Orang Muda Katolik St. Aloysius Mojosongo Melek Politik

Twitter
WhatsApp
Email
Surakarta- Gereja St. Aloysius Mojosongo mengadakan seminar kebangsaan yang berlangsung pada Minggu, 5 Maret 2023, di Kapel St. Yohanes Rasul Kadipiro. Seminar Kebangsaan kali ini bertema: “Reaktualisasi Pandangan Kaum Muda Katolik Terhadap Kehidupan Berpolitik.”

Surakarta- Gereja St. Aloysius Mojosongo mengadakan seminar kebangsaan yang berlangsung pada Minggu, 5 Maret 2023, di Kapel St. Yohanes Rasul Kadipiro. Seminar Kebangsaan kali ini bertema: “Reaktualisasi Pandangan Kaum Muda Katolik Terhadap Kehidupan Berpolitik.” Narasumber seminari kebangsaan kali ini yakni Rm. Yohanes Dwi Andri R., Pr (Tokoh Keagamaan), FX. Hadi Rudyatmo (Tokoh Masyarakat), dan Bayu Prabandono S.T, M.T (Dosen Politeknik ATMI). Seminar dihadiri oleh kurang lebih 70 peserta. Acara dimulai pukul 10.00 dan berakhir pukul 14.15.

Seminar ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa pembuka. Kemudian, Rm. Maternus Minarto, Pr (Pastor Paroki St. Aloysius Mojosongo) memberikan pengantar singkat mengenai tujuan diadakannya seminar kebangsaan kali ini. Rm. Minarto menyampaikan bahwa acara kali ini sejalan dengan Arah Dasar (ARDAS) Keuskupan Agung Semarang terutama untuk mempersiapkan diri menjelang pemilu tahun 2024 dengan menggunakan hak kita dalam pemilu.

 

“Pada dari hari ini, (kegiatan seminar) sesuai dengan fokus Keuskupan Agung Semarang, Arah Dasar (ARDAS) ke-8 bagian kekatolikan dan kebangsaan. Kita wujudkan dalam seminar secara khusus membicarakan tentang politik karena tahun 2023 merupakan tahun persiapan bagi kita untuk menyongsong pemilu tahun 2024. Kita memiliki hak dan kewajiban yang harus kita jalani. Haknya adalah kita ikut terlibat dalam penyelenggaraan negara melalui pemilu dan aktivitas kita sebagai warga negara. Maka kita bertanggung jawab atas negara kita,” pesan Rm. Minarto.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan oleh ketiga narasumber. Pertama, Mas Bayu  mengatakan bahwa politik pasti ada tegangan, namun bagaimana mengedepankan kebaikan di tengah tegangan tersebut. Sama seperti teladan kita, Yesus, yang siap melayani bahkan mati untuk kita.

“Kita memiliki teladan, yakni Yesus. Yesus adalah sosok pemimpin yang mau melayani dan merelakan dirinya bagi kita,” kata Mas Bayu.

 

Narasumber kedua, Bapak Rudi, yang mengingatkan peserta untuk menjadi pemimpin yang mau melayani, seperti akar.

“Jadilah seperti akar yang gigih mencari air, menembus tanah yang keras demi sebatang pohon. Ketika pohon tumbuh berdaun rimbun, berbunga indah, tampil elok dan mendapat pujian, akar tidak pernah mengeluh, tetap bersembunyi dalam tanah. Itulah makna dari sebuah ketulusan dalam berjuang demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegas bapak Rudi.

Selain dua tokoh di atas, Romo Andri mengajak peserta untuk berpolitik cerdas. Sarana dalam berpolitik yang ditawarkan oleh Romo Andri adalah bahasa. Selain itu, beliau memberikan gambaran bagaimana kita dapat berperan dalam dunia politik.

“Menurut Pierre Bourdieu, bahasa merupakan sumber kekuatan. Bahasa dapat menjadi sarana kita untuk berpolitik. Lalu, OMK dapat terlibat di bagian mana? Teman-teman dapat terlibat untuk melihat dan mengidentifikasi ketidakberesan sosial, mencoba mencari hambatan penyebab ketidakberesan tersebut, dan memberikan pemecahan untuk mengatasi masalah tersebut,” kata Romo Andri.

Seminar Kebangsaan ini ditutup dengan doa dan foto bersama. (ADWU)