Paroki Macanan – Minggu, 29 Maret 2026, ratusan umat Gereja Santo Yohanes Pembaptis Payak merayakan Minggu Palma. Peringatan yang didahului perarakan dari pendopo kelurahan menuju gereja ini demikian meriah. Umat diajak mengenang kembali saat Yesus memasuki Kota Yerusalem dan disambut warga kota dengan melambai-lambaikan daun palma. Seperti Yesus disambut di Yerusalem, demikian pula umat Gereja Santo Yohanes Pembaptis Payak terlihat antusias mengikuti jalannya perarakan sambil bernyanyi dan melambai-lambaikan daun palma di tangan.

“Ada dua makna Yerusalem. Yerusalem itu melambangkan dua dimensi orang beriman. Yang pertama, kota Yerusalem sebagai kota shalom, sebagai kota damai. Maka kita diajak untuk mengenali sebagian dari diri kita adalah cinta damai. Tetapi ada dari sebagian diri kita juga seperti Yerusalem, yang dimensi maknanya sebagai Yerusalem kota zalim. Hati kita tidak hanya berisi kebaikan, tetapi juga kejahatan, “tutur Romo Yustinus Joko Wahyu Yuniarto.
“Maka selama perarakan, semoga cuaca panas ini tidak mengganggu otak kita untuk tetap berpikir. Kita yang memperagakan orang Yerusalem yang mengelu-elukan Kristus, pada suatu kali kita juga yang akan nyingkur Sang Kristus. Kita tak bisa mengatakan yang nyingkur Dia adalah orang-orang yang beragama lain. Yang bisa nyingkur Kristus itu yang percaya pada-Nya. Yang bisa nyingkur itu adalah diri kita yang sudah menerima-Nya.”

Dalam homilinya yang disampaikan di dalam gereja, Romo Yustinus mengambil nama Pilatus dan Yudas. Sikap kedua orang ini patut dipertimbangkan sebagai contoh hidup kita setahun ke depan.
“Untuk memahami peristiwa jalan wafatnya Yesus, maka kita memikirkan rumusan bahwa Yesus Kristus itu adalah “Man of Mission”. Tuhan Yesus adalah Manusia Misi. Sebagai manusia yang punya misi, maka Tuhan Yesus itu mengupayakan supaya yang Dia lakukan berdampak dan memberi kesaksian. Dia ingin mengajar orang-orang yang ada di sekitarnya.”
“Berbicara tentang Yudas, dosa Yudas adalah dia tidak mau bertobat. Karena sudah menjual Tuhan, Yudas merasa malu. Dia kemudian menjauh dari Tuhan kemudian menggantung diri. Yudas tipe orang kalau ada masalah senang menarik diri, bersembunyi. Kalau ada persoalan malah menjauh. Dia tidak akan ketolongan.”

“Sedangkan nama Pilatus, dia mudah dihasut. Ada adagium ‘Vox Populi Vox Dei’ ,yang berarti ‘suara terbanyak (rakyat) adalah suara Tuhan’. Suara terbanyak dianggap benar. Jadi ketika banyak orang berteriak ‘salibkan Dia’, Pilatus adalah contoh pemimpin buruk bahwa persoalan Yesus yang hendak disalibkan bukan urusannya. Tanpa kita sadari, dalam kehidupan nyata, kita sering bertindak seperti Yudas dan Pilatus, “tutur Romo mengakhiri homilinya.
(Clementine Roesiani)








