TPKP Pati Mengadakan Rekoleksi Keluarga: Relasi Konslet, Keluarga Kepleset

Twitter
WhatsApp
Email
Tim Pastoral Keluarga Paroki (TPKP) Paroki Pati mengadakan rekoleksi keluarga pada Minggu, 21 Juni 2026 di Aula Gereja Santo Jusup Pati.

Pati – Memperhatikan begitu banyak masalah dalam hidup berkeluarga, baik antara suami dengan istri maupun orang tua dengan anak, maka Tim Pastoral Keluarga Paroki (TPKP) Paroki Pati mengadakan rekoleksi keluarga dengan judul “Relasi Konslet, Keluarga Kepleset”. Acara yang diikuti sekitar 100 peserta ini diadakan pada Minggu, 21 Juni 2026 di Aula Gereja Santo Jusup Pati.

Sekitar 100 peserta yang terdiri dari pasangan suami-istri mengikuti rekoleksi keluarga yang diadakan TPKP Pati

Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan mars Keluarga Kudus, dan dilanjutkan dengan doa pembuka oleh Bapak Yustinus Djunadi. Ketua awam DPPH Paroki Pati, Bapak Budi Prsetya dalam sambutannya mengibaratkan bahwa pasangan pada hakikatnya berbeda untuk saling mengisi. Bagaikan roda gigi yang hanya bisa bergerak apabila antara dua roda gigi berada pada posisi saling mengisi. Justru ketika posisinya sama, maka roda gigi tidak akan bergerak. Roda gigi yang tidak bisa saling menggerakkan, menjadi roda gigi yang tidak berfungsi.

Romo Yere selaku narasumber sangat interaktif dengan peserta ketika membawakan materi

Dipandu oleh Romo Yeremias Balapito Duan, MSF sebagai narasumber, rekoleksi ini terasa asik namun tetap padat makna. Beliau yang lebih dikenal dengan panggilan Romo Yere ini, dalam materinya banyak memberi wawasan bagi pasangan untuk lebih saling mengenal serta memahami latar belakang pasangan masing-masing.

Para pasutri sangat antusias dalam mengikuti rekoleksi dan juga mengikuti permainan sederhana yang disiapkan panitia

Setiap materi yang dibawakan, selalu diselingi oleh permainan sederhana yang sarat nilai bagi pasangan. Nilai yang tersirat dalam materi serta permainan-permainan tersebut dapat dirangkum bahwa pasangan itu perlu ‘saling’. Hidup berpasangan tidak bisa jika hanya didominasi atau dinahkodai oleh satu pihak. Perlu dipahami juga bahwa pembentukan karakter anak sudah mulai sejak dalam kandungan hingga masa pertumbuhannya. Karena keluarga akan menjadi ‘keluarga orientasi’ yang sangat mempengaruhi perilaku anak saat tumbuh dewasa. Dari keluarga, anak akan dibentuk menjadi pribadi. Walau akan terpengaruh oleh lingkungan dimana dia berkembang, namun keluarga adalah model dan bekal dasar dari pribadi anak.

Diharapkan dengan adanya rekoleksi ini, hubungan keluarga baik pasutri maupun orang tua dan anak dapat berjalan harmonis. Begitu pun dengan hubungan keluarga saat ini yang berjalan kurang baik, dengan segala dinamikanya, dapat mengambil nilai dari rekoleksi ini. Kemudian menerapkannya dalam keluarga masing-masing. Tidak ada hasil yang instan, namun proses yang tekun akan menjanjikan hasil yang sepadan. Begitu pun dengan membina hubungan keluarga.