KOTA YOGYAKARTA – Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KKPKC) Kevikepan Yogyakarta Timur dan Yogyakarta Barat menggelar pertemuan strategis untuk membentuk Tim Formasi Laudato Si pada Kamis (9/4/2026). Bertempat di Pastoran Katolik Wisma Mahasiswa, Klitren, Gondokusuman, rapat ini bertujuan menyusun program kerja nyata guna menggerakkan konsep “Paroki Hijau” sebagai respons terhadap isu lingkungan dan pengelolaan sampah di wilayah Yogyakarta.
Rapat yang dimulai pukul 17.00 WIB ini dipimpin oleh Romo Martinus Joko Lelono, Pr selaku moderator. Agenda utama pertemuan meliputi pembahasan teknis sosialisasi gerakan lingkungan hidup yang terintegrasi dalam struktur gereja, mulai dari aspek liturgi, pewartaan, hingga pelayanan kemasyarakatan (diakonia). Pembentukan tim ini merupakan langkah lanjut dari keprihatinan atas realitas darurat sampah di Yogyakarta yang memerlukan kesadaran ekologis dari tingkat basis atau paroki.

Romo Martinus Joko Lelono, Pr menekankan bahwa gerakan ini bukan sekadar program jangka pendek, melainkan upaya memperjelas peran kemasyarakatan gereja di Yogyakarta. Menurutnya, gereja harus mulai menunjukkan dampak nyata ke luar, tidak hanya fokus pada urusan internal.
“Gerakan kita tahun ini fokus pada penyadaran ke dalam untuk melihat bagaimana umat memandang relasinya dengan alam. Kita akan menggerakkan apa yang disebut sebagai Paroki Hijau. Harapannya, pada Oktober atau November nanti, kita sudah memiliki percontohan model pengelolaan lingkungan yang sudah berjalan di paroki-paroki,” ujar Romo Joko di hadapan peserta pertemuan.

Dalam sesi pemaparan materi, narasumber Kianto Atmodjo menjelaskan bahwa konsep Paroki Hijau adalah gerakan transformatif yang mengadopsi prinsip keberlanjutan dan tanggung jawab sosial berdasarkan nilai etika Hamemayu Hayuning Bawana. Ia memaparkan lima area integrasi, yakni penggunaan alat liturgi yang dapat dipakai ulang, edukasi ekologi melalui pewartaan, hingga transformasi infrastruktur seperti penggunaan panel surya dan pengolahan sampah organik menjadi kompos atau pakan ternak.
Kianto mengingatkan bahwa tantangan terbesar adalah konsistensi komitmen antarpanitia kegiatan. Ia mencontohkan bagaimana semangat bebas sampah seringkali kendur saat pergantian kepanitiaan. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kebijakan dari pimpinan paroki agar semangat Laudato Si menjadi standar operasional prosedur (SOP) yang mengikat di setiap kegiatan gereja maupun sekolah-sekolah di bawah naungan yayasan katolik.
Pertemuan ini menghasilkan agenda lanjutan berupa sosialisasi besar yang akan melibatkan Tim KKPKC dan tim pengelolaan lingkungan dari seluruh paroki se-Kevikepan Yogyakarta. Acara tersebut direncanakan berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026, di Universitas Atma Jaya Yogyakarta sebagai langkah pengorganisasian massa yang lebih luas.
Nuansa human interest terasa ketika para peserta saling berbagi pengalaman konkret di lapangan. Beberapa perwakilan paroki menceritakan perjuangan mereka mengolah sampah plastik secara mandiri hingga tantangan menyadarkan warga untuk tidak membakar sampah. Pertemuan ditutup dengan harapan bahwa gerakan ini tidak hanya menurunkan biaya operasional gereja melalui efisiensi energi, tetapi juga menciptakan lingkungan peribadatan yang lebih nyaman, asri, dan selaras dengan alam bagi generasi mendatang.








