SURAT GEMBALA USKUP AGUNG SEMARANG
MERAYAKAN HUT KE-81 KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
Disampaikan pada HR Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Sabtu – Minggu, 15 – 16 Agustus 2026
“Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”
Saudari-saudara, umat Katolik Keuskupan Agung Semarang yang terkasih, Berkah Dalem.
Pada 17 Agustus 2026, kita memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan penuh syukur, kita mengenang perjuangan para pahlawan yang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Kemerdekaan bukan hanya warisan untuk dinikmati, melainkan tanggung jawab untuk terus dirawat. Mardika iku ora mung uwal saka penjajahan, nanging uga wani mbangun urip bebarengan kang luwih adil lan sejahtera. Merdeka berarti berani membangun kehidupan bersama yang lebih adil dan sejahtera.
Surat Gembala ini bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Bunda Maria menjadi tanda harapan: Allah mengangkat dan memuliakan manusia yang setia kepada-Nya. Bunda Maria mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan untuk mementingkan diri sendiri, melainkan kebebasan untuk mengasihi, melayani, dan mengangkat martabat sesama. Bersama Bunda Maria, marilah kita membawa harapan itu ke dalam kehidupan berbangsa.
Saudari-saudara yang terkasih,
Kita bersyukur atas banyak kemajuan bangsa. Namun, berbagai persoalan masih kita hadapi. Kesenjangan ekonomi masih terasa, dan bahkan semakin terasakan akhir-akhir ini. Sebagian saudara kita masih mengalami kesulitan untuk memperoleh pekerjaan, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan tempat tinggal yang layak. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelemahan supremasi hukum, pembungkaman ruang dan masyarakat sipil, kekerasan, perdagangan manusia, dan berbagai ketidakadilan masih melukai kehidupan bersama.
Persaudaraan pun mudah retak karena perbedaan agama, etnis dan pilihan politik, sikap merasa kelompok sendiri paling benar, berita bohong, dan ujaran kebencian. Alam juga terluka: hutan berkurang dan hancur akibat penebangan secara tidak bertanggungjawab, sungai tercemar akibat limbah yang tidak diolah, sampah menumpuk hingga mengganggu kesehatan, dan penambangan yang tidak bertanggung jawab demi mengejar keuntungan ekonomi. Ini semua mengancam kehidupan masyarakat serta masa depan generasi mendatang.
Kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan memang membawa banyak manfaat positif, tetapi juga rentan merendahkan martabat manusia. Dalam ensiklik pertamanya, Magnifica Humanitas, tertanggal 15 Mei 2026, Paus Leo XIV menegaskan bahwa teknologi harus melayani manusia dan untuk kebaikan bersama. Teknologi tidak boleh menguasai, menggantikan, atau merendahkan manusia.
Di tengah berbagai persoalan itu, kita tidak boleh kehilangan harapan. Harapan kristiani bukanlah menunggu sambil berpangku tangan. Harapan menggerakkan kita untuk bertindak bersama. Terkait dengan hal ini, Nabi Yeremia berpesan, “Usahakanlah kesejahteraan kota … sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer. 29:7). Karena itu, mencintai dan membangun Indonesia menjadi bangsa yang sungguh berdaulat, adil, dan makmur merupakan bagian dari panggilan iman kita.
Saudari-saudara yang terkasih,
Sidang Pleno Federasi Konferensi-Konferensi Para Uskup Asia atau FABC, pada 20–26 Juli 2026 di Jakarta, mengajak Gereja – ya kita semua – untuk melakukan pertobatan sinodal dengan “menjadi jembatan dan pembangun jembatan”. Ajakan ini sangat penting dan relevan bagi bangsa Indonesia dengan semua kemajemukannya. Kita tidak cukup hanya hidup berdampingan. Kita dipanggil untuk membangun perjumpaan satu dengan yang lain; saling mendengarkan, memahami, dan bekerja sama membangun peradaban kasih. Itulah sebabnya dibutuhkan jembatan-jembatan dialog yang menghubungkan satu sama lain.
Menjadi jembatan berarti menghubungkan mereka yang berbeda dan mempertemukan mereka yang berseberangan dan berseteru. Kita mesti memulai dengan komunikasi kasih: berbicara jujur tanpa melukai, mendengarkan tanpa prasangka, berani meminta maaf seraya mengakui kekurangan, dan tulus mengampuni tanpa syarat. Jika ada keretakan, kita berani mengambil langkah pertama menuju perdamaian, baik di dalam keluarga, lingkungan, paroki, komunitas, tempat kerja, ataupun masyarakat.
Inilah laku pertobatan: urip bebarengan iku kudu gelem ngrungokake, ngurmati, lan nyengkuyung siji lan sijine. Hidup bersama bertumbuh ketika kita saling mendengarkan, menghormati, dan meneguhkan.
Saudari-saudara yang terkasih,
Dalam semangat ARDAS IX, kita ingin menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan. Kebahagiaan kristiani tumbuh ketika kehadiran kita membuat sesama mengalami kasih, harapan, dan kehidupan yang lebih baik. Karena itu, perayaan kemerdekaan ini mengundang kita menempuh empat langkah pertobatan bersama.
Pertama, marilah menjadi jembatan dan pembangun jembatan. Kita membangun dan mengembangkan komunikasi kasih yang saling menghormati dan mengikis perseteruan, permusuhan, atau konflik. Kita membangun dan menghadirkan ruang perjumpaan dan perdamaian.
Kedua, marilah merawat bumi untuk mengusahakan kesejahteraan yang berkeadilan. Kita dampingi keluarga miskin dan rentan. Kita dukung usaha kecil dan koperasi yang sesungguhnya dan sudah berkembang baik, serta membuka kesempatan kerja. Pada saat yang sama, kita mengembangkan laku lestari seperti mengurangi pemakaian plastik, memilah dan mengolah sampah menjadi berkah, menghemat dan menjaga sumber air, misalnya dengan membuat sumur resapan di sekitar rumah, serta menanam dan merawat pohon.
Keluarga, lingkungan, paroki, sekolah, rumah sakit, komunitas, dan lembaga Katolik mesti mempunyai langkah bersama yang jelas dan dapat dievaluasi. Kemajuan ekonomi kita upayakan bersama dengan tetap menjaga kelestarian alam, bukan dengan eksploitasi berlebihan yang merusak kehidupan.
Ketiga, marilah menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijaksana demi martabat umat manusia. Kita periksa kebenaran informasi sebelum membagikannya; tidak membuat atau menyebarkan berita bohong, fitnah, gambar palsu, dan ujaran kebencian sebagaimana masih sering kita jumpai. Teknologi memang membantu kita mengambil keputusan, namun tanggung jawab moral tetap berada pada manusia.
Keempat, kepada para pemimpin dan pemegang tanggung jawab publik, kita menaruh harapan agar berani menghentikan kebijakan yang merugikan kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat. Setiap kebijakan semoga lahir dari kesediaan mendengarkan suara dan kepentingan rakyat, terutama mereka yang lemah serta dijalankan dengan jujur, transparan, dan berpihak pada keadilan, kesejahteraan bersama, dan kelestarian alam.
Saudari-saudara yang terkasih,
Marilah merayakan kemerdekaan bangsa ini dengan syukur dan tanggung jawab. Kita tidak hanya bertanya, “Apa yang saya peroleh dari bangsa kita”, tetapi juga bertanya, “Apa yang dapat saya berikan bagi Indonesia”. Kiranya masingmasing dari kita dapat mempersembahkan satu langkah nyata: memulihkan hubungan yang retak, menolong keluarga yang kesulitan, merawat lingkungan, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta menyuarakan kebenaran dan keadilan demi kebaikan bersama.
Urip iku urup. Hidup kita hendaknya menjadi terang dan membawa manfaat bagi sesama. Semoga tema HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi titik pijak pertobatan bersama untuk membangun Indonesia yang sungguh berdaulat, adil, dan makmur.
Semoga Tuhan Yang Mahapengasih memberkati bangsa dan negara kita. Semoga Santa Perawan Maria yang diangkat ke surga, Bunda segala bangsa dan tanda harapan bagi umat beriman, menyertai perjalanan Indonesia menuju kehidupan yang semakin sejahtera, adil, makmur, manusiawi, dan lestari. Berkah Dalem. DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA ! MERDEKA !
Semarang, 8 Agustus 2026
† Mgr. Robertus Rubiyatmoko
Uskup Agung Semarang
Surat Gembala dalam bentuk PDF dapat dibaca di sini.