Atmodirono – Nuansa keberagaman budaya Indonesia terasa kental dalam perayaan Misa Multikultural bertema “Ekaristi Kaum Muda Bernuansa Nusantara” yang digelar Paroki Keluarga Kudus Atmodirono Semarang, Minggu (30/8/2026).

Perayaan Ekaristi yang dimulai pukul 08.45 WIB tersebut tidak hanya menjadi perayaan iman, tetapi juga menjadi ruang bagi umat untuk merayakan kekayaan budaya Nusantara. Umat diajak mengenakan beragam pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga suasana perayaan tampak semarak dan penuh warna.

Ekaristi dipimpin Vikaris Parokial Romo Thomas Aquinas Koconegoro, MSF, bersama Imam tamu Pater Silvinus Tinambunan, OFMCap. Perpaduan antara liturgi dan kekayaan budaya Nusantara menghadirkan suasana yang khas. Beragam busana daerah yang dikenakan umat menjadi gambaran nyata bahwa perbedaan dapat berjalan berdampingan dalam satu iman.

Dalam homili, Pater Silvinus mengajak umat untuk memandang keberagaman bukan sebagai sesuatu yang memisahkan, melainkan sebagai anugerah yang memperkaya kehidupan bersama.
“Perbedaan budaya bukanlah tembok pemisah, tetapi jalan agar kasih Kristus semakin nyata dalam kehidupan bersama,” pesannya.
Menurutnya, Gereja dipanggil untuk menjadi rumah bagi semua orang. Setiap budaya dan tradisi yang baik dapat menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan sekaligus membangun persaudaraan.

Semangat tersebut terasa semakin kuat melalui keterlibatan kaum muda dalam perayaan. Keberagaman budaya tidak berhenti pada tampilan busana, tetapi menjadi pesan bahwa generasi muda Katolik memiliki peran penting dalam merawat persatuan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Misa Multikultural ini sekaligus memperlihatkan wajah Gereja yang terbuka terhadap keberagaman. Perbedaan latar belakang budaya bukan alasan untuk terpisah, tetapi menjadi kekayaan yang dapat disatukan dalam Ekaristi.
Semangat itu sejalan dengan pesan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan untuk saling membangun” (Roma 14:19).
Melalui perayaan tersebut, Paroki Atmodirono menegaskan bahwa semangat Bhinneka Tunggal Ika dapat dihidupi pula dalam kehidupan menggereja: berbeda budaya, tetap satu dalam iman, dan bersama-sama menjadi pembawa kasih Kristus di tengah masyarakat. (Caralla/Elwin)