Sendirian

(Permenungan Jumat Agung – 10 April 2020, oleh: Mgr Robertus Rubiyatmoko)

“Sendirian”. Itulah sebuah kata yang kiranya dapat secara sederhana melukiskan pergumulan dan pergulatan Yesus di akhir kehidupanNya. Yesus merasa sendirian dan harus berjuang sendirian menanggung akibat dari keputusanNya ketika Ia berkata “Ya BapaKu, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu”.

Sebuah keputusan bebas-merdeka yang menyeretNya pada kematian di kayu salib. Dan Yesus harus menanggungnya sendirian.

Orang-orang dekatNya telah lari meninggalkanNya, mencari aman dan selamat sendiri. Mungkinkah ini merupakan gambaran diri kita yang mudah melarikan diri ketika menghadapi kesulitan atau tidak peduli pada orang lain yang mengalami kesulitan?

Lalu, siapa orang-orang dekatNya yang meninggalkanNya?

  • Murid-muridNya, semua menyingkir dan menjauh dariNya;
  • Petrus yang awalnya tampil garang dengan pedangnya pun, menyembunyikan diri; dan bahkan kemudian sampai 3x menyangkal menjadi murid Yesus
  • Tidak ada seorang pun yang menemani dan membelaNya di pengadilan. Yesus harus berjuang sendirian.
  • Hanya IbundaNya, Maria ditemani beberapa perempuan lain, yang setia mengikuti perjalanan salib Puteranya. Satu-satunya penghiburan yang meneguhkan.

Sendirian Yesus harus menanggung olok-olok dan penyesahan di hadapan banyak orang, dan akhirnya harus sendirian memanggul salib menuju ke Golgota.

Dan puncak kesendiriannya terdengar ketika Ia berseru: “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku”.

Sebuah jeritan yang mengungkapkan pengalaman sendirian yang sangat mendalam. Meskipun demikian Yesus tetap bertahan dan berjuang sampai akhir. Semua ditanggung dan dijalaniNya dengan “legawa”, dengan penuh kerelaan dan kebebasan.

Itu semua Yesus lakukan demi cintakasih yang tulus dan total kepada kita manusia berdosa. Dosa dan kelemahan kitalah yang ditanggungNya. Derita dan bilur-bilurNya mendatangkan penebusan dan keselamatan bagi kita. KematianNya di kayu salib menghasilkan kehidupan bagi kita semua, orang beriman.

Pantaslah kita semua bersyukur dan berterimakasih kepada Yesus yang telah sendirian menanggung dosa kita demi keselamatan dan kebahagiaan kita. Penderitaan dan kematianNya di kayu salib menjadi sumber kehidupan dan sukacita kita.

Yesus telah memberi kita teladan bagaimana menjalani panggilan penyelamatan dengan tuntas penuh kesetiaan, juga ketika panggilan itu menuntut kurban.

Kita pun diajak untuk menjalani dan menanggung panggilan kita masing-masing dengan tuntas, penuh kesetiaan, sampai akhir. Juga ketika harus menghadapi banyak kesulitan, disingkirkan dan ditolak orang lain. Yang pasti kita tidak akan sendirian, karena Tuhan pasti menolong kita.

Kita akan menyampaikan terimakasih kepada Yesus Tuhan dengan  menghaturkan hormat dan bakti kepada Yesus yang tergantung di kayu salib. Karena itu kita persiapkan diri untuk penghormatan salib.

 

 

Facebook
Google+
Twitter

Kabar lain

INDONESIA MAJU

SURAT GEMBALA 75 TAHUN KEMERDEKAAN INDONESIA USKUP AGUNG KEUSKUPAN AGUNG