Atmodirono – Gereja Katolik kaya akan harta rohani yang diwariskan turun-temurun. Salah satunya adalah Berkat Santo Blasius, sebuah tradisi yang telah hidup sejak abad ke-8 dan secara khusus dimohonkan sebagai perlindungan dari penyakit tenggorokan.
Tradisi ini dirayakan oleh umat Paroki Keluarga Kudus Atmodirono, Semarang, bertepatan dengan peringatan Santo Blasius, Uskup dan Martir, pada Selasa (3/2/2026). Peringatan tersebut dilaksanakan dalam Misa Pagi pukul 05.30 WIB yang dipimpin oleh Romo Thomas Aquinas Koconegoro, MSF, Vikaris Paroki Atmodirono.

Berbeda dari misa harian pagi pada umumnya, misa kali ini dihadiri oleh lebih dari 200 umat yang secara khusus datang untuk menerima Berkat Santo Blasius. Antusiasme umat tampak sejak pagi hari, memenuhi gereja untuk mengikuti Perayaan Ekaristi sekaligus menerima berkat tradisional tersebut.

Usai homili, umat berbaris rapi seperti saat menerima Komuni Kudus. Imam dan para prodiakon memberikan berkat dengan menyilangkan dua batang lilin di bagian tenggorokan umat, sambil mengucapkan doa khusus: “Semoga dengan berkat Santo Blasius, engkau dibebaskan dari penyakit tenggorokan.”

Santo Blasius dikenal sebagai Uskup Sebaste di Armenia yang hidup pada abad ke-4. Ia dikenal sebagai seorang tabib sekaligus gembala yang berhati baik. Karena imannya kepada Yesus Kristus, Blasius ditangkap dan akhirnya dihukum mati pada tahun 316.
Dalam tradisi Gereja, Santo Blasius juga dikenal karena mujizatnya. Dalam perjalanan menuju tempat eksekusi, ia memberkati umat dan menyembuhkan seorang anak laki-laki yang hampir meninggal akibat duri ikan yang tersangkut di tenggorokannya. Peristiwa inilah yang kemudian menjadikan Santo Blasius sebagai pelindung bagi mereka yang menderita penyakit tenggorokan.

Dalam homili, Romo Koconegoro, MSF, mengangkat Injil hari itu yang memuat dua kisah penderitaan: kehilangan orang terkasih dalam kisah Yairus, dan kehilangan martabat dalam kisah perempuan yang mengalami pendarahan. Meski berbeda, keduanya dipersatukan oleh satu harapan yang sama, yakni iman dan pengharapan kepada Yesus Kristus.
“Injil hari ini mengingatkan kita bahwa kita tidak mampu menyembuhkan diri sendiri. Kita semua membutuhkan Yesus untuk menyembuhkan hidup kita,” ungkap Romo Koco.
Lebih lanjut ia mengajak umat untuk memaknai Berkat Santo Blasius sebagai wujud iman yang aktif.
“Pagi ini, bersama-sama kita memohon perantaraan Santo Blasius agar kita dilindungi dari segala penyakit, khususnya penyakit tenggorokan. Ini adalah tanda iman yang diwujudkan dengan berani datang, mau mendengar, dan percaya pada sabda ‘Talita kum’. Semoga kita semua disembuhkan, dibangkitkan, dan diteguhkan dalam jiwa dan raga,” pesannya. (Ignatia Tyas/Elwin)