Tantangan Pola Asuh Generasi Alpha dan Z, Orang Tua Diajak Bangun Kedekatan Konsisten

Twitter
WhatsApp
Email

PAROKI NANDAN – Tim Pelayanan Pendidikan Paroki Santo Alfonsus Nandan menggelar sarasehan parenting bertajuk “Mengenal dan Mendampingi Generasi A dan Z” pada Jumat (17/4/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 18.30 hingga 21.00 WIB ini menghadirkan pakar psikologi dari Universitas Sanata Dharma, Dr. Agne Indar Etikawati, M.Si., sebagai narasumber utama untuk membedah strategi pengasuhan di era modern.

Acara yang digelar di lingkungan Paroki Nandan ini diikuti oleh sekitar 30 peserta yang berasal dari lintas paroki, termasuk dari luar wilayah Nandan. Kehadiran peserta dari berbagai daerah tersebut menunjukkan tingginya urgensi pemahaman orang tua terhadap karakteristik anak-anak generasi terbaru yang tumbuh di tengah pesatnya arus informasi digital.

Narasumber pakar psikologi dari Universitas Sanata Dharma, Dr. Agne Indar Etikawati, M.Si

Dalam paparannya, Dr. Agne Indar Etikawati menekankan bahwa kunci utama pendampingan anak saat ini bukanlah sikap galak, melainkan ketegasan yang konsisten. Ia menyarankan orang tua untuk mulai membangun disiplin melalui kesepakatan bersama, bukan paksaan sepihak.

“Menjadi orang tua membutuhkan ketegasan, bukan kemarahan. Orang tua perlu menyusun jadwal harian bersama anak, meliputi waktu belajar, bermain, dan istirahat yang disepakati dan dijalankan dengan disiplin,” ujar Dr. Agne di hadapan para peserta.

Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena “Generasi Stroberi” yang sering disematkan pada Generasi Z dan Alpha. Meski sering dianggap rapuh, Dr. Agne menjelaskan bahwa generasi ini memiliki keunggulan dalam mengakses informasi secara luas dan cepat. Namun, keunggulan tersebut harus dibarengi dengan kehadiran orang tua sebagai sosok pendengar yang baik.

“Orang tua diharapkan menjadi teladan dan pendengar yang siap menerima curahan hati anak. Dalam situasi tertentu, orang tua cukup mendengarkan tanpa perlu langsung memberi nasihat. Jika solusi dibutuhkan, sampaikanlah dengan bahasa positif agar anak tidak merasa dihakimi,” tambahnya.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan beragam testimoni dari para orang tua. Ibu Lei dari Paroki Kemetiran, misalnya, mengeluhkan tantangan penggunaan gawai saat anak makan. Sementara itu, Bapak Kianto mengingatkan pentingnya sikap eling lan waspodo (ingat dan waspada) bagi orang tua dalam menghadapi perubahan zaman yang begitu dinamis.

Sebagai bentuk pendekatan emosional, Ibu Harsoyo turut membagikan pengalamannya membangun kedekatan melalui aktivitas sederhana, seperti mengantar sekolah dan beribadah bersama. Hal ini senada dengan arahan narasumber mengenai pentingnya pemberian apresiasi yang tidak selalu bersifat materiil kepada anak.

Melalui kegiatan ini, Tim Pelayanan Pendidikan Paroki Santo Alfonsus Nandan berharap para orang tua tidak lagi terjebak pada pola asuh yang bersifat menggurui. Sebaliknya, sarasehan ini diharapkan mampu mendorong terciptanya relasi keluarga yang lebih hangat dan sehat, di mana orang tua hadir sebagai sahabat yang mampu memahami kompleksitas perkembangan psikologis anak di masa kini. ( Atm-Nandan)