Semarang – Sebanyak 12 Orang Muda Katolik menerima jubah dalam Ekaristi Penerimaan Jubah Frater Angkatan ke-46 Seminari Tahun Orientasi Rohani (TOR) Sanjaya Jangli Semarang, Minggu (30/8/2026).
Ekaristi dipimpin oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko, didampingi Direktur Seminari TOR Sanjaya Romo Yohanes Gunawan, Pr., serta Rektor Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Romo Alexius Dwiaryanto, Pr.
Kedua belas Frater yang menjalani tahun ajaran 2026-2027 tersebut adalah:
- Frater Albertus Magnus Albert Christian dari Paroki Babadan
- Frater Aloysius Lovandhika Yulianto (Ungaran)
- Frater Antonius Gefana Wahyu Pratama (Wonogiri)
- Frater Athanasius Raynara Noven Nugroho (Delanggu)
- Frater Cornellius Carlo Edmundio (Pakem)
- Frater Fillipus Bagus Winnandustiar (Pugeran)
- Frater Heribertus Agus Purwaka (Nanggulan)
- Frater Ignatius Aurel Tito Wijaya (Gedangan)
- Frater Ignatius Satria Putra (Ganjuran)
- Frater Michael Agung Prasetyawan Giusti (Temanggung)
- Frater Miechael Andy Wardhana (Katedral)
- Frater Nathanael Satriya Genggam Darma (Babarsari)
Penjubahan tahun ini mengangkat tema “Tuhan Menuntun dan Membarui Kekuatanku.” Sebelum menerima jubah, para Frater telah mempersiapkan diri melalui retret selama delapan hari dan penerimaan Sakramen Tobat. Mereka juga menjalani Pekan Community Building sebagai bagian dari upaya membangun kekompakan dan solidaritas Angkatan ke-46.
Jubah Bukan Sekadar Pakaian
Dalam homili, Mgr. Rubiyatmoko berdialog dengan para Frater mengenai makna jubah yang mereka terima.

Frater Bagus mengatakan bahwa jubah menjadi garis start atau titik awal bagi proses formatio untuk semakin mampu menanggapi panggilan Tuhan. Sementara Frater Gefa memaknai jubah sebagai tanda manusia baru dan identitas baru.
“Memakai jubah bermakna menjadi manusia atau identitas baru untuk berani menyangkal diri dan melayani Gereja. Berani menjaga dan membersihkan kotoran di jubah karena pelayanan supaya tetap putih,” ungkapnya.

Menanggapi jawaban tersebut, Mgr. Rubiyatmoko menegaskan bahwa penjubahan memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengenakan pakaian baru.
“Makna yang utama adalah perubahan situasi kehidupan bagi para frater. Jubah putih tanpa ornamen menandakan suci atau kudus. Maka setiap frater hendaknya berani menjaga kekudusan diri,” tegasnya.
Menurutnya, penerimaan jubah juga dapat dimaknai sebagai sebuah kelahiran baru sekaligus penegasan identitas para frater sebagai calon imam diosesan Keuskupan Agung Semarang. Uskup mengingatkan bahwa seiring perjalanan panggilan dan pelayanan, jubah yang dikenakan para frater tidak selamanya akan tetap putih dan bersih.
“Pada saatnya nanti jubah perlahan akan berwarna kusam bahkan kotor oleh karena pelayanan. Maka hendaknya kalian tiada henti melayani umat dan Gereja-Nya,” pesannya.
Dua Belas “Rasul Masa Kini”

Usai homili, Mgr. Rubiyatmoko mendoakan dan memberkati kedua belas jubah. Jubah tersebut kemudian diberikan kepada para Frater satu per satu.
Para Frater selanjutnya menuju Sakristi untuk berganti busana. Beberapa saat kemudian mereka kembali ke hadapan umat dengan mengenakan jubah putih dan membawa lilin yang kemudian diletakkan di depan patung Bunda Maria Fatima.

Rangkaian penjubahan dilanjutkan dengan doa Angkatan ke-46. Menghadap umat, para Frater kemudian menyanyikan Hymne Romo Sanjaya dan Mars Seminari TOR Sanjaya sembari mengepalkan tangan kanan di dada.
Direktur Seminari TOR Sanjaya, Romo Yohanes Gunawan, menyebut perjalanan Angkatan ke-46 sebagai sebuah “Jalan Ninja”. Menurutnya, perjalanan tersebut diwarnai berbagai pengalaman dan keterkejutan yang tidak selalu mudah, termasuk wafatnya ayah salah seorang Frater.

Romo Gunawan juga menyebut kedua belas Frater tersebut sebagai “12 rasul masa kini”.
“Saya menyebut angkatan Frater ini sebagai ‘12 rasul masa kini’ yang hari ini menerima jubah. Semoga para frater semakin menyerahkan diri kepada perlindungan Allah dan semakin terbuka pada bimbingan Roh Kudus, Sang Formator Utama,” harapnya.
Ia juga mengajak para Frater untuk sungguh-sungguh menghayati identitas sebagai kaum berjubah, sehingga kehadiran dan seluruh proses formatio mereka mampu semakin menampakkan Kristus dalam persiapan menuju imamat.
Tiga Sikap Dasar Pembinaan
Dalam kesempatan tersebut, Romo Gunawan juga menguraikan tiga sikap dasar atau komitmen yang perlu dikembangkan dalam proses pembinaan di Seminari TOR Sanjaya Jangli agar para Frater semakin memiliki karakter imami. Ketiga sikap tersebut adalah siap sedia, kesungguhan, dan kreatif.
Ketiga sikap ini menjadi bekal penting bagi para Frater untuk menjalani proses formatio dengan terbuka, disiplin, dan bertanggung jawab. Sebab, menerima jubah bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk semakin mengenal Kristus, membentuk diri, serta mempersiapkan diri menjadi pelayan Gereja dan umat Allah. (BD Elwin J)
Berikut adalah recap Penerimaan Jubah para Frater Angkatan 46: