Surat Gembala Menyambut Arah Dasar IX Keuskupan Agung Semarang

SURAT GEMBALA
MENYAMBUT ARAH DASAR IX KAS
Dibacakan/ ditayangkan pada Pesta Pembaptisan Tuhan,
Sabtu-Minggu, tgl. 10-11 Januari 2026

Saudara-saudari seluruh umat Keuskupan Agung Semarang yang saya kasihi.
Berkah Dalem.

Setelah kita bersama-sama merayakan kemeriahan Natal dan Tahun Baru, kini Gereja mengajak kita memasuki suasana yang lebih hening dan teduh. Hiasan Natal mulai disimpan lagi, kesibukan perayaan mulai mereda, dan kita kembali pada kehidupan sehari-hari. Namun satu hal tetap tinggal dan tidak pernah berakhir: kasih dan penyertaan Allah yang telah kita rayakan dalam kelahiran Putra-Nya.

Hari ini kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Dalam Injil kita mendengar Yesus dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan. Pada saat itu terdengarlah suara Bapa dari surga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”. Peristiwa ini menandai awal perutusan Yesus. Setelah dibaptis, Ia melangkah memasuki kehidupan nyata: hadir di tengah manusia, mewartakan Kerajaan Allah, menyembuhkan yang terluka, menguatkan yang lemah, dan membawa keselamatan.

Dalam terang perayaan Pesta Pembaptisan Tuhan itu, kita bersyukur atas penyertaan Allah yang telah memungkinkan kita “menyelesaikan” Arah Dasar VIII Keuskupan Agung Semarang dengan tema: “Tinggal dalam Kristus dan Berbuah.” Selama lima tahun terakhir (2021–2025), kita diajak kembali pada dasar hidup beriman: tinggal dalam Kristus. Kita belajar bahwa hidup kristiani bukan terutama soal kegiatan, jabatan, atau program pelayanan, tetapi soal relasi yang hidup dengan Tuhan. Di tengah berbagai tantangan (pandemi covid, kesulitan ekonomi, perubahan sosial, dan pergulatan hidup), kita diajak untuk tidak menjauh dan lari dari Tuhan, sebaliknya justru semakin mendekat lekat pada Kristus. Ketika kita semakin kuat tinggal dalam Dia, hidup kita pun berbuah: buah iman, harapan, kasih, kesetiaan, kepedulian, solidaritas, dan semangat melayani.

Secara khusus dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada para romo, biarawan-biarawati, katekis, pengurus lingkungan, wilayah, paroki, dan seluruh umat beriman yang dengan caranya masing-masing telah ikut menghidupi Arah Dasar VIII ini dalam kehidupan nyata.

Saudara-saudari terkasih,

Sebagaimana Yesus yang setelah dibaptis melangkah keluar dari Sungai Yordan untuk mulai memasuki perutusan-Nya, demikian pula sekarang kita diundang untuk melangkah memasuki perjalanan pelayanan pastoral yang baru. Dengan penuh iman dan harapan, kita memohon berkat Allah untuk pelaksanaan Arah Dasar IX Keuskupan Agung Semarang (2026–2030) dengan tema: “Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.”

Arah Dasar IX ini merupakan kelanjutan dan sekaligus pendalaman dari Arah Dasar VIII. Jika dalam Arah Dasar VIII kita belajar tinggal dalam Kristus, maka melalui Arah Dasar IX kita ingin mewujudkan buah-buahnya secara nyata dalam kehidupan bersama. Relasi yang hidup dengan Kristus diharapkan semakin tampak dalam wajah Gereja yang hadir di tengah dunia.

Karena ini merupakan perjalanan pelayanan yang panjang dan berkesinambungan, maka menuntut kesetiaan, kesabaran, dan keterlibatan bersama. Kita pun tidak mungkin mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan mesti terus bersandar pada rahmat Tuhan yang juga meneguhkan Yesus di Sungai
Yordan dengan berkata: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi”. Sabda ini meyakinkan kita bahwa Allah yang selama ini setia menyertai perjalanan kita, juga akan selalu menyertai langkah kita selanjutnya.

Saudara-saudari yang terkasih,

Tema Arah Dasar IX “Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan” terdengar sederhana, tetapi memiliki beberapa makna yang
sangat mendalam, sebagai berikut:

  1. Arah Dasar IX ini bukan sekadar slogan, melainkan pedoman dan arah perjalanan bersama seluruh umat Allah di Keuskupan Agung Semarang.
    Maka kata “menjadi” memiliki makna yang sangat penting dan menunjuk pada proses yang terus berlangsung, proses yang dinamis, bukan keadaan yang sudah selesai atau sudah sempurna. Gereja sedang dan terus berproses. Proses ini mengandaikan keterlibatan seluruh umat Keuskupan Agung Semarang, masing-masing sesuai peran dan panggilannya. Karena itu Arah Dasar IX bukan hanya milik para romo, pengurus, atau aktivis Gereja, tetapi milik kita semua: lansia, orang tua, orang muda, remaja, anak-anak, keluarga, dan komunitas.
  2. Gereja yang Bahagia. Gereja dipanggil menjadi rumah yang penuh sukacita, bukan karena bebas dari masalah, tetapi karena semua hidup dalam pengharapan. Gereja bahagia karena memiliki dasar yang kokoh, yaitu keselamatan yang telah dianugerahkan oleh Allah dalam Yesus Kristus. Kita bahagia karena kita telah ditebus, diampuni, dan diselamatkan. Dari iman inilah tumbuh pengharapan dan sukacita sejati. Sukacita ini diharapkan tampak dalam sikap saling menerima, saling menguatkan, dan saling menopang, baik di dalam keluarga, lingkungan, wilayah, paroki, maupun masyarakat.
  3. Gereja yang Menginspirasi. Hidup orang beriman hendaknya menjadi kesaksian yang menggerakkan orang lain. Bukan terutama melalui kata-kata yang indah, tetapi melalui kesaksian hidup yang menggerakkan hati orang lain untuk berbuat baik. Gereja yang menginspirasi adalah Gereja yang memberi teladan hidup: teladan kejujuran, kesederhanaan, kepedulian, kesetiaan, dan semangat melayani.
  4. Gereja yang Menyejahterakan. Iman tidak hanya menyentuh altar dan ruang doa, tetapi juga kehidupan nyata. Gereja dipanggil peduli pada kesejahteraan manusia secara utuh: rohani, jasmani, sosial, dan lingkungan. Karena itu kita semua diajak untuk menghidupi kepedulian dan belarasa, terutama kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Selain itu, kepedulian kita juga diarahkan pada keutuhan alam ciptaan, agar bumi sungguh menjadi rumah bersama yang aman dan nyaman bagi semua.

Saudara-saudari terkasih,

Pesta Pembaptisan Tuhan hari ini juga mengingatkan kita pada pembaptisan kita sendiri. Melalui baptisan, kita semua diutus. Karena itu, saya mengajak Saudara-saudari umat KAS untuk menghidupi Arah Dasar IX ini secara nyata dalam keluarga, lingkungan, paroki, dan masyarakat.

  • Di dalam keluarga, ciptakanlah rumah yang penuh kasih, dialog, doa, dan pengampunan.
  • Di lingkungan, hidupilah semangat kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian.
  • Di paroki, berjalanlah bersama dalam semangat sinodal: saling mendengarkan dan bekerja sama.
  • Di tengah masyarakat, jadilah saksi Kristus melalui kejujuran, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama dan alam ciptaan.

Dengan cara-cara sederhana inilah kita sungguh menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan.

Saudara-saudari terkasih,

Di Sungai Yordan, Yesus diteguhkan oleh kasih Bapa sebelum Ia melangkah dalam perutusan. Kiranya pada awal perjalanan Arah Dasar IX (2026–2030) ini, kita pun diteguhkan oleh keyakinan yang sama: kita adalah umat yang dikasihi Allah dan diutus oleh-Nya.

Semoga Roh Kudus senantiasa menuntun langkah kita, agar Keuskupan Agung Semarang sungguh menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan
menyejahterakan. Dari hati yang penuh syukur dan harapan, saya memberkati Saudara-saudari sekalian dalam nama † Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.

Teriring salam dan doa kami. Berkah Dalem.

Semarang, 1 Januari 2026

 

† Mgr. Robertus Rubiyatmoko
Uskup Agung Semarang

 

Tautan untuk mengakses file Surat Gembala dalam versi PDF: