Rekoleksi Kerabat MSF: Menemukan Berkat di Tengah Ketidaksempurnaan Keluarga

Twitter
WhatsApp
Email
Tim Parokial Kerabat MSF Paroki Keluarga Kudus Atmodirono menyelenggarakan Rekoleksi Kerabat MSF, Kamis (18/6/26). Kegiatan yang diikuti 174 peserta ini mengangkat tema “Mewujudkan Keluarga sebagai Gereja Kecil yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.”

Atmodirono – Tim Parokial Kerabat MSF Paroki Keluarga Kudus Atmodirono menyelenggarakan Rekoleksi Kerabat MSF, Kamis (18/6/26). Kegiatan yang diikuti 174 peserta ini mengangkat tema “Mewujudkan Keluarga sebagai Gereja Kecil yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.” Rekoleksi menghadirkan Romo Agustinus Eko Wahyu Krisputranto, MSF, Direktur Pusat Pastoral Keluarga MSF Brayat Minulya Semarang, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Romo Eko menegaskan bahwa kebahagiaan keluarga tidak selalu lahir dari kondisi yang sempurna. Keharmonisan justru tumbuh melalui proses menerima dan mengelola berbagai ketidaksempurnaan dengan kasih, pengertian, serta iman yang teguh.

Romo Agustinus Eko Wahyu MSF, narasumber tunggal dalam rekoleksi Kerabat MSF. (Foto Komsos)

“Setiap keluarga pasti memiliki tantangan, perbedaan karakter, maupun berbagai persoalan yang harus dihadapi. Namun, hal tersebut bukanlah penghalang untuk membangun keluarga yang harmonis. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang mampu menerima kekurangan satu sama lain serta terus berusaha bertumbuh bersama dalam cinta kasih dan iman,” tegas Romo Eko.

Peserta diajak untuk membangun perspektif positif dalam kehidupan keluarga. Salah satu langkah penting adalah menerima realitas keluarga sebagaimana adanya. Sikap menerima kenyataan dengan hati terbuka menjadi fondasi bagi relasi yang sehat sekaligus membantu setiap anggota keluarga menemukan berkat Tuhan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Sebanyak 174 peserta antusias mengikuti rekoleksi ini. (Foto Komsos)

Selain itu, Romo Eko mengajak peserta untuk mengenali dan menghargai benih-benih kebaikan yang dimiliki setiap anggota keluarga. Menurutnya, setiap pribadi memiliki potensi dan kelebihan yang dapat dikembangkan demi kebaikan bersama. Dengan mensyukuri dan mengembangkan hal-hal positif tersebut, keluarga dapat menjadi tempat yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan setiap anggotanya.

Pesan penting lainnya adalah mengubah cara pandang terhadap anggota keluarga. Setiap anggota keluarga hendaknya tidak dipandang sebagai sumber masalah, melainkan sebagai rekan seperjalanan yang saling mendukung dalam proses pendewasaan hidup. Dengan semangat saling membantu dan memahami, keluarga dapat menjadi komunitas yang menghadirkan kasih, penghiburan, dan kekuatan bagi semua anggotanya.

Rekoleksi ini turut dihadiri Kepala Paroki Romo Yusuf “Nano” Sunarno, MSF, bersama Vikaris Paroki Romo Th. A. Koconegoro, MSF, dan Romo Aloysius Lioe Fut Khin, MSF.

Vikaris Parokial Romo Koco MSF berharap melalui rekoleksi ini setiap umat semakin menyadari panggilannya untuk membangun keluarga yang kokoh. (Foto Komsos)

Dalam kesempatan tersebut, Romo Koconegoro atau yang akrab disapa Romo Koco menegaskan bahwa setiap keluarga dipanggil untuk menjadi gereja kecil yang menghadirkan kebahagiaan, inspirasi, dan kesejahteraan.

“Rekoleksi ini diadakan untuk mengingatkan umat bahwa semangat menjadikan keluarga sebagai gereja kecil yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan adalah tugas kita bersama. Hal ini dapat dimulai dari hal-hal sederhana, terutama dengan mengusahakan komunikasi yang baik dalam keluarga,” ujarnya.

Ia berharap melalui rekoleksi ini setiap umat semakin menyadari panggilannya untuk membangun keluarga yang kokoh melalui kerja sama, keterbukaan, dan komunikasi yang sehat antaranggota keluarga. Dengan demikian, keluarga sungguh menjadi gereja kecil yang menghadirkan kasih Allah di tengah kehidupan sehari-hari. (Carala/Elwin)