Paroki Macanan – Umat Paroki Tyas Dalem Gusti Yesus Macanan mengikuti rangkaian ibadat Jumat Agung yang berpusat pada peringatan sengsara dan wafat Tuhan. Sesuai jadwal Pekan Suci 2026, perayaan Jumat Agung dirayakan pada hari Jumat, 3 April 2026. Menjadi salah satu momen paling suci dalam kalender gereja.

Dalam homilinya, Romo Yustinus Joko Wahyu Yuniarto, Pr mengatakan, “Malam ini hanya dua permenungan yang saya sampaikan, yaitu ritual dan kematian. Yang pertama tentang ritual, Asia menjadi asal dari berbagai tradisi agama. Agama-agama besar mayoritas berasal dari Asia. Agama-agama dari Asia penuh warna, penuh dengan ritual, dan praktik-praktik yang memberi kesempatan pada hati dan batin untuk terlibat. Jadi tidak hanya sekadar ritual kosong, tetapi ada kesempatan batin untuk tergerak, ada kesempatan hati untuk terlibat.”

“Tidak perlu jauh-jauh, saudara-saudara kita di Indonesia bagian timur, misal seperti Flores, setiap ada perayaan dukacita mengenang Yesus Kristus, mereka mempunyai ritual ‘lamentasi’. Lamentasi adalah ratapan atau tangisan atas kematian Yesus Kristus. Ritual ini bukan hanya menangis atau meratap, tetapi ada kelompok koor yang berpakaian serba hitam dan berangkat dari rumah tanpa alas kaki. Begitu pula praktik agama Hindu di Bali. Praktik agamanya juga penuh warna atau ritual, “papar Romo Yustinus.

“Yang kedua, tentang kematian. Hari Jumat Agung adalah hari kematian yang membahagiakan, karena mati bersama Tuhan. Kematian yang istimewa dan indah adalah Jumat Agung. Sedang pesta umat Katolik yang paling meriah seharusnya adalah Paskah. Karena Paskah adalah bangkitnya Tuhan Yesus dari kematian. Pestanya harus lebih besar. Ini bukan masalah pamer. Ada anjuran dalam buku, tapi ini hanya refleksi: setiap orang yang merayakan Jumat Agung, mengikuti dari rumah dengan telanjang kaki. Ini semacam ikut merasakan sengsara dan wafat Tuhan. Perayaan seperti ini bisa menggugah hati dan pikiran setiap orang untuk terlibat.”
(Clementine Roesiani, Komsos Macanan)








