
Suasana hangat dan penuh harapan menyelimuti Pusat Pastoral Mahasiswa Yogyakarta pada Minggu, 11 Januari 2026. Sekitar seratus orang berkumpul dalam Perayaan Natal dan Ekaristi bersama Komunitas Layung Kristi, sebuah komunitas LGBTQIA+ Katolik di bawah Kevikepan Kategorial Keuskupan Agung Semarang. Mengusung tema “Dicintai Tanpa Syarat: Natal Bagi Semua,” perayaan ini menjadi ruang iman yang menghadirkan sukacita, penerimaan, dan persaudaraan sejati.
Ekaristi Natalan Pelangi ini dipimpin oleh Rm. Andreas Setiawan, SJ. Dalam homilinya, Romo Andreas mengajak umat untuk merenungkan makna pilihan Yesus yang dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan.
“Yesus secara sadar memilih jalan manusia. Ia memilih jalan yang membawa pada keadilan sosial, sebab sejatinya Kerajaan Allah adalah keadilan sosial. Jika pilihanmu membuatmu semakin dekat dengan keadilan sosial, maka pilihanmu sudah benar,” tutur Romo Andreas.
Lebih lanjut, ia menegaskan bah
wa semangat inilah yang menjadi dasar keberadaan Komunitas Layung Kristi: sebuah ruang persahabatan, tempat setiap orang diajak berjalan bersama menuju Kerajaan Allah yang inklusif dan berkeadilan.
Perayaan Ekaristi berlangsung khid
mat dan penuh sukacita dengan iringan paduan suara dari komunitas PHBK Semarang, serta petugas liturgi yang berasal dari anggota Layung Kristi sendiri. Hadir pula perwakilan komunitas LGBT
QIA+ se-keuskupan, jejaring LSM dari DIY dan Jawa Tengah, serta para rohaniawan dari berbagai tarekat, antara lain Serikat Yesus (SJ), CB, dan FCJ. Kebersamaan lintas latar belakang i
ni menjadi tanda nyata Gereja yang merangkul dan berjalan bersama umatnya.
Sukacita Natal berlanjut dalam acara ramah tamah yang hangat dan meriah. Berbagai penampilan memperkaya suasana: Mami Vinolia dari Yayasan Kebaya – Keluarga Besar Waria Yogyakarta membawakan lagu rohani “Penebus Dosa” dengan penuh penghayatan; Arum (Kebaya) menyentuh hati lewat lagu When You Believe; sebuah tarian penuh energi dari Alexa (PHBK Semarang); hingga ditutup dengan jog
et dangdut bersama yang memecah sekat dan menghadirkan tawa serta keakraban.
Keintiman dan persaudaraan terbangun secara alami, seolah melunturkan stigma dan jarak yang kerap melekat pada komunitas LGBTQIA+. Dalam sambutannya, Sr. Tyas, FCJ, menyampaikan rasa terima kasih atas undangan dan kebersamaan yang dialaminya. Ia memberikan apresiasi kepada Komunitas Layung Kristi sebagai ruang iman yang membantu anggotanya berjalan menuju Kerajaan Allah yang berkeadilan sosial. Sr. Tyas juga menyuarakan harapan agar keuskupan-keuskupan lain di Indonesia tergerak untuk menghadirkan pelayanan pastoral yang serupa, sehingga tidak ada lagi umat Katolik yang dibedakan karena latar belakang identitas mereka.
Sementara itu, Augustine, Ketua Komunitas Layung Kristi, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Uskup, Romo Vikep Kategorial, para rohaniawan, jejaring komunitas, serta seluruh anggota Layung Kristi.
“Bagi kami, dukungan dan penerimaan Anda semua adalah wajah Kristus Sang Penebus, yang kelahiran-Nya kita rayakan hari ini,” ungkapnya dengan penuh haru.
Ia menegaskan harapannya agar Roh Kudus senantiasa membimbing, sehingga semakin banyak tarekat rohaniawan dan keuskupan di Indonesia yang terinspirasi untuk melihat komunitas LGBTQIA+ sebagai manusia utuh yang bermartabat, serta menghadirkan kasih yang nyata—sebagaimana yang telah diinisiasi oleh Keuskupan Agung Semarang. ✨

















