Atmodirono – Di tengah kehidupan yang semakin hiruk pikuk, keheningan menjadi ruang penting bagi umat untuk berjumpa dengan Tuhan. Semangat inilah yang dihidupi oleh komunitas Meditasi Kristiani (MK) di Kota Semarang. Hal tersebut disampaikan oleh Romo Aloysius Lioe Fut Khin, MSF dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Meditasi Kristiani Semarang yang digelar di Gereja Keluarga Kudus Atmodirono, Jumat (27/2/2025).

Menurut Romo Fut Khin yang juga pendamping MK Paroki Atmodirono, meditasi kristiani mengajak umat untuk belajar hening dalam doa. Dalam keheningan itu, seseorang dapat lebih peka mendengarkan Sabda Tuhan.
“Dalam diam itulah kita belajar mendengarkan Sabda Tuhan. Keheningan ini hendaknya dibiasakan, misalnya pada pagi dan sore hari. Orang yang terbiasa meditasi akan lebih peka mendengarkan apa yang dikatakan maupun yang tidak dikatakan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa MK bukanlah kelompok eksklusif. Seperti kelompok kategorial lainnya di Gereja, siapa pun dapat bergabung dan mengikutinya. Bahkan, komunitas ini dapat tumbuh di berbagai tempat.
Perayaan HUT ke-18 MK Semarang ditandai dengan peniupan lilin dan pemotongan kue oleh Romo Fut Khin bersama Suster Anna Marie PI, Bruder Bayu CSA, serta Koordinator MK Semarang, Ratna.

Acara tersebut diikuti sebanyak 124 umat dari berbagai komunitas MK di Kevikepan Semarang, antara lain dari Sendangguwo, Banyumanik, Sambiroto, Karangpanas, Kebon Dalem, Katedral, Bongsari, Materdei, Atmodirono, Candi Baru, Ungaran, hingga Kudus. Perayaan juga dimeriahkan dengan berbagai permainan yang melibatkan seluruh peserta.
Secara historis, Meditasi Kristiani mulai masuk ke Indonesia pada tahun 2003 dengan dukungan komunitas MK Singapura. Komunitas ini kemudian diperkenalkan kepada umat di Semarang pada 19 Februari 2008.
Saat ini MK Semarang dikoordinasi oleh Ratna dengan moderator Suster Anna Marie PI, sementara moderator MK Kevikepan Semarang adalah Bruder Bayu CSA.

Dalam kesempatan tersebut, Suster Anna Marie juga membagikan refleksi perjalanan rohaninya yang ia bagi dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah pemurnian, yakni masa awal kerinduan jiwa untuk mendekat kepada Tuhan.
“Tahap kedua adalah api pencerahan, di mana jiwa bertumbuh dan diberi rahmat untuk meneladan Yesus serta menuju iman dan harapan,” jelasnya.
Adapun tahap ketiga adalah kesatuan, yaitu ketika seseorang mampu berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan dan semakin bebas dari keterikatan duniawi.
“Dalam meditasi kita diajak bertekun mengalahkan ego,” tambahnya.
Menutup acara, Koordinator MK Semarang Ratna berharap komunitas ini semakin berkembang dan membantu umat memperdalam doa meditasi.
Ia mengajak umat untuk membiasakan diri bermeditasi dengan duduk diam dan hening bersama Tuhan tanpa kata-kata. Informasi lebih lanjut mengenai Meditasi Kristiani dapat diperoleh dengan menghubungi Ratna di nomor 08122880608. (Intan/Elwin)