Paroki Administratif Santa Maria Mater Dei Bonoharjo

Jadwal Misa

Harian
05.30 WIB


Jumat Pertama
19.00 WIB

Minggu 
07.00 WIB

Profil Paroki

Awal perjalanan sejarah Gereja Bonoharjo berkaitan dengan berdirinya sekolah-sekolah yang dirintis oleh Rm. FX. Strater, S.J., yaitu Volksschool atau Sekolah Rakyat (SR) yang berjenjang tiga tahun di Kalimenur pada tahun 1927 dan di Milir pada tahun 1929, serta Vervolgschool atau SR lanjutan yang berjenjang dua tahun di Bonoharjo (kini Demangrejo) pada tahun 1938.

Awal perjalanan sejarah Gereja Bonoharjo berkaitan dengan berdirinya sekolah-sekolah yang dirintis oleh Rm. FX. Strater, S.J., yaitu Volksschool atau Sekolah Rakyat (SR) yang berjenjang tiga tahun di Kalimenur pada tahun 1927 dan di Milir pada tahun 1929, serta Vervolgschool atau SR lanjutan yang berjenjang dua tahun di Bonoharjo (kini Demangrejo) pada tahun 1938. Di masa penjajahan Jepang, karya pendidikan di Indonesia mengalami tantangan berat. Peristiwa ini berdampak pada sekolah-sekolah di Milir, Kalimenur, dan Bonoharjo. Untuk menyelamatkan Vervolgschool di Bonoharjo, atas inisiatif umat, sekolah ini dibongkar dan kegiatan pembelajaran dilaksanakan di sejumlah rumah penduduk. Pasca penarikan mundur tentara Belanda, para tokoh umat di Milir dan Bonoharjo bekerja sama dengan panitia pendirian sekolah di Wates berusaha membuka kembali sekolah-sekolah tersebut. Setelah SD Milir dan SD Bonoharjo berkembang, pengelolaannya diambil alih oleh Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta, sampai saat ini. Umat katolik di Bonoharjo tumbuh dengan pesat. Untuk menampung jumlah umat yang semakin banyak, dibangunlah gedung gereja Bonoharjo yang diberkati pada 22 April 1957 dengan nama pelindung Santa Maria Mater Dei (Maria Bunda Allah). Kelompok-kelompok umat yang terbentuk setelah adanya karya misi akhirnya disatukan oleh Rm. C.A.W. Rommens, S.J. Kelompok-kelompok umat itu dibagi menjadi beberapa kring, yaitu: Kring Milir, Kring Bonoharjo, Kring Srikayangan, dan Kring Kalimenur. Pada tahun 1967 dibentuklah kepengurusan wilayah perdana di dalam lingkup pelayanan pastoral Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates.

Pada sekitar tahun 2000 pernah diwacanakan untuk mengembangkan pelayanan umat di sisi timur Paroki Wates bersama dengan Wilayah St. Theresia Brosot (Paroki St. Yakobus Klodran Bantul) dan Wilayah St. Yusup Sentolo (Paroki St. Theresia Sedayu). Ketiga wilayah ini memiliki karakteristik yang identik di wilayah timur Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta. Alih status Wilayah Bonoharjo semakin mengerucut ketika Romo P. Noegroho Agoeng, S., Pr. dan Romo Y. Wicaksono, Pr. berkarya di Paroki Wates. Harapan umat yang ditangkap pastor Paroki Wates ini disampaikan pada rapat Dewan Harian Wilayah Bonoharjo, Mei 2018 dan ditindaklanjuti dengan mengirimkan proposal kepada Keuskupan Agung Semarang (KAS) pada 1 Juni 2018. Pada 18 Oktober 2018 dilakukan kunjungan Tim Visitasi KAS ke Gereja Bonoharjo.

Akhirnya pada 20 Maret 2019 terbit Surat Keputusan (SK) Uskup KAS Nomor: 0286/B/I/b-20/19 yang menetapkan pendirian Paroki Administratif Santa Maria Mater Dei Bonoharjo. SK ini berlaku mulai 24 Mei 2019 yang kemudian tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Paroki. Yang menarik, dalam SK itu disebutkan bahwa Bonoharjo tidak sekadar sebagai Stasi (sebagaimana yang diusulkan) tetapi menjadi Paroki Administratif beserta manunggaling umat di Wilayah Brosot dan Sentolo. Paroki di tepi barat Sungai Progo ini memiliki 7 wilayah dengan 21 lingkungan.

Paroki Administratif Santa Maria Mater Dei

Bonoharjo