Demak – Pondok Pesantren Roudhotus Sholihin (PPRS) menggandeng sejumlah pihak seperti Gereja Santo Ignatius Loyola Banjardowo, Semarang Bojong Rotary Club, dan Lembaga Pendamping Usaha Buruh Tani dan Nelayan Keuskupan Agung Semarang (LPUBTN KAS) untuk menyelenggarakan Gerakan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2026 yang dilangsungkan pada hari Sabtu, 24 Oktober 2024 di PPRS.
Paroki Banjardowo dan PPRS, berada dalam satu bentang geografis yang sama dalam ancaman banjir dan rob. Hal inilah yang menjadi keprihatinan bersama di tengah HPS 2026. Tema HPS 2026: “Inovasi Hari Ini untuk Pangan Masa Depan” sangat sesuai dengan sub-tema yang diangkat, yaitu “Bumi Kritis, Pangan Menipis: Inovasi Kolektif Lintas Agama untuk Ketahanan Pangan Desa Loireng”, dimana kesadaran akan inovasi pangan di jaman ini menjadi kebutuhan mendasar bagi seluruh umat manusia tanpa memandang suku dan agama.

Dalam diskusi juga turut mengundang beberapa Perangkat Daerah terkait, di antaranya Bappeda, Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Demak (Dinpermades P2KB), Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu juga mengundang Komisi Hubungan Antar agama dan Kepercayaan (HAK) Kevikepan Semarang, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Kevikepan Semarang, dan Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) Kevikepan Semarang.
Tidak hanya diskusi kegiatan, namun juga diadakan Gerakan dan aksi nyata dengan penanaman tanaman pangan, pohon penghijauan dan toga; Gerakan dan aksi Mandiri Pangan Sehat Keluarga dan Peresmian kebun demplot pangan; Gerakan Pengelolaan sampah organik; dan Gerakan mengurangi pemborosan pangan.
Desa Loireng menjadi desa yang terdampak secara nyata dari bencana banjir dan rob yang diakibatkan penurunan muka tanah dan diperparah dengan banyaknya industri dengan eksploitasi air tanah dalam, dan menjadi titik mati aliran air, yang artinya air sudah jenuh dan susah mengalir, hingga merusak persawahan. Bencana rob yang terjadi di Desa Loireng sangat berdampak pada perekonomian warga setempat.

Menurut Gus Qodir, selaku Ketua HPS PPRS, kondisi ini diperparah dengan situasi ekonomi yang semakin sulit, salah satunya adalah dengan anjloknya harga sewa tanah atau lahan yang hanya dihargai 500 ribu pertahun. Selain itu juga berdampak pada mata pencaharian warga Loireng yang saat ini banyak beralih menjadi Buruh Pabrik ataupun Buruh harian lepas yang rentan terkena PHK. Hal ini dikarenakan dalam kurun waktu 12 tahun terakhir area sawah di Loireng telah hilang terdampak banjir.
Senada dengan itu, Frans Sinaga selaku Kabid Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup (KCLH) Paroki Banjardowo mengatakan bahwa momentum HPS dan hari Santri yang berdekatan menjadi sebuah momentum yang tepat untuk menjadi Kolaborasi nyata lintas iman bahwa “Iman tanpa perbuatan adalah mati”.
Keseruan Hari Pangan Sedunia 2026 di Pondok Pesantren Roudhotus Sholihin dapat disimak melalui video berikut: