Mendiami

Biasanya, setelah seseorang melihat, mengamati, dan menimbang maka ia akan memutuskan: apakah ingin terus atau tidak. Setelah kita melihat, mengamati, dan menimbang Kristus pilihan apakah yang akan kita ambil? Apakah kita akan terus tinggal bersamaNya atau kita memilih untuk meninggalkanNya. Kalau kita memilih untuk terus, artinya kita masuk dalam kualitas mendiami.

Pernah mengamati segerombolan semut yang melakukan eksodus? Beramai-ramai mereka menuju ke tempat lain. Setelah berada di tempat yang mereka yakini, mereka berhenti. Mereka tinggal di situ dan membangun rumah mereka di tempat itu. Kualitas diam dalam Kristus harus dilandasi oleh sebuah keyakinan kuat akan Kristus itu sendiri. Dengan berani diam dalam Kristus, semakin berakarlah ia dalam Kristus.

Ketika kita telah mengambil keputusan untuk diam dalam Kristus maka kita harus sadar bahwa kita telah menyerahkan diri seutuhnya kepada Kristus. Hidup kita sungguh tergantung seutuhnya pada tempat di mana kita diam, yaitu Kristus sendiri. Bukan hanya menyerahkan diri saja, melainkan juga membiarkan Ia berkarya dalam kehidupan kita.

Konsekuensi diam dalam Kristus juga semakin berat. Oleh karena itu, dibutuhkan usaha terus menerus untuk tetap bertahan. Melibatkan seluruh diri dalam usaha dan mati raga adalah cara untuk diam dalam Kristus. Bertekun dalam doa, secara khusus dalam Ekaristi dan Adorasi, adalah kunci untuk berani diam dalam Kristus.

Facebook
Google+
Twitter

Kabar lain

INDONESIA MAJU

SURAT GEMBALA 75 TAHUN KEMERDEKAAN INDONESIA USKUP AGUNG KEUSKUPAN AGUNG