Meningkatnya Indeks Kerukunan Jawa Tengah – DIY

Survei Evaluasi Kerukunan Umat Beragama 2025 oleh Kementerian Agama bekerja sama dengan Pusat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (P3M) Universitas Indonesia (UI) menghasilkan Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025 dengan skor 77,89, tertinggi sejak survei 2015.  IKUB adalah instrumen pengukur tingkat kerukunan yang dikembangkan berdasarkan tiga indikator utama: Toleransi, Kesetaraan, dan Kebersamaan.

Untuk Jawa Tengah dan DIY, kita patut merayakan IKUB 2025 yang masing-masing mencapai 80,07 dan 84.82, melampaui rata-rata nasional dan masuk kategori “sangat rukun”. Ini membuktikan semakin kokohnya semangat toleransi dan gotong royong antar umat beragama di wilayah ini. Inilah cerminan keseharian kita: takjil yang dibagikan lintas iman, festival yang dirayakan bersama, dan doa yang dinaikkan dengan damai.

Percakapan publik di media sosial selama Januari–Februari 2026 pun mencerminkan suasana yang sama: sekitar 70–80% bernada positif, dipenuhi rasa bangga, haru, dan optimisme. Momentum Ramadan berdampingan dengan Imlek dan menjelang Paskah menjadi panggung nyata toleransi yang hidup. Jawa Tengah dan DIY tetap menjadi contoh positif kerukunan beragama di Indonesia.

 

Merefleksikan Kabar Baik

Apakah angka yang naik mencerminkan realita yang sesungguhnya bagi semua orang, termasuk mereka yang berada di posisi minoritas dan rentan?

Setara Institute mengungkapkan bahwa meskipun IKUB naik, pola intoleransi bergeser. Bila semula hanya kelompok terorganisir, diikuti oleh ormas tertentu dan aparat negara, kini aktor utama intoleransi justru adalah warga biasa. Perubahan ini yang perlu kita cermati dengan serius. Ketika intoleransi tidak lagi datang dari lembaga formal tetapi dari tetangga, rekan kerja, atau komunitas sehari-hari, maka ancamannya menjadi lebih tersebar dan lebih sulit dideteksi. Selain itu, Laporan CRCS UGM (2020–2024) juga mencatat bahwa meskipun harmoni mendominasi narasi di DIY, kelompok minoritas tetap menghadapi tantangan nyata.

 

Menelusuri Akar Lebih Dalam

Akar masalah intoleransi sering kali bersifat material, walaupun kerap menggunakan bahasa identitas — agama, suku, adat.  Ketika sumber daya terbatas, ketika persaingan ekonomi menguat, atau ketika kesenjangan sosial melebar, identitas dimanfaatkan sebagai senjata untuk membenarkan pengucilan. Inilah paradoks yang sering luput dari perhatian.

Berdasarkan hal ini, maka penting untuk menggarisbawahi sejumlah hal penting.

 

Memelihara Kabar Baik

Kabar baik IKUB perlu dipelihara secara aktif. Sebagai umat Kristiani, kita dipanggil bukan hanya menjadi penerima kerukunan, tetapi penjaga dan pembangun kerukunan. Beberapa hal yang bisa kita lakukan mulai dari dalam komunitas kita sendiri.

 

Gereja yang Inspiratif: Sebuah Cermin

Tagline “Gereja yang Inspiratif” mengundang kita untuk bertanya secara jujur: apakah kita sebagai umat menginspirasi nilai-nilai yang berkaitan dengan kerukunan? Apakah kehidupan kita — cara kita bekerja, bertetangga, berbisnis, bermedsos — menjadi kesaksian yang memperkuat budaya toleransi?

Gereja yang inspiratif bukan yang paling megah gedungnya atau paling ramai programnya. Gereja yang inspiratif adalah komunitas yang hidupnya menjadi jawaban atas pertanyaan dunia: “Apakah mungkin manusia hidup bersama dalam perbedaan?” Kita dipanggil untuk menjawab: “Ya, dan inilah contohnya.” Toleransi yang sejati bukan hanya tidak menyakiti. Ia adalah keberanian untuk hadir, untuk berbagi, dan untuk membela yang rentan.

 

Dari Toleransi, Kembali ke Keluarga

Refleksi ini mengarah pada satu kesimpulan yang sederhana namun krusial. Perubahan sosial yang berkelanjutan dimulai dari unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga. Ketika kita berbicara tentang toleransi dan intoleransi, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang apa yang kita hidupi di rumah, apa yang kita ajarkan kepada anak-anak kita, dan bagaimana kita membentuk identitas bersama sebagai komunitas iman.

Ke depan kita perlu pula mengkaji bagaimana keluarga Kristiani menghadapi tekanan-tekanan zaman — ekonomi, digital, dan sosial — sekaligus tetap menjadi pelaku perdamaian di tengah masyarakat.

 

Laporan kajian dapat diunduh dalam versi pdf di tautan ini.