Penuh Makna Kesederhanaan: Gerobak dalam Perarakan Minggu Palma di Paroki Sendangguwo

Twitter
WhatsApp
Email
Perayaan Ekaristi Minggu Palma di Paroki Santo Paulus Sendangguwo pada hari ini, Minggu (29/3), berlangsung khidmat dan meninggalkan kesan mendalam bagi umat.

Sendangguwo – Perayaan Ekaristi Minggu Palma di Paroki Santo Paulus Sendangguwo pada hari ini, Minggu (29/3), berlangsung khidmat dan meninggalkan kesan mendalam bagi umat. Perayaan yang menjadi gerbang pembuka Pekan Suci ini dipimpin langsung oleh Romo Brian Johnathan Laluyan, MSF.

Ada pemandangan yang berbeda dan menarik perhatian umat pada perarakan daun palma tahun ini. Jika pada tahun-tahun sebelumnya perarakan identik dengan gembala paroki yang menunggangi kuda, tahun ini sebuah gerobak sederhana dipilih sebagai kendaraan yang dinaiki oleh Romo.

Romo Brian mengikuti perarakan daun palma dengan menaiki gerobak

Perubahan dari kuda menjadi gerobak ini bukanlah tanpa alasan, melainkan membawa pesan teologis yang kuat. Gerobak dipilih untuk menunjukkan secara nyata kesederhanaan Kristus Sang Raja Semesta Alam. Sebagaimana Tuhan Yesus masuk ke Kota Yerusalem sebagai Raja Damai yang bersahaja, Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Simbol gerobak ini mengingatkan umat bahwa Yesus adalah Raja Damai, bukan raja duniawi yang memimpin peperangan. Melalui visualisasi ini, umat diajak untuk meneladani Kristus agar senantiasa hidup dalam damai dan kasih.

Pesan tentang kesederhanaan dan pelayanan ini semakin dipertajam melalui homili yang disampaikan oleh Romo Brian. Dalam renungannya, beliau menyoroti satu frasa penting dari bacaan Injil: “Tuhan memerlukannya”.

Romo Brian menjelaskan bahwa frasa tersebut adalah kata-kata ajaib yang menjadi bekal keberanian para murid ketika mengambil keledai sebagai tunggangan Yesus memasuki Kota Yerusalem. Lebih jauh, beliau mengajak umat untuk menjadikan kalimat tersebut sebagai jangkar dalam kehidupan sehari-hari.

“Kata-kata ‘Tuhan memerlukannya’ dapat menjadi motivasi kita dalam melayani. Kita bukan semata-mata melayani orang lain, tetapi karena Tuhan memerlukannya, kita memiliki alasan yang kuat untuk melayani-Nya melalui sesama,” terang Romo Brian dalam homilinya.

“Tuhan memerlukannya, Ia akan segera mengembalikannya kepadamu”, Romo Brian menekankan esensi dari sebuah pelayanan. Ia berpesan bahwa pelayanan yang dilakukan umat harus mampu membawa sukacita bagi diri sendiri. Sukacita tersebut tidak lahir karena banyaknya pujian atau pengakuan yang diterima dari manusia, melainkan dari kesadaran bahwa lewat pelayanan tersebut, ada banyak orang yang terbantu dan dituntun semakin dekat dengan keselamatan.

Perayaan Minggu Palma di Paroki Sendangguwo tahun ini tidak hanya menjadi pengingat akan sorak-sorai penyambutan Yesus di Yerusalem, tetapi juga menjadi retret singkat bagi umat untuk kembali menghidupi semangat kesederhanaan dan ketulusan dalam melayani sesama. (Cizka Nugrahani)