Sarasehan Kebangsaan: Peran Umat Katolik dalam Pemilu 2024

Twitter
WhatsApp
Email

Hari Minggu, 14 Januari 2024, Sekretariat Bersama (Sekber) Indonesia Damai Kevikepan Semarang kembali melaksanakan pelayanan edukasi kebangsaan di Paroki Santo Paulus Sendangguwo. Jika sebelumnya peserta yang diundang dari kalangan pemilih pemula yang terdiri dari para pelajar, kali ini peserta berasal dari Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan, dan penggiat kemasyarakatan di Paroki Sendangguwo, yang berkisar 50 orang.

Acara yang diselenggarakan atas kerjasama Paroki Sendangguwo ini dimoderatori oleh Andreas Nur Cahya atau yang akrab disapa Bang Norman dan selaku pembicara adalah Petrus Bangkit Suryo Nugroho atau yang akrab disapa Gus Aang, dari Tim Sekber Indonesia Damai Kevikepan Semarang.

Peserta yang hadir dari Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan, dan penggiat kemasyarakatan (dok. Sekber Kev Smg)

Acara diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa bersama dan dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua (Waka) Dewan Paroki Sendangguwo, Bapak Haryanto yang akrab disapa dengan Pak Cece. Ada pertanyaan menarik di awal acara dari Waka Sendangguwo, yaitu “Apakah kita sebagai umat Katolik boleh golput apabila tidak ada caleg atau Capres – Cawapres yang bisa dianggap merepresentasikan suara umat Katolik?”

Menanggapi pertanyaan tersebut, Gus Aang menjawab, “Semangat dan spiritualitas Mgr. Soegijapranata dalam kebijakan politik kebangsaan Gereja Katolik yang dituangkan melalui 100% Katolik, 100% Indonesia perlu diterapkan oleh setiap umat Katolik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.” Artinya,┬ásebagai umat Katolik dan Warga Negara Indonesia, kita harus berperan serta aktif dalam pesta demokrasi bangsa Indonesia yaitu Pemilu 2024 mendatang.

Menjadi pertanyaan besar, mengapa umat Katolik harus aktif berpolitik dan melibatkan diri dalam penentuan kebijakan berbangsa dan bernegara di Indonesia? Gus Aang dengan lugas menjelaskan bahwa ada tantangan yang dapat membahayakan nasib bangsa Indonesia sebagai negara kesatuan antara lain :

  1. Adanya masyarakat yang belum menikmati dan merasakan manfaat dari Ideologi Pancasila
  2. Ancaman radikalisme dan terorisme.
  3. Adanya sebagian masyarakat Indonesia yang ingin merubah dasar Negara Pancasila
  4. Perang global
  5. Isu lingkungan

Dalam menyikapi tantangan tersebut, Gus Aang menyebutkan bahwa umat Katolik harus menjadi umat yang cerdas dan aktif dalam menentukan pilihan wakil rakyat dan calon pemimpin bangsa Indonesia (Capres-Cawapres). Gus Aang menyampaikan bahwa ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh umat Katolik untuk menjadi pemilih yang cerdas :

  1. Secara aktif melakukan pengecekan di website kpu.go.id, apakah umat di Paroki Sendangguwo sudah terdaftar dan tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT)
  2. Cermati dan carilah informasi terkait rekam jejak Caleg serta Capres dan Cawapres yang berkontenstasi pada Pemilu 2024, agar dapat memilih dengan cermat Caleg serta Capres dan Cawapres yang dapat merepresentasikan suara dan kebutuhan umat Katolik di Kevikepan Semarang
  3. Cermati partai politik pendukung para Caleg serta Capres dan Cawapres yang sudah disahkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dapat mengikuti Pemilu 2024. Pastikan bahwa partai politik pendukung Caleg serta Capres dan Cawapres memiliki dasar Pancasila, UUD 1945, NKRI harga mati.
  4. Pastikan bahwa partai politik koalisi pendukung Caleg serta Capres dan Cawapres memiliki program kerja yang dapat mensejahterakan rakyat dan mengakomodir kebutuhan dan suara umat Katolik.
  5. Hindari Money Politic

Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, dimana umat yang hadir antusias dan aktif dalam bertanya. Dalam menyikapi dinamika politik yang terjadi saat ini, Gus Aang berpesan sebagai berikut :

  1. Jangan baperan, berpolitiklah dengan hati nurani. Pilihlah Caleg serta Capres dan Cawapres berdasarkan hati nurani, jangan menyerahkan pilihan kita pada orang lain sekalipun mungkin Romo atau tokoh agama Katolik memiliki pilihan pada salah satu Caleg serta Capres dan Cawapres tertentu.
  2. Jangan mudah termakan HOAX. Saat ini beredar framing terkait etika, seolah-olah sekarang ada yang mendadak berbicara mengenai etika. Bila berbicara mengenai Capres dan Cawapres saat ini misalnya, masing-masing memiliki masa lalunya sendiri yang mungkin kurang baik. Tetapi cermati juga program-programnya saat ini. Jangan pula mudah termakan framing yang dilontarkan oleh berbagai pihak, jadilah umat Katolik yang cerdas dalam berpolitik kebangsaan.
Caleg Katolik yang turut hadir dalam Sarasehan Kebangsaan di Sendangguwo (dok. Sekber Kev Smg)

Dengan berakhirnya sesi tanya jawab, dilanjutkan dengan pengenalan Caleg Katolik yang turut hadir, yaitu Caleg DPRD kota Semarang dengan Daerah Pemilihan (Dapil) 2 yang meliputi kecamatan Gayamsari, Kecamatan Pedurungan, Kecamatan Genuk, Caleg DPRD Provinsi Jateng Dapil 1 yang meliputi Kota Semarang, dan Caleg DPR RI dari Dapil 1 yang meliputi Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, dan Kota Salatiga. Diharapkan, umat Katolik dapat mengenal calon yang akan menjadi wakilnya di legislatif mulai dari tingkat Kota Semarang, Provinsi Jateng, dan DPR RI.

Sebagai akhir dari rangkaian kegiatan edukasi kebangsaan di Paroki Sendangguwo ini, Romo Widyo MSF selaku Romo Paroki menyampaikan sapaan dan beberapa pesan sebagai berikut:

  1. Umat Katolik diharapkan senantiasa selalu menyucikan dunia dengan srawung di tengah masyarakat, melalui cara-cara yang sederhana di lingkungan masyarakat sekitar. Cara menyucikan masyarakat adalah dengan membangun, manata masyarakat demi kebaikan bersama termasuk ikut menentukan kebijakan-kebijakan bersama.
  2. Umat Katolik pada umumnya terlalu nyaman tinggal dalam zona sendiri, lalu tidak mau keluar di tengah masyarakat. Maka, diharapkan mulai terlibat di tengah persoalan dan konteks keprihatinan masyarakat.
  3. Peran umat Katolik dalam Pemilu 2024, diharapkan lebih peduli dan menjaga marwah cinta kasih di tengah masyarakat. Lalu anjurannya apa? Setiap periode memiliki situasi yang berbeda-beda sehingga mempengaruhi kebijakan politik gereja, sehingga para pemimpin Gereja Katolik perlu melakukan permenungan, yaitu dengan menggunakan hak pilihnya dengan baik, dan memilih calon yang membawa kesejahteraan bagi Bangsa Indonesia.
  4. Terlibatlah sedapat mungkin dengan menjadi saksi, petugas TPS dan lain sebagainya, sebagai wujud orang Katolik yang mampu bekerja dengan baik, menjamin kejujuran, menjamin kebebasan memilih.
  5. Gereja mendukung dan mendorong umatnya agar tidak tabu terjun di dunia politik, dengan berlandaskan kemampuan & kompetensi masing-masing. (Wempy)