Tuntang – Satu kebun anggur di Tuntang menjadi titik awal gerakan kecil pemberdayaan ekonomi umat. Dari upaya seorang umat pada 2019, budidaya anggur perlahan menarik umat lain untuk ikut mencoba, belajar, dan mengembangkan usaha secara bersama.

Bapak Blasius Subagyana yang menjadi pelopor budidaya anggur di Stasi Santo Pius X Tuntang, Paroki Paulus Miki Salatiga. Ketika tanaman yang dirawatnya menghasilkan buah, keberhasilan panen tersebut mendorong beberapa umat untuk mengikuti langkahnya.
Keterlibatan umat kemudian semakin terarah. Pada 2024, Tim Pelayanan Sosial Ekonomi (TimPel PSE) Stasi Santo Pius X Tuntang membentuk kelompok budidaya anggur. Umat yang bergabung tidak hanya menanam, tetapi terlibat langsung dalam perawatan tanaman hingga menghasilkan buah.
Pendampingan dilakukan secara bergantian. Tim bersama anggota kelompok melakukan kontrol perkembangan tanaman. Ketika muncul persoalan, kunjungan lapangan menjadi kesempatan untuk melihat kondisi tanaman secara langsung, berdiskusi, dan mencari solusi bersama.
Keterlibatan itu berlanjut pada tahap pemasaran. Hasil panen dipasarkan secara kolaboratif. Umat saling membantu memperkenalkan dan menjual buah anggur sehingga manfaat budidaya tidak berhenti pada proses produksi. Saat ada permintaan buah anggur di tempatnya belum berbuah, maka diambilkan dari anggota kelompok lainnya yang sudah berbuah. Sehingga permintaan dapat tetap terlayani.

Agustinus Setyo Laksono, seorang dokter hewan dan juga salah satu pendamping kelompok, mengatakan bahwa langkah berikutnya direncanakan melalui bimbingan teknis pada Oktober 2026 bagi Rayon Bagusto Anyar. Agendanya meliputi pembagian bibit serta sarana kesehatan untuk perawatan anggur.
Apa yang tumbuh di Tuntang bukan sekadar tanaman anggur. Di antara bibit, perawatan, panen, dan pemasaran, umat sedang belajar bahwa pemberdayaan menjadi lebih kuat ketika dilakukan bersama. (Robertus Lilik Siswanto).