diskusi selesai, setiap kelompok memaparkan hasil rencana mereka. Kegiatan ini membantu peserta melihat pentingnya perencanaan yang jelas sekaligus belajar dari ide dan pendekatan kelompok lain.
Secara keseluruhan, kegiatan ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperbarui kesadaran bahwa menjadi pendamping berarti terus bertumbuh: memahami generasi, memperbaiki cara berkomunikasi, dan menghadirkan pelayanan yang relevan. Rekoleksi ini meninggalkan rasa syukur sekaligus komitmen untuk mendampingi anak dan remaja dengan lebih peka, kreatif, dan sepenuh hati.