PAROKI NANDAN – Sekitar 1.200 umat Katolik memadati Gereja Santo Alfonsus Maria de Liguori, Nandan, Sleman, untuk mengikuti Perayaan Ekaristi Syukur Imlek 2577 pada Minggu (22/2/2026) pagi. Ibadah yang berlangsung khidmat ini menjadi istimewa karena memadukan tradisi budaya Tionghoa dalam liturgi gereja (inkulturasi), bertepatan dengan Hari Minggu Prapaskah I.
Perayaan ekaristi dipimpin oleh Selebran Utama Romo Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, Pr, didampingi oleh Romo Dandy Bastian, CSsR, dan Romo Oscar, SSCC. Meski berada dalam suasana masa tobat Prapaskah, gereja tampak didominasi oleh dekorasi dan busana umat berwarna merah sebagai simbol sukacita dan keberanian.
Romo Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, Pr dalam homilinya menyampaikan bahwa perayaan imlek dalam konteks kristiani merupakan simbol perjuangan mengalahkan godaan. Ia menekankan bahwa warna merah yang secara tradisional Tiongkok bermakna kebahagiaan, selaras dengan makna pengorbanan darah Kristus yang mengalahkan kuasa kegelapan.
“Kita diajak untuk berjuang mengalahkan segala macam godaan. Sebagaimana kue keranjang yang memiliki ciri khas lengket, semoga persaudaraan kita juga semakin dekat dan lengket. Namun, kita harus waspada jangan sampai kita justru ‘lengket’ dengan kenyamanan dan kebiasaan lama yang menjauhkan kita dari Tuhan,” ujar Romo Luhur di hadapan ribuan umat.
Ia juga menambahkan bahwa simbol-simbol Imlek seperti jeruk yang melambangkan kemuliaan dan hoki (anugerah) harus dimaknai sebagai berkat Allah. “Di tahun baru ini, kita memperbaharui hati lewat pertobatan dan pengorbanan diri, sebagaimana Kristus mengalahkan godaan dengan kuasa doa dan sabda,” lanjutnya.

Ketua Panitia Acara, Juliana Indah Kusuma Dewi, mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya Perayaan Ekaristi Syukur Imlek 2577. Menurutnya, inisiasi ini didorong penuh oleh Romo Paroki dan disambut hangat oleh seluruh elemen umat, baik warga keturunan Tionghoa maupun non-Tionghoa.
“Antusiasme umat luar biasa, yang hadir pastinya lebih dari 1.000 orang. Dukungan tidak hanya datang dari kalangan Tionghoa, tapi semua umat ikut meramaikan. Harapan kami, kegiatan ini membuat kita semakin guyub dan bisa bekerja sama dengan baik tanpa memandang latar belakang,” tutur Indah.

Nuansa human interest sangat terasa usai rangkaian ibadah selesai. Halaman parkir gereja berubah menjadi panggung rakyat saat tim Barongsai mulai beratraksi. Gelak tawa anak-anak dan orang tua menyatu saat melihat kelincahan barongsai, menciptakan momen kebersamaan yang hangat di tengah keberagaman suku dan budaya.
Melalui perayaan ini, Gereja Nandan menegaskan pesan bahwa perbedaan busana dan tradisi bukanlah penghalang, melainkan kekayaan iman yang mempersatukan. Perayaan ditutup dengan harapan agar sukacita Imlek membawa semangat baru bagi umat dalam menjalani masa Prapaskah dengan hati yang lebih bersih dan penuh kasih kepada sesama.








