Talk Show Paroki Hijau Dorong Aksi Nyata Umat Jaga Lingkungan

Twitter
WhatsApp
Email

YOGYAKARTA — Talk show bertajuk “Gerakan Paroki Hijau, Implementasi Laudato Si’ dan Gerak Sosial Gereja” mendorong keterlibatan umat dalam menjaga lingkungan sebagai bagian dari iman. Kegiatan ini menekankan pentingnya pertobatan ekologis melalui aksi nyata di tingkat paroki dan masyarakat.

Kegiatan yang diselenggarakan pada Sabtu, 16 Mei 2026, di Auditorium Lantai 4 Gedung Bonaventura, Kampus 3 Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini merupakan kerja sama Kevikepan Yogyakarta Timur, Kevikepan Yogyakarta Barat, dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Hadir sebagai narasumber Drs. Kianto Atmojo, M.Si, Fransisca Supriyani Wulandari, S.Pd, dan Dr. Bernardus Wibowo Suliantoro, M. Hum, dengan moderator Romo Martinus Joko Lelono. Turut hadir Vikaris Episkopalis Kevikepan Yogyakarta Barat Romo A.R. Yudono Suwondo.

Kianto atmojo dengan materi Program Paroki Hijau

Dalam pemaparannya, Kianto Atmojo menegaskan bahwa ajaran Laudato Si’ dan Laudate Deum mengajak umat untuk memandang relasi manusia tidak hanya dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama dan alam. “Menjaga lingkungan menjadi bagian dari iman. Manusia dipanggil untuk merawat bumi sebagai ciptaan Allah,” ujarnya. Ia menjelaskan konsep ekosentris yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, berbeda dengan pola pikir antroposentris yang cenderung mengutamakan kepentingan manusia tanpa memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan.

Kianto menambahkan, Paroki Hijau merupakan wujud pertobatan ekologis yang dapat diwujudkan melalui berbagai langkah konkret, seperti homili bertema lingkungan, doa umat tentang ciptaan, perayaan Bulan Ciptaan, serta pengurangan penggunaan plastik. “Pengelolaan sampah menjadi penting, termasuk mengolahnya menjadi pupuk organik yang bermanfaat,” katanya.

Fransisca Supriyani Wulandari dengan materi Best practices di Paroki Kalasan upaya menghadirkan gereja yang menerapkan Laudato Si

Sementara itu, Fransisca Supriyani Wulandari memaparkan praktik baik yang dilakukan Paroki Maria Marganingsih Kalasan dalam mengembangkan gerakan lingkungan. Ia menjelaskan bahwa gereja hadir sebagai pusat edukasi dan aksi nyata dalam merespons krisis lingkungan, seperti persoalan sampah dan banjir. “Kami mengembangkan konsep 3A, yakni cegah, pilah, dan kelola sampah, agar bisa didaur ulang dan mengurangi pencemaran,” ungkapnya.

Menurut Fransisca, gerakan menuju Paroki Hijau juga dilakukan melalui penghijauan, pengelolaan energi dan air berkelanjutan, serta pembentukan kader lingkungan. “Kami juga turun langsung ke masyarakat untuk memberikan edukasi dan pelatihan pengolahan sampah agar kesadaran menjaga lingkungan tumbuh bersama,” ujarnya.

Bernardus Wibowo Suliantoro dengan materi Laudato Si dikalangan orang muda

Dr. Bernardus Wibowo Suliantoro dalam paparannya menyoroti persoalan sampah sebagai isu moral, bukan sekadar kebersihan. Ia menyebut kondisi darurat sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta berdampak pada kelompok rentan. “Sampah mencerminkan relasi manusia dengan alam. Ini soal tanggung jawab moral dan solidaritas sosial,” katanya.

Ia juga mengingatkan adanya lima dosa ekologi, yakni keserakahan, ketidakpedulian, konsumerisme, ketidakmauan bersusah payah, dan ketidakadilan sosial. Menurutnya, perubahan pola pikir diperlukan agar masyarakat melihat sampah sebagai sesuatu yang dapat dikelola dan dimanfaatkan. “Lingkungan yang sehat bukan hadiah, tetapi hasil dari komitmen dan kerja bersama,” ujarnya.

Romo AR. Yudono Suwondo bersama panitia talkshow

Melalui kegiatan ini, peserta, khususnya kalangan orang muda, diharapkan semakin menyadari pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari kehidupan beriman. Sejumlah peserta mengaku mendapatkan pemahaman baru tentang pengelolaan sampah dan peran gereja dalam menjawab persoalan lingkungan di sekitar mereka.