Semarang – Dalam upaya memperkuat tata kelola keuangan paroki yang profesional, transparan, dan akuntabel, Ekonomat Keuskupan Agung Semarang (KAS) menyelenggarakan Pelatihan Jobdesk Bendahara Paroki dan Inputor untuk lima Kevikepan yang ada di KAS. Kevikepan Semarang yang terdiri dari 31 Paroki dan 3 Stasi membagi pertemuan ini menjadi 2 gelombang. Gelombang pertama pada hari Jumat-Sabtu, 12-13 Juni 2026 di Griya Paseban dan hari Jumat-Sabtu, 10-11 Juli 2026 di Griya Assisi Bandungan. Kegiatan ini diikuti oleh para bendahara dan pengelola administrasi keuangan dari berbagai paroki sebagai bekal untuk meningkatkan kompetensi dalam menjalankan tugas pelayanan di bidang keuangan Gereja.

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten di bidang administrasi, akuntansi, pengelolaan aset, hingga perpajakan. Tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan teknis, kegiatan ini juga memberikan pembinaan spiritual agar para bendahara mampu menjalankan tugas pelayanan dengan penuh integritas dan tanggung jawab.

Hari pertama diawali dengan registrasi peserta dan sesi perkenalan. Materi pembuka disampaikan oleh Romo Yohanes Triwidianto, Pr., (Wakil Ekonom KAS) yang mengulas jobdesk bendahara paroki. Dalam paparannya, Romo Triwidi menegaskan bahwa bendahara memiliki peran strategis dalam mendukung misi Gereja melalui pengelolaan keuangan yang tertib, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, setiap pengelolaan dana Gereja harus dilandasi semangat pelayanan, kejujuran, dan profesionalisme sebagai bentuk tanggung jawab kepada umat.

Selanjutnya, Ibu Yusni (Dosen FEB Unika Soegijapranata) memberikan materi mengenai Akuntansi Paroki dan Keuangan Administrasi Paroki (KAP). Peserta diajak memahami prinsip-prinsip dasar akuntansi, tata cara penyusunan laporan keuangan, serta pentingnya pencatatan transaksi yang sesuai dengan pedoman yang berlaku sehingga laporan keuangan paroki dapat tersusun secara akurat dan akuntabel.

Pada sesi berikutnya, Bapak Agustinus Jarot (Ekonomat KAS) membahas format Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPB), mekanisme rapat, serta penyusunan proposal. Melalui materi ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai proses penyusunan anggaran yang sistematis sebagai dasar pelaksanaan berbagai program pelayanan di paroki.

Materi praktik kemudian dipandu oleh Bapak Markus Kresna (Ekonomat KAS), yang mengajarkan teknis input data dan membaca laporan pada aplikasi KAP. Dalam sesi ini, peserta tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga melakukan praktik langsung sehingga lebih memahami proses penginputan data, penyusunan laporan, serta penyelesaian kendala yang sering dijumpai saat menggunakan aplikasi tersebut.

Pada hari kedua, kegiatan diawali dengan aktivitas pribadi dan Perayaan Ekaristi, kemudian dilanjutkan dengan materi modul dan petunjuk teknis pengelolaan aset yang disampaikan oleh Romo Bonifasius Dwi Yuniarto, Pr., Bapak Mikael Herwindo, dan Mas Krsitoforus Nanda. Ketiganya menekankan pentingnya pendataan, pencatatan, serta pengelolaan aset Gereja secara tertib agar seluruh aset paroki terdokumentasi dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan.

Rangkaian pelatihan dilanjutkan dengan materi mengenai perpajakan, diskusi serta praktik lanjutan penggunaan aplikasi KAP, sebelum ditutup dengan sesi peneguhan spiritualitas. Sesi penutup ini mengajak peserta untuk menyadari bahwa pelayanan sebagai bendahara bukan sekadar menjalankan fungsi administratif, tetapi juga merupakan bentuk pelayanan iman yang menuntut kesetiaan, kejujuran, dan dedikasi.

Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan semakin memahami tugas dan tanggung jawab sebagai bendahara paroki, memiliki kemampuan yang memadai dalam mengelola administrasi dan keuangan Gereja, serta mampu menerapkan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang baik di paroki masing-masing. Dengan demikian, kepercayaan umat terhadap pengelolaan keuangan Gereja dapat terus terjaga dan pelayanan Gereja semakin berkembang.