Pertemuan Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KKPKC) se-Keuskupan Agung Semarang (KAS) digelar di Wisma Syantikara, Yogyakarta, selama dua hari pada 24–25 Januari 2026. Kegiatan bertema “Merawat Sesama Ciptaan, Mewujudkan Iman” ini diikuti 65 peserta dari perwakilan Kevikepan Semarang, Surakarta, Kedu, Yogyakarta Barat, dan Yogyakarta Timur sebagai penyelenggara.
Pertemuan ini membahas penguatan komitmen Gereja dalam merespons krisis lingkungan hidup yang semakin nyata, mulai dari perubahan iklim, pencemaran, penurunan kualitas air dan udara, hingga kerusakan ekosistem. Selain itu, forum juga diarahkan untuk memperkuat implementasi nilai-nilai Ensiklik Laudato Si’ dalam program dan advokasi di tingkat kevikepan, yang diturunkan hingga paroki.

Dalam sesi paparan program kegiatan Laudato Si’ di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pemateri Patricius Kianto Atmodjo menekankan pentingnya membangun relasi yang harmonis dengan alam sebagai bagian dari penghayatan iman. “Kita punya visi menjadi komunitas beriman, hidup harmoni dengan alam. Bukan mendominasi,” ujarnya. Ia menjelaskan konsep ekologi yang menempatkan setiap ciptaan pada fungsi dan perannya masing-masing. “Tidak ada yang dominan, enggak ada yang inferior, enggak ada yang superior. Semuanya ada tempatnya, semua ada posisinya,” kata Patricius.

Materi berikutnya disampaikan Kusno, praktisi pertanian dan pengolahan pangan dari Paroki Wonosari, Gunungkidul, yang membagikan praktik ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Ia mencontohkan pemanfaatan koro pedang yang selama ini kurang dikenal, namun dapat dikembangkan menjadi bahan pangan dan produk olahan bernilai ekonomi. “Koro pedang ini barang yang tinggalan dari nenek-moyang kita. Sebenarnya ini sudah lama, terlupakan,” ungkapnya.
Kusno menjelaskan, pengembangan koro pedang dilakukan bersama warga di lingkungan paroki, termasuk ibu-ibu dan petani yang menanam serta mengolah hasilnya. “Di gereja kami… ibu-ibu dan para petani sudah menanam ini, lalu kami lakukan pengolahan,” ujarnya. Menurutnya, proses produksi juga membuka ruang pemberdayaan warga sekitar. “Saya butuh tenaga tetangga untuk bantu ngupas, bantu motong. Jadi tetangga ikut terlibat dalam proses produksi,” katanya.
Selain koro pedang, ia juga mencontohkan pengolahan limbah menjadi produk pangan. “Gedebok pisang pun saya olah menjadi keripik gedebok pisang… kita memanfaatkan limbah untuk menjadi makanan,” ucapnya. Ia menyebut, pendekatan ini tidak hanya berdampak pada pengurangan sampah, tetapi juga memberi peluang ekonomi berbasis komunitas.

Pembahasan ekonomi berkelanjutan dilanjutkan oleh Dr. Sri Susilo, M.Si, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang mengangkat tema ekonomi sirkular, gaya hidup Laudato Si’, dan Paroki Hijau. Ia menjelaskan bahwa ekonomi sirkular menekankan aktivitas nyata yang memberi nilai tambah dari sumber daya yang sebelumnya dianggap tidak berguna. “Tujuannya adalah bagaimana kegiatan ini menjadikan nilai sampah menjadi nilai tambah yang lebih besar,” katanya.
Ia menegaskan praktik 3R—reduce, reuse, recycle—menjadi bagian penting dari gaya hidup yang dapat diterapkan dalam komunitas paroki. “Yang penting sebenarnya… ada 3R. Yang pertama adalah reduce… reuse… recycle,” ujarnya. Ia mencontohkan perubahan kebiasaan sederhana seperti membawa tas pakai ulang untuk memperpanjang siklus penggunaan produk sehingga sampah berkurang.

Dalam sesi pengenalan Unit Pengembangan Pastoral (UPP) Kemasyarakatan dan Advokasi KAS, Romo Andreas Sulardi, Pr menyampaikan bahwa UPP berperan memberi kajian dan pertimbangan strategi pastoral, termasuk advokasi kebijakan publik. “Tujuannya UPP… membantu gereja makin relevan dan signifikan di tengah masyarakat,” katanya. Ia menyebut UPP memiliki empat fokus, yakni aktualisasi Gereja yang relevan, advokasi kebijakan publik, kaderisasi partisipasi kaum awam, serta pembacaan konteks pastoral sebagai bahan pertimbangan bagi pimpinan keuskupan.

Paparan tentang jejaring pelayanan kemanusiaan disampaikan Romo Bernadus Himawan, Pr terkait program KARINA KAS. Ia menjelaskan KARINA terhubung dalam jaringan karitas dari tingkat internasional hingga lokal, serta berakar pada prinsip ajaran sosial Gereja. “Nilai-nilai karitas ini berkomitmen untuk berakar kuat pada prinsip-prinsip dan ajaran sosial gereja: martabat manusia, solidaritas, subsidiaritas, dan pengelolaan yang bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa keutuhan ciptaan tidak dapat dipisahkan dari kesiapsiagaan bencana, karena kerusakan lingkungan dapat memicu dampak berantai bagi masyarakat. “Alam itu diciptakan bukan untuk kita eksploitasi, tetapi kita dipanggil untuk punya tanggung jawab yang jelas,” katanya. Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan, mitigasi, dan kolaborasi lintas pihak agar penanganan bencana tidak hanya bersifat reaktif. “Tanggap bencana itu harus sesuai dengan siklusnya. Tidak hanya bergerak ketika ada bencana,” ujarnya.

Ketua KKPKC KAS Romo Adolfus Suratmo Atmomartaya, Pr menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan agenda rutin yang digelar dua kali setiap tahun, yakni pada awal dan akhir tahun, dengan fokus tema yang disesuaikan kebutuhan. “Tiap tahun dua kali. Awal dan akhir tahun,” katanya saat ditemui di sela kegiatan.
Ia menambahkan, tema Paroki Hijau dipilih sebagai bagian dari upaya memperkuat gerakan ekologis integral di paroki. Romo Suratmo juga menyoroti pentingnya regenerasi dan pelibatan kaum muda dalam karya KKPKC, terutama di wilayah yang selama ini masih didominasi kader senior. “Kerinduan saya… dilengkapi dengan potensi sumber daya yang semakin muda, semakin energik,” ujarnya.
Menurutnya, mandat KKPKC tidak hanya mencakup isu keutuhan ciptaan, tetapi juga persoalan sosial kemasyarakatan yang lebih luas. “Karya KPKC itu tidak hanya keutuhan ciptaan… ada intoleransi, kekerasan dalam rumah tangga, narkoba, HIV, ini juga mandat isu yang harus disentuh,” kata Rm. Suratmo. Ia menegaskan perlunya menjaga keseimbangan agar pelayanan komisi tetap menyentuh keadilan, perdamaian, dan lingkungan secara utuh.

Di akhir pertemuan, sejumlah peserta mengaku memperoleh perspektif baru bahwa merawat ciptaan dapat dimulai dari hal sederhana di lingkungan paroki dan keluarga. Dari praktik pengolahan pangan berbasis kearifan lokal hingga kebiasaan mengurangi sampah, peserta menilai gerakan ekologis integral bisa menjadi ruang keterlibatan umat lintas usia, sekaligus memperkuat solidaritas di tengah masyarakat.








