Ziarah Relikui Para Kudus di Paroki Kebon Dalem

Twitter
WhatsApp
Email
Menghirup kembali tradisi kuno Gereja Latin, Paroki Santo Franciscus Xaverius Kebon Dalem bekerja sama dengan Saintpedia menyelenggarakan rangkaian acara "Ziarah Relikui" yang berlangsung pada 19-22 Maret 2026.

Kebon Dalem – Menghirup kembali tradisi kuno Gereja Latin, Paroki Santo Franciscus Xaverius Kebon Dalem bekerja sama dengan Saintpedia menyelenggarakan rangkaian acara “Ziarah Relikui” yang berlangsung pada 19-22 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi oase spiritual bagi umat di Wilayah Semarang dan sekitarnya, tepat di tengah momentum Masa Prapaskah dan Hari Raya Santo Yosef.

“Kita tahu bahwa masa Prapaskah adalah retret agung kita yang hendaknya diisi dengan pantang atau puasa, derma, dan doa. Dalam konteks inilah kegiatan ziarah ini hendak ditempatkan. Gereja Kebon Dalem mengadakan kegiatan bersama komunitas Saintpedia yaitu Ziarah Relikui. Kami mengundang umat untuk mengisi masa pertobatan ini dengan berziarah dan berdoa,” ungkap Romo Yustinus Slamet Witokaryono, Pr., Pastor Paroki Kebon Dalem.

Meneladani Para Kudus melalui Relikui Kelas Pertama

Tujuan utama dari ziarah ini adalah menghadirkan relikui kelas pertama (bagian tubuh) dari para kudus agar dapat dihormati oleh umat beriman. Melalui kontak fisik yang sakral ini, umat diundang untuk mengenal lebih dekat kesaksian iman para kudus yang telah jaya di Surga.

Relikui yang dihadirkan di Paroki Kebon Dalem

Adapun relikui suci yang dihadirkan meliputi:

  1. Mantol Santo Yosef, Suami Santa Maria
  2. Kerudung Santa Maria, Perawan Terberkati
  3. Serpihan Tulang Santo Antonius Padua
  4. Debu Jenazah Santo Theresia Lisieux
  5. Relikui Salib Suci

Pemilihan relikui ini memiliki makna mendalam. Relikui Santo Yosef dihadirkan bertepatan dengan hari rayanya, sementara Santa Theresia dari Lisieux dipilih untuk mengenang perannya yang menginspirasi Pastor Beekman, SJ dalam merintis misi Katolik di Kebon Dalem. Bisa dikatakan, Santa Theresia Lisieux adalah santa pelindung kedua setelah Santo Fransiskus Xaverius.

Menghidupkan Tradisi “Gereja Stasi”

Selama empat hari, Gereja Kebon Dalem bertransformasi menjadi “Gereja Stasi” (Station Churches), sebuah tradisi Roma di mana gereja-gereja tertentu membuka pintu bagi peziarah selama Masa Prapaskah.

Umat yang hadir berdoa dan melakukan penghormatan di depan relikui

Kegiatan dibuka dengan Misa Hari Raya Santo Yosef pada 19 Maret 2026 oleh Romo Estaphanus Gerardus Willem Pau, Pr., Vikaris Parokial Kebon Dalem. Selama jam ziarah, relikui ditakhtakan dalam kotak akrilik khusus di depan panti imam. Umat dapat berdoa dan melakukan penghormatan dengan tertib tanpa menyentuh wadah relikui (reliquary) secara langsung untuk menjaga kelestarian lapisan emasnya.

Edukasi Iman melalui Seminar Tentang Relikui
Seminar tentang Relikui orang kudus bersama Mikael Reynald Mulya Widarsa

Tak hanya sekadar penghormatan fisik, sisi katekese juga diperkuat melalui Seminar tentang Relikui yang diadakan pada Kamis, 19 Maret 2026 di Ruang A1 Gedung Pastoral. Menghadirkan narasumber Mikael Reynald Mulya Widarsa (Co-founder Saintpedia), seminar ini dihadiri oleh 120 peserta yang antusias dari berbagai paroki seperti Katedral, Karangpanas, Sendangguwo, Atmodirono, Gedangan, Banyumanik, BSB, Semarang Indah hingga peserta dari Solo, Yogya, dan Ungaran.

Antusiasme Umat dari Berbagai Penjuru

Ziarah ini mencatatkan sebanyak 481 kunjungan, baik pribadi maupun kelompok. Peziarah tidak hanya datang dari lingkup Semarang (seperti Paroki Sendangguwo, Gedangan, Katedral, dan Karangpanas), tetapi juga dari luar kota dan luar pulau, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Lampung, hingga Denpasar.

Panitia Ziarah Relikui telah mempersiapkan diri dengan menyiapkan para volunteer yang bertugas untuk mendampingi para peziarah. Sebagian besar para volunteer berasal dari kalangan orang muda.

Rangkaian acara ditutup pada Minggu, 22 Maret 2026, setelah Misa Minggu Prapaskah V. Melalui ziarah ini, diharapkan umat mendapatkan pengalaman iman yang meneguhkan, serta semakin berkobar dalam meneladani hidup para kudus di tengah panggilan hidup masing-masing.