Misa Kamis Putih Paroki TDGY Macanan, Romo Herman Yoseph: Teladan Itu Seribu Kali Lebih Kuat Dari Sekadar Kata-Kata Indah

Twitter
WhatsApp
Email

Paroki Macanan – Umat Paroki Tyas Dalem Gusti Yesus Macanan mengikuti perayaan misa Kamis Putih pada Kamis, 2 April 2026. Pakaian yang dikenakan didominasi warna putih. Warna putih melambangkan bersih dan suci. Perayaan Kamis Putih ini untuk mengenang Yesus ketika mengadakan perjamuan terakhir bersama para murid-Nya sebelum wafat disalib hingga bangkit pada Paskah.

Romo Herman Yoseph Bau Rua, Pr – dalam homilinya menyampaikan, “Malam ini ada tiga peristiwa penting yang dirayakan. Yang pertama, ekaristi sebagai warisan dan kenangan ketika Yesus bersama para murid-Nya dalam perjamuan terakhir sebelum memasuki sengsara dan wafatnya dan ketika Yesus memberikan teladan-Nya untuk saling mengasihi sebagai bahasa cinta.”

“Di dalam hidup ini, kita sering mendengar istilah kenangan dan warisan. Manusia adalah makhluk yang suka membuat kenangan. Kalau kita mengasihi seseorang, kita sering memberikan sesuatu seperti oleh-oleh, suvenir, atau benda yang punya kenangan akan diri kits. Kita tidak mau dilupakan oleh orang yang kita kasihi. Kita tidak mau hilang dalam ingatan. Kecenderungan manusia adalah ingin hidup di dalam pikiran dan hati orang-orang tercinta. Ketika Yesus menderita sengsara dan wafat dan berpisah dengan para murid-Nya, Yesus mewariskan satu warisan yaitu ekaristi. Ekaristi sebagai kenangan atau anamnesis, betapa besar cinta dan pengorbanan Yesus kepada para murid-Nya.”

Romo Herman Yoseph Bau Rua membasuh kaki pada Misa Kamis Putih di Paroki TDGY Macanan Bekasi, Kamis (2/4/2026).

“Yesus memilih cara paling sederhana yang setiap hari kita lakukan, yaitu makan. Yesus memilih cara sangat sederhana yang tidak terbayangkan, yakni makan sebagai kenangan akan Dia. Dia memilih cara itu, karena hal itu yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, maksudnya di sini adalah ekaristi setiap hari. Saat makan dan minum kita terima rezeki, kita mengingat Tuhan. Karena itu jangan lupa berdoa sebelum makan. Makan bersama adalah kenangan atau warisan, seperti kata Yesus yang tertulis dalam kitab Injil ‘Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku’, “tutur Romo Herman Yoseph.

Lebih lanjut Romo mengatakan, “Ketika sedang merayakan ekarisri, sebenarnya kita sedang bersatu dengan Tuhan dalam keserupaan hidup dan karya-Nya. Tuhan mewariskan satu hal: iman, karakter, moral, teladan, dan cinta. Sebab hal inilah yang tidak lekang oleh waktu, dan tidak pudar oleh zaman. Ekaristi yang setiap hari kita rayakan sederhana, seperti makan bersama. Makan bersama juga menjadi simbol persaudaraan, keakraban dan simbol cinta pada sesama. Maka tanda orang mengasihi salah satu contoh yang sederhana adalah mereka masih bisa makan bersama setiap hari.”

 

 

Dalam Kamis Putih ini, seperti yang tertulis di dalam Injil, Yesus melakukan pembasuhan kaki para murid-Nya dengan menanggalkan jubah-Nya. Yesus menanggalkan statusnya sebagai Tuhan dan Guru dan menjadi hamba atau pelayan bagi para murid-Nya. Untuk bisa melayani, orang harus bisa menanggalkan banyak hal, seperti: jabatan, status, pangkat, kebesaran, kesombongan dan lain-lain. Yesus bersabda ‘Barangsiapa yang mau menjadi teebesar di antaramu, dia harus menjadi pelayan bagi yang lain’. Melayani bukan berarti membuat harga diri kita jatuh. Melayani tidak berarti kita hina. Justru melayani itu sebuah kehormatan dan sebuah kemuliaan. Dia memberikan teladan. Teladan itu seribu kali lebih kuat dari sekadar kata-kata indah.”

“Yesus membasuh kaki para murid sebagai simbol kerendahan hati dan pelayanan. Tindakan ini menjadi teladan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang melayani. Semoga makna perjamuan terakhir mengingatkan kita untuk selalu hidup dalam kasih dan persaudaraan.”

(Clementine Roesiani, Komsos Macanan)