Gereja TDGY Macanan Gelar Acara Pelatihan Kepemimpinan Sinodal dalam Pelayanan Paroki

Twitter
WhatsApp
Email

PAROKI MACANAN – Paroki Tyas Dalem Gusti Yesus (TDGY) Macanan menggelar acara “Pelatihan Kepemimpinan Sinodal dalam Pelayanan Paroki”, yang bertempat di Kapel Santo Lukas Prambanan pada hari Minggu, 22 Februari 2026. Acara ini menghadirkan narasumber Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang (Vikjen KAS) Romo FX. Sugiyana, Pr.

Pelatihan yang dihadiri oleh PGPM, DPPH, Anggota Tim Pelayanan, Ketua Wilayah, serta Ketua, Sekretaris dan Bendahara Lingkungan ini membahas tentang konsep kepemimpinan sinodal, bagaimana mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari paroki, dan bagaimana meningkatkan pelayanan paroki.

Vikjen KAS Romo FX. Sugiyana saat menjadi narasumber pelatihan kepemimpinan sinodal dalam pelayanan paroki

“Secara sederhana, sinodal ini pertama-tama wong gelem lungguh bareng. Tentu saja selain duduk bersama, telingapun juga dibuka. Karena walaupun duduk bersama, belum tentu saling mendengarkan. Kalau sekadar duduk bersama dan memutuskan bersama itu juga belum sinodal. Sinodal itu ketika kita duduk bersama, bicara bersama, kesediaan saling berbagi, rembugan bersama, dan memutuskan bersama, “tutur Romo Sugiyana.

“Semangat sinodal itu adalah panggilan Roh Kudus kepada semua gereja untuk membaharui diri. Dikatakan oleh Bapa Paus Fransiskus, paroki itu tempat atau wadah yang paling ideal kalau kita bicara soal sinodalitas. Karena di situlah persekutuan umat ada, di situ pula gereja dipanggil bukan hanya sebagai sebuah organisasi, tetapi sebagai communio/persekutuan atau kebersamaan. Membangun persekutuan itu berarti menyediakan diri untuk yang lain, perkembangan yang lain. Entah itu perkembangan pribadi, lingkungan, wilayah, paroki. Maka di situlah semangat persekutuan itu terjadi.”

“Ada 3 pilar utama sinodalitas, yakni persekutuan, partisipasi, dan perutusan (misi). Pemimpin sebagai pusat keputusan. Seorang pemimpin memfasilitasi, supaya setiap pribadi yang hadir mau berbagi apa yang menjadi potensi baiknya untuk membangun gereja. Kata sinodal bukan menunjuk pada kegiatan, tetapi pada tata relasi yang membangun pribadi. Tujuan akhir dari sebuah proses paroki, sinodalitas ini adalah bagaimana paroki ini menjadi umat bersama kita, tempat di mana setiap orang didengarkan, diterima, tetapi juga mau terlibat.”

Romo Agustinus Tejo Kusumantono saat menjelaskan ada 3 hal penting yang menjadi ajakan Bapa Suci

Sementara, Romo Paroki Agustinus Tejo Kusumantono, Pr.-mengatakan, “Belajar sinodalitas butuh waktu yang panjang. Tiga kata kunci yang menjadi bahan permenungan dari Bapa Suci, para Uskup, serta Kardinal adalah : communio (persekutuan), parisipasi, dan misi. Dan ada 3 hal penting yang menjadi ajakan dari Bapa Suci adalah: Perjumpaan-Bertemu, Mendengarkan, dan Discernment.

“Bertemu merupakan metode berkomunikasi yang autentik, sebab orang tidak hanya menerima pesan, tetapi juga membiarkan dirinya tersentuh oleh sesama yang ada di hadapannya. Bertemu juga membantu orang untuk melawan kecenderungan mudah berpuas diri karena merasa telah mengetahui segala hal. Hal penting yang kedua, mendengarkan adalah unsur pertama yang sangat diperlukan dalam dialog dan komunikasi yang baik. Agar bisa mendengarkan dengan hati, maka Bapa Suci meminta seluruh umat beriman, klerus dan umat awam untuk tidak “mematikan” suara hati nurani dan mengurung diri dalam kepastian-kepastian dan prasangka-prasangka yang telah mereka buat sebelumnya.”

Sesi permainan membangun sebuah menara sebagai simbol dari gereja TDGY Macanan.

Lanjut Romo Tejo, “Hal penting yang ketiga adalah Discernment. ‘Rohlah yang menyebabkan orang-orang dapat membedakan tanda-tanda zaman. Tanda-tanda yang dikehendaki oleh Allah’. Karenanya, discernment perlu dilakukan dalam adorasi, doa, dan kontak dengan Sabda Allah. Tanpa itu semua tidak akan ada sinode, dan proses sinode akan berubah menjadi rapat gerejawi, hari studi atau konggres politik. Pelaku sinode itu bukan manusia, tetapi Roh Kudus. Sinode yang sejati adalah sebuah sinode yang dijalankan lewat proses discerment.”

Dalam wawancara terpisah, tantangan apa saja yang dihadapi dalam implementasi kepemimpinan sinodal di paroki, Romo Sugiyana mengungkapkan bahwa tantangan itu bisa dari pimpinan atau imam. Banyak karakter imam bisa menentukan dinamika paroki. Ada imam yang gagasan atau pendapatnya terlalu kuat, sehingga ruang bersama untuk mendengarkan kadang tidak terpenuhi dengan baik.

“Bisa jadi pola pikirnya baik, tetapi semangat sinodal tidak terjadi. Semangat sinodal itu kan bagaimana kita melibatkan orang lain di dalam membangun pemikiran bersama. Tantangan yang lain bisa sebaliknya, mungkin imam belum punya konsep pastoral sehingga arah yang ingin dicapai tidak ketemu, sehingga dinamika bersama tidak terorkestrasi dengan baik. Bagi saya, sinodalitas itu selalu ada unsur persekutuan, partisipasi, dan unsur arah/visi. Ketiganya harus jadi satu pola pikir. Dari sisi awam, kesadaran mereka dilibatkan itu mungkin sebelumnya terlalu pasif atau tidak ada ruang untuk bersama berpikir. Maka tantangan menghadapi umat yang individualis, kepedulian terhadap gereja itu tidak muncul. Selama kita tidak mau duduk bersama, selama kita berada di luar komunitas, sinodalitas tidak jalan.”

Romo Sugiyana saat menerima sertifikat dari paroki TDGY Macanan, didampingi Romo Agustinus Tejo Kusumantono

“Harapan saya untuk semua paroki, bagaimana semangat sinodal itu bisa terbangun di level paling bawah sampai pada tingkat paroki. Dan semangat sinodal perlu dihidupi secara konkret dengan kesadaran bersama, maka membangun sinodal itu penting sebelum kita bicara tentang apa yang harus kita lakukan, “tukasnya mengakhiri.
(Clementine Roesiani)

Berita Terkini

Paroki Tyas Dalem Gusti Yesus (TDGY) Macanan menggelar acara "Pelatihan Kepemimpinan Sinodal dalam Pelayanan Paroki", yang bertempat di Kapel Santo Lukas Prambanan pada hari Minggu, 22 Februari 2026. Acara ini menghadirkan narasumber Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang (Vikjen KAS) Romo FX. Sugiyana, Pr.

Berita Rayon