Atmodirono – “Bengi iki kita ngrayake Malem 1 Sura yaiku Taun Anyar Jawa. Terus kita ngrayake taun pira? ” (Malam ini kita merayakan Malam 1 Sura, yaitu Tahun Baru Jawa. Lalu kita merayakan tahun berapa?).

Pertanyaan itu dilontarkan Romo Johanes Baptis Ibnu Fadjar Muchammad, MSF dalam homilinya saat memimpin Misa Malam 1 Sura di Gua Maria Talanging Sih Tegalsari, Paroki Keluarga Kudus Atmodirono Semarang, Senin malam (15/6/2026). Menariknya, dari sekitar 350 umat yang hadir, tidak satu pun mampu menjawab pertanyaan tersebut.
Melalui homilinya, Romo Fadjar kemudian mengajak umat menelusuri sejarah penanggalan Jawa yang melatarbelakangi perayaan Tahun Baru Jawa yang tahun ini memasuki Tahun Jawa 1960.

Malam yang sakral itu berlangsung meriah dan khidmat. Pelataran Gua Maria Talanging Sih tampak dipenuhi umat hingga nyaris tak menyisakan ruang kosong. Sekitar 350 umat dari berbagai paroki dan wilayah hadir untuk mensyukuri datangnya Tahun Baru Jawa. Tidak hanya para sesepuh, banyak kaum muda juga turut ambil bagian dalam misa inkulturasi tersebut.
Nuansa budaya Jawa terasa begitu kuat sejak awal perayaan. Alunan gamelan mengiringi lagu-lagu liturgi berbahasa Jawa, sementara para petugas tata tertib dan tim pengelola gua mengenakan surjan lurik. Sejumlah umat pun hadir dengan busana tradisional yang sama, menambah kental suasana kejawaan dalam perayaan tersebut.
Korelasi Sura dan Injil
Dalam homilinya, Romo Fadjar menjelaskan bahwa Tahun Baru Jawa 1 Sura ditetapkan pada masa pemerintahan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram pada tahun 1633 Masehi. Kalender Jawa lahir sebagai upaya menyatukan masyarakat Jawa dengan memadukan sistem penanggalan Hindu-Saka dan kalender Islam-Hijriah.
“Istilah ‘Suro’ merupakan nama bulan pertama dalam penanggalan Jawa yang berasal dari kata Arab ‘Asyura’. Dalam budaya Jawa, istilah itu kemudian digunakan untuk menyebut bulan pertama dalam kalender Jawa,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Malam 1 Sura sejak lama dipandang sebagai malam yang sakral. Berbagai tradisi seperti tirakatan, perenungan diri, kirab pusaka, ziarah makam leluhur, hingga tapa bisu menjadi bagian dari cara masyarakat Jawa memaknai pergantian tahun.
Menghubungkan makna Suran dengan bacaan Injil hari itu, Romo Fadjar mengajak umat untuk menghidupi semangat kasih dan belas kasih dalam kehidupan sehari-hari.
“Welas asih marang sapadha-padha. Welas asih iku wujude yaiku kita kudu eling yen awake dhewe iki urip bareng marang wong liya. Amarga Gusti dhewe sing mrintahake yen awake dhewe kudu duwe sih kawelasan Dalem,” tuturnya.
Menurutnya, kasih kepada sesama menjadi wujud nyata permenungan diri yang sejati. Manusia tidak hidup sendiri, melainkan bersama orang lain yang juga layak menerima perhatian, kepedulian, dan cinta kasih.
Pesta Bubur Sura

Usai misa, Romo Fadjar memberikan berkat khusus untuk berbagai benda rohani milik umat seperti salib, kitab suci, rosario, dan berbagai patung. Namun, acara yang paling dinanti banyak peserta adalah pesta umat berupa santap bersama bubur Sura dan aneka jajanan pasar. Dengan penuh antusias, umat berbondong-bondong mengambil bubur Sura yang telah disiapkan panitia.
Ketua Pengelola Gua Maria dan Kapel Tegalsari, GA Bramantyo, mengatakan bahwa perayaan Suran telah menjadi agenda tahunan yang selalu mendapat sambutan hangat dari umat.
“Kegiatan Suran ini selalu dihadiri banyak umat dari berbagai tempat. Semoga tradisi yang baik ini dapat terus dilestarikan dan diselenggarakan pada tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
Perayaan Malam 1 Sura di Gua Maria Talanging Sih menjadi bukti bahwa iman Katolik dan kekayaan budaya Jawa dapat berjalan beriringan, menghadirkan ruang perjumpaan yang memperkaya spiritualitas sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur. (BD Elwin)