Promosi Panggilan 2026 Paroki Santo Petrus Warak menghadirkan perjumpaan yang menghangatkan hati, menaburkan benih panggilan, dan memperlihatkan betapa luasnya ladang pelayanan Tuhan.

Awal Mei 2026 menjadi hari-hari yang berbeda bagi sejumlah keluarga di Paroki Santo Petrus Warak. Di ruang tamu yang biasanya dipenuhi obrolan keluarga, di meja makan tempat anggota keluarga berbagi cerita setelah beraktivitas, atau di beranda rumah yang menjadi tempat menikmati sore hari, hadir tamu-tamu istimewa. Mereka bukan saudara jauh yang pulang kampung. Bukan pula tamu resmi yang datang untuk sebuah acara seremonial. Mereka adalah para romo, frater, bruder, dan suster yang memilih tinggal bersama umat selama beberapa hari, merasakan ritme kehidupan sehari-hari, mendengar cerita keluarga, dan ikut menyelami denyut kehidupan paroki dari jarak yang sangat dekat.

Inilah Live In Promosi Panggilan, salah satu kegiatan utama dalam rangkaian Promosi Panggilan (Prompang) 2026 Paroki Santo Petrus Warak yang berlangsung pada 8–10 Mei 2026. Selama tiga hari, para peserta dari berbagai kongregasi meninggalkan kenyamanan komunitas masing-masing untuk hidup bersama keluarga-keluarga umat. Bukan sebagai pengajar. Bukan sebagai tamu kehormatan. Melainkan sebagai saudara yang datang untuk berjumpa.

Empat Belas Kongregasi, Satu Semangat Pelayanan

Menurut Marcellino Iskin Endarwanto atau yang akrab disapa Mas Lino dari Tim Promosi Panggilan Paroki Santo Petrus Warak, Prompang tahun ini menjadi salah satu yang paling kaya dalam keberagaman. Sebanyak 14 kongregasi dan komunitas ambil bagian, yaitu CB, ADM, OSU, SND, PIJ, Anging Mammiri, Serikat Jesus (SJ), MTB, Bruder Karitas FC, CSsR, CMF, SCY, MSF, dan SVD. Bagi umat, kehadiran mereka menjadi kesempatan langka untuk mengenal lebih dekat berbagai bentuk panggilan hidup dalam Gereja. Ada yang terpanggil menjadi imam, ada yang menjadi bruder, ada pula yang mengabdikan hidup sebagai suster. Masing-masing memiliki spiritualitas, karya pelayanan, dan kekhasan sendiri. Namun semuanya berjalan menuju tujuan yang sama: melayani Tuhan dan sesama. Keberagaman itu seolah mengingatkan bahwa panggilan bukanlah jalan yang sempit. Tuhan menyediakan banyak jalan untuk melayani, dan setiap jalan memiliki keindahan serta tantangannya sendiri.

 

Ketika Sawah Menjadi Ruang Belajar

Di antara berbagai cerita yang lahir selama live in, pengalaman Bruder Valensius Ngardii MTB—yang akrab dipanggil Bruder Flavi—menjadi salah satu kisah yang paling membekas. Selama tinggal bersama umat, Bruder Flavi tidak hanya mengikuti kegiatan doa atau pertemuan lingkungan. Ia diajak berkunjung ke rumah-rumah tetangga, bertemu anak-anak, remaja, dan orang muda Katolik, bahkan menikmati waktu santai dengan memancing bersama. Namun justru pengalaman sederhana di sawah yang paling membekas di hatinya. Saat diajak melihat dan mengenal kehidupan para petani, Bruder Flavi menemukan sesuatu yang tidak pernah ia jumpai di kampung halamannya di Manggarai.

“Banyak ilmu yang saya dapat dari proses itu. Di tempat lahir saya di Manggarai, hal seperti ini tidak saya temukan,” tuturnya. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa hidup membiara tidak membuat seseorang terpisah dari kehidupan nyata. Sebaliknya, panggilan religius justru mengajak seseorang untuk terus belajar dari kehidupan sehari-hari. Hari itu sawah berubah menjadi ruang kelas. Para petani menjadi guru. Dan seorang bruder pulang membawa pelajaran baru tentang kehidupan.

Parkiran Gereja yang Berubah Menjadi Pesta Panggilan

Rangkaian Prompang 2026 mencapai puncaknya pada Minggu, 10 Mei 2026. Pagi itu, umat memenuhi Gereja Santo Petrus Warak untuk mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin Romo Yohanes Doni SVD bersama empat Diakon SVD dan seorang Diakon dari Serikat Jesus. Sejak misa berlangsung, suasana sudah terasa istimewa. Berbagai bentuk panggilan hadir dalam satu perayaan yang sama, menunjukkan wajah Gereja yang hidup dan beragam. Kemeriahan berlanjut setelah misa usai.

Area parkir belakang gereja yang biasanya dipenuhi kendaraan mendadak berubah menjadi ruang perjumpaan yang ramai dan penuh warna. Dari pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, Expo Panggilan dan Karya Pendidikan menghadirkan berbagai stan dari kongregasi dan komunitas yang berpartisipasi. Ada yang mengajak bermain, ada yang memperkenalkan karya pelayanan, ada yang menyuguhkan kopi, bahkan ada yang membagikan kaos kepada pengunjung. Anak-anak berlarian dari satu stan ke stan lain. Remaja dan orang muda sibuk bertanya mengenai kehidupan membiara. Para orang tua turut menyimak dan berbincang dengan para peserta expo. Tidak ada jarak yang kaku. Yang ada hanyalah suasana hangat sebuah keluarga besar.

Mimpi Seorang Anak Bernama Axel

Di tengah keramaian itu, seorang anak kecil menjadi pusat perhatian. Namanya Axel. Siswa kelas 4 SD yang sedang mempersiapkan diri menerima Komuni Pertama itu tampak bersemangat mengunjungi hampir setiap stan yang ada. Ia mengobrol dengan para romo, suster, bruder, dan frater. Sesekali ia mengajak mereka berfoto bersama dengan wajah yang berbinar-binar. Ternyata Axel telah lama menyimpan sebuah cita-cita. Ia ingin menjadi seorang romo.

Hari itu, setelah berkeliling dan mengenal berbagai kongregasi, mimpinya menjadi semakin jelas. Dengan penuh keyakinan ia mengatakan ingin menjadi Romo Jesuit. Mungkin di situlah letak keindahan sesungguhnya dari Promosi Panggilan. Bukan hanya para biarawan dan biarawati yang pulang membawa pengalaman baru setelah hidup bersama umat. Bukan hanya keluarga-keluarga yang memperoleh kesempatan mengenal kehidupan religius dari dekat.

Tetapi juga karena di tengah keramaian sebuah expo sederhana, seorang anak kecil pulang dengan mimpi yang semakin terang. Benih panggilan memang sering tumbuh dengan cara yang tidak terduga. Kadang berawal dari percakapan di ruang tamu. Dari perjalanan ke sawah. Dari secangkir kopi di stan pameran. Atau dari perjumpaan singkat yang meninggalkan kesan mendalam. Dan selama tiga hari itu, Paroki Santo Petrus Warak sekali lagi menunjukkan dirinya sebagai tanah yang subur bagi benih-benih panggilan untuk bertumbuh dan berbuah pada waktunya.