KOTA YOGYAKARTA – Pengurus Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) Kota Yogyakarta periode 2025–2029 resmi dikukuhkan oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo di Graha Bima Balai Kota Yogyakarta, Kamis (5/3/2026). Pengukuhan tersebut dihadiri jajaran Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, perwakilan Gereja Katolik, serta para pengurus LP3KD yang baru, sebagai bagian dari upaya memperkuat pembinaan seni liturgi dan kehidupan iman umat Katolik melalui kegiatan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani).

Ketua LP3KD Kota Yogyakarta Susanto Dwi Antoro menyampaikan bahwa kepengurusan periode 2025–2029 berjumlah 41 orang yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, DPRD, pegawai Pemerintah Kota Yogyakarta, tokoh masyarakat, hingga perwakilan umat dari tujuh paroki di Kota Yogyakarta. Menurutnya, komposisi tersebut mencerminkan sinergi antara pemerintah dan Gereja dalam mendukung pembinaan kehidupan iman umat Katolik.
“Kami matur nuwun atas pengukuhan ini. Kurang lebih selama satu tahun kami sudah berjalan, dan hari ini menjadi kesempatan bagi kami untuk semakin menata kerja-kerja organisasi agar lebih terstruktur dan terkomunikasi dengan baik,” ujar Susanto Dwi Antoro dalam sambutannya.

Dalam laporan kegiatan, Penyelenggara Katolik Kota Yogyakarta Veronika Tatik Trijati Ningsih menjelaskan bahwa Pesparani merupakan perayaan umat Katolik dalam bentuk pagelaran musik liturgi dan seni budaya gereja yang bertujuan memuliakan Tuhan sekaligus memperdalam penghayatan iman umat.
“Pesparani menjadi sarana untuk meneguhkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan liturgi Gereja Katolik, sekaligus meningkatkan kualitas nyanyian dan musik liturgi, serta menumbuhkan kecintaan umat terhadap Kitab Suci,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Pesparani di Kota Yogyakarta telah diselenggarakan sebanyak lima kali sejak tahun 2021 hingga 2025 dengan melibatkan umat Katolik dari tujuh paroki di Kota Yogyakarta. Kegiatan tersebut terus berkembang dari penyelenggaraan secara virtual pada masa pandemi hingga pelaksanaan secara langsung dengan berbagai kategori lomba, mulai dari paduan suara anak, mazmur, hingga tutur Kitab Suci.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo berharap pengurus LP3KD dapat menjalankan tugas organisasi secara tulus dan fokus pada pembinaan generasi muda melalui seni liturgi. Menurutnya, kegiatan seperti Pesparani memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda melalui penghayatan nilai-nilai iman.
“Bertutur tentang Kitab Suci tidak hanya sekadar kata-kata, tetapi harus dihayati sehingga dapat membentuk perilaku, karakter, dan pola pikir yang baik,” kata Hasto.

Sementara itu, Vikaris Episkopal Yogyakarta Timur Romo Andrianus Maradiyo, Pr mengajak pengurus LP3KD untuk memahami substansi Pesparani sebagai pelayanan iman yang berdampak luas bagi umat dan masyarakat. Ia menyebut pembinaan iman dapat dimaknai melalui tiga dimensi pelayanan, yakni pada altar salib Kristus, altar Gereja, dan altar dalam diri orang-orang miskin.
“Kalau tiga hal ini coba untuk kita bangun bersama-sama, saya berharap Pesparani Kota Yogyakarta akan membawa dampak, tidak hanya bagi umat tetapi juga bagi masyarakat di Kota Yogyakarta,” ujarnya.

Selain menjadi ruang pembinaan iman melalui seni liturgi, kegiatan Pesparani di Kota Yogyakarta juga melibatkan partisipasi umat dalam jumlah besar. Setiap penyelenggaraan kegiatan ini mampu menggerakkan sekitar 600 orang yang terdiri dari peserta, official, dan pendukung dari berbagai paroki. Keterlibatan tersebut tidak hanya memperkuat kehidupan liturgi Gereja, tetapi juga menumbuhkan semangat kebersamaan dan toleransi di tengah masyarakat Kota Yogyakarta.








