Sejarah Keuskupan Agung Semarang

Semboyan Gold, Glory, Gospel  ternyata berdampak bagi karya misi Gereja. Para misionaris pun membonceng kapal Portugis dan Spanyol untuk melayani para awak kapal sekaligus membuka peluang karya misi di tempat baru. Tak luput di wilayag Semarang. Pertama kali, dua imam Dominikan (OP) yakni Manuel de St. Maria OP dan Pedro de St. Joseph OP mendapat sebidang tanah dari sultan Mataram untuk melayani umat Katolik yakni para pedagang Portugis di Jepara tahun 1640. Akan tetapi, karya misi sempat dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai dampak persaingan kartel dagang VOC dengan negara-negara Eropa lainnya.

Paus Pius VII

7 Agustus 1806, Raja Louis/ Lodewijk Napoleon mendeklarasikan kebebasan beragama di wilayah Hindia Belanda setelah dua abad. Tak selang lama, datanglah dua misionaris diosesan dari Belanda yakni Jacobus Nelissen dan Lambertus Prinsen. Mereka berdua tiba di Batavia tanggal 4 April 1808. Sepekan kemudian, tanggal 10 April 1808 mereka menyelenggarakan Ekaristi publik pertama yang menjadi tonggak bersejarah karya Gereja Katolik di Indonesia. Situasi penuh berkat ini disambut baik oleh Tahta Suci, atas persetujuan dari Louis Napoleon, tanggal 8 Mei 1807, Paus Pius VII mendirikan Prefektur Apostolik bagi Hindia Belanda dan menunjuk Pater Jacobus Nelissen menjadi Prefektur Apostolik Batavia dengan dua stasi yakni Semarang dan Surabaya. Pater Lambertus Prinsen, mulai menetap di Semarang tanggal 27 Desember 1808.

Pater Lambertus Prinsen

Selama kurang lebih 50 tahun, Prefektur Apostolik Batavia dilayani maksimal 31 imam misionaris diosesan. Hal ini dikarenakan adanya batasan pelayan pastoral di wilayah Hindia Belanda. Ditambah lagi, terdapat minimnya imam diosesan Belanda. Salah satu jalan keluar, Mgr. Vranken mendatangkan para Jesuit dari Belanda ke Indonesia. Tahun 1842, Prefektur Apostolik Batavia dinaikkan menjadi Vikariat yang membawahi 8 stasi; Batavia, Semarang, Ambarawa, Yogyakarta, Surabaya, Larantuka, Maumere dan Padang. Dari tahun 1859-1898 tercatatlah 107 Jesuit (89 imam dan 18 bruder) menjalani karya misi di Hindia Belanda.

Van Lith, SJ

Tanggal 23 Mei 1893, Pater Walterus Staal –saat itu menjabat sebagai Pastor di Singkawang- ditunjuk Propaganda Fide mengemban tanggung jawab sebagai Vikaris Apostolik Batavia. Ditandailah penyerahan Misi Indonesia oleh Serikat Jesus. Tak bisa dipungkir bahwa tantangan karya misi adalah soal bahasa, sumber daya manusia dan relasi antara para misionaris dengan pemerintah Hindia Belanda kala itu. Akan tetapi, kendala tak menghambat para misionaris untuk menyemaikan Kabar Gembira di tanah Jawa. Sejarah mencatat kiprah para misonaris seperti L. Prinssen (Semarang, 1808), C.J.H Frassen (Ambarawa, 1859), J.B Palinckx, SJ (Yogyakarta1865), Voogel, SJ (Magelang, 1889), van Lith, SJ (Muntilan, 1889).

Saking luasnya wilayah Vikariat Apostolik Batavia, Proganda Fide perlu membagi wilayah misi Gerejani. Dengan Dekrit 22 Desember 1902, didirikanlah Prefektur Alostolik New Guinea yang dipercayakan kepada Misonares du Sacre Coeur de Jesus (MSC). Disusul Dekrit 11 Februari 1905 untuk mendirikan Prefektur Nederland-Borneo dan 30 Juli 1911 untuk wilayah Prefektur Sumatera. Keduanya diserahkan kepada Kapusin Belanda. Selanjutnya, Dekrit 16 September 1913 dan tanggal 23 Juli 1914 menyatakan pembentukan Prefektur Sunda Kecil. Adapun yang diminta untuk mengurus misi ini adalah tarekat Societas Verbi Divini (SVD). Tak ketinggalan di wilayah Sulawesi, tanggal 19 November 1919, Propaganda Fide menunjuk MSC untuk menjalankan reksa pastoral wilayah tersebut.

Mgr. Petrus Johannes Willekens, SJ

Untuk mengoptimalkan karya misi di Jawa, para Jesuit meminta Propaganda Fide memberikan kepada Ordo atau Kongregasi yang siap berkarya di Vikariat Apostolik Batavia. Usul tersebut diterima. Pulau Jawa terbagi dalam beberapa prefektur sepertu Malang (OCarm), Surabaya (CM), Bandung (OSC), Purwokerto (MSC), Sukabumi (OFM). Dengan demikian Misi Jesuit dapat terpusat di Batavia, Jawa Tengah dan Jogjakarta. Mereka pun tidak hanya melayani para Katolik-Belanda melainjan juga membuka pelayanan misi kepada orang-orang pribumi. Tak heran bila misi Jesuit di Jawa dapat dikatakan berhasil.

Misi Jesuit pertama kepada orang Jawa diemban oleh Gulielmus Hellings dan Ludovicus Hebrans (1896). Akan tetapi, dua tahun sebelumnya, Pater Julius Keijzer telah mulai mengajarkan iman Katolik di daerah Lamper (Semarang) dan Bedono.  Para misionaris ini dibantu oleh Mattheus Teffer dan Johannes Vreede. Mereka berdua ialah awam yang telah menguasai bahasa Jawa. Misi Jesuit di Jawa berawal dari jalur pendidikan. Mereka mendirikan sekolah di daerah Lamper dan Mlaten. Sejurus kemudian, Pater Julius Keijer mengirim surat kepada Superior Misi untuk memperkuat karya pelayanan di Jawa. Maka diutuslah Pater van Lith, Pater Hoevenaars, dan Pater Engbers.

Pada awalnya, Pater van Lith dan Hoevenaars bertugas bersama-sama di Kedu, tepatnya Muntilan dan Mungkid. Sedangkan Pater Engbers diberi tugas di Flores –baru setelah dua tahun, ia kembali ke Jawa dan menjadi Superior Misi tahun 1904-. Akan tetapi, setelah melihat bakat dan talenta para misionaris, Pater Hoevenaars dipindahtugaskan di Semarang untuk mengurus sekolah calon katekis yang didirakan oleh Pater Hebrans. Para misionaris ini berdinamika dengan metode misi melalui jalur pendidikan dan kesehatan untuk masuk ke hati umat Jawa.

Tidak dinyana, saat  Pater van Lith mengalami kegelisahan rohani, empat orang penatua daerah Kalibawang meminta untuk dipermandikan di Muntilan tanggal 20 Mei 1904. Salah satunya ialah Bapak Barnabas Sarikrama. Mereka berempat ternyata merupakan katekis-katekis pribumi yang handal. Tujuh bulan setelah peristiwa pembaptisan itu, 171 penduduk Kalibawang meminta untuk dipermandikan. Bulan Desember 1904 di Sendang Sono, menjadi pematik sejarah karya misi Jawa terlebih untuk Keuskupan Agung Semarang kemudian.

Mgr Albertus Soegijapranata, SJ

Tahta Suci nampaknya sangat serius dalam menindaklanjuti usulan Mgr. Petrus Johannes Willekens, SJ yang saat itu menjabat sebagai Vikariat Apostolik Batavia. Karena jumlah Umat yang kian hari semakin bertambah, dirasa sudah waktunya Semarang menjadi sebuah Provinsi Gerejani. Melalui Konstitusi Apostolik Vetus de Batavia, Paus Pius XII mendirikan Vikariat Apostolik Semarang tanggal 25 Juni 1940. Semarang yang merupakan stasi mengalami lompatan menjadi Vikariat Apostolik tanpa melaui “Prefektur Apostolik”.  Kemudian, diangkatlah Rama Albertus Soegijapranata, SJ, seorang imam pribumi, menjadi Vikaris Apostolik. Beliaulah gembala pertama, Keuskupan Agung Semarang.