Paroki Nandan – Paroki Santo Alfonsus de Liguori Nandan menyelenggarakan Misa Hari Orang Sakit pada Minggu (15/1/2026) pagi. Ibadah yang berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 12.00 WIB ini dihadiri oleh sekitar 300 umat yang terdiri dari para lansia serta penyandang sakit kronis dari wilayah paroki maupun luar daerah.
Perayaan ekaristi ini dipimpin langsung oleh Pastor Paroki Nandan, Rm. Ag. Luhur Prihadi, Pr., didampingi oleh Rm. M. Supriyanto, Pr. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk nyata kepedulian Gereja dalam mendukung penguatan spiritual bagi umat yang tengah mengalami keterbatasan fisik serta sejalan dengan semangat ARDAS Keuskupan Agung Semarang IX.

Dalam homilinya, Rm. M. Supriyanto, Pr. menyoroti tema Hari Orang Sakit Sedunia ke-34, yakni “Belas Kasih Orang Samaria: Mengasihi dengan Menanggung Penderitaan Orang Lain.” Ia menekankan bahwa peran keluarga dalam merawat anggota yang sakit merupakan perwujudan nyata dari kasih yang diajarkan dalam Kitab Suci.
“Keluarga yang setia merawat orang tua atau anggota keluarganya yang sakit adalah gambaran nyata Orang Samaria yang Baik Hati. Menjadi tua dan sakit bukanlah kutukan, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang dapat diterima dengan iman dan harapan,” ujar Rm. Supriyanto di hadapan ratusan jemaat.
Suasana khidmat menyelimuti gereja saat memasuki prosesi Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Satu per satu umat yang hadir, termasuk mereka yang berada di atas kursi roda karena menderita stroke dan demensia, didoakan dan diurapi secara personal oleh para romo. Prosesi ini menjadi momen penguatan batin agar para penderita tetap merasakan penyertaan Tuhan dalam setiap pergumulan fisik mereka.

Aspek kemanusiaan terlihat menonjol melalui kesigapan Dewan Pelayanan Pastoral dan para relawan sejak awal acara. Petugas dengan cekatan membantu mobilisasi pengguna kursi roda mulai dari area parkir hingga posisi duduk di dalam gereja, memastikan setiap umat lansia mendapatkan kenyamanan selama prosesi liturgi berlangsung.
Setelah ibadah usai, panitia menyelenggarakan sesi ramah tamah sederhana yang diisi dengan hidangan bersama dan hiburan lagu rohani. Momen ini menjadi ruang temu bagi para lansia untuk berinteraksi dan melepas rindu dengan rekan sejawat yang jarang mereka temui karena keterbatasan mobilitas sehari-hari.

Beberapa anggota keluarga yang mendampingi menyampaikan apresiasi atas inisiatif paroki ini. Mereka berharap perhatian khusus terhadap kelompok rentan dapat terus konsisten dilaksanakan, sehingga Gereja benar-benar hadir sebagai institusi yang merangkul dan memberikan harapan bagi mereka yang berada di “pinggir jalan” kehidupan.
Penulis: (@tmo-Ndn)








