Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan Harus Memiliki Semangat Gumregah

Twitter
WhatsApp
Email
Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan masih menjadi saksi berlangsungnya Temu Pastoral (Tepas) 2023 hari keempat, Kamis (23/11). Kevikepan Yogyakarta Timur menjadi peserta Tepas hari ini. Sebanyak 180 peserta turut berpartisipasi. Acara ini berlangsung dari pukul 08.00-16.15 WIB yang dihadiri para Dewan Pastoral (DP) KAS

Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan masih menjadi saksi berlangsungnya Temu Pastoral (Tepas) 2023 hari keempat, Kamis (23/11). Kevikepan Yogyakarta Timur menjadi peserta Tepas hari ini. Sebanyak 180 peserta turut berpartisipasi. Acara ini berlangsung dari pukul 08.00-16.15 WIB yang dihadiri para Dewan Pastoral (DP) KAS, Romo Paroki, Romo Vikaris, Tim Pelayanan (Timpel) Formatio Iman Berjenjang & Berkelanjutan, ketua komisi kevikepan, ketua stasi, dan beberapa bidang pelayanan lainnya di Kevikepan Yogyakarta Timur.

Tepas yang dimoderatori oleh Romo Bambang Riyanto ini terbagi dalam beberapa sesi, yaitu pengantar dan ikhtisar webinar, survei Formatio Iman Beriman & Berkelanjutan (FIBB), Kebijakan-Kebijakan Pastoral Uskup KAS, Tanya-Jawab, Diskusi Kelompok, Pleno Hasil Diskusi, dan Rencana Tindak Lanjut (RTL).

Dalam sesi Kebijakan-Kebijakan Pastoral Uskup KAS, Bapak Uskup, Mgr. Robertus Rubiyatmoko memaparkan gerak langkah keuskupan yang berlandaskan Sinode Umum Biasa ke-XVI, Sidang Konferensi Para Uskup se-Indonesia (KWI), dan tahun pemilu 2024. “Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan kudu gumregah,” pesan Bapak uskup. ‘Gumregah’ dalam bahasa Jawa dapat dimaknai sebagai semangat dan keinginan yang kuat untuk mencapai tujuan.

Tujuan utama Formasi Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB) adalah pembentukan pribadi-pribadi Katolik yang beriman secara cerdas, tangguh, misioner, dan dialogis. Tujuan ini ditopang oleh tri tugas pokok gerejawi, yaitu pengudusan (raja), pewartaan (nabi), dan penggembalaan (imam). Harapannya, FIBB bermuara pada informasi (pengetahuan), formasi (pembentukan), dan transformasi (perubahan untuk lebih beriman agar tercapai kesempurnaan hidup kristiani).

Tepas tahun ini menekankan pentingnya fokus pada tiap jenjang usia yang menjadi perhatian Keuskupan Agung Semarang dalam pendampingan iman. Jenjang itu terdiri dari Pendampingan Iman Usia Dini (PIUD), Pendampingan Iman Anak (PIA), Pendampingan Iman Remaja (PIR), Pendampingan Iman Orang Muda (PIOM), Pendampingan Iman Orang Dewasa (PIOD), dan Pendampingan Iman Usia Lanjut (PIUL).

“Diharapkan nanti di Kevikepan Yogyakarta Timur ada paroki-paroki yang bisa menjadi pilot project bagi PIUD, PIA, PIR, PIOM, PIOD, PIUL, sehingga ada gambaran yang jelas untuk menentukan gerakan-gerakan pastoral yang tertuang dalam program pelayanan,” ungkap Romo Vikep Yogyakarta Timur, Andrianus Maradiyo, Pr.

Temu Pastoral tahun ini pun mendapat respons positif dari peserta yang hadir. Perkembangan semakin kentara dalam menentukan gerak langkah keuskupan yang tertuang dalam Rencana Induk KAS (RIKAS). Pernyataan itu diungkapkan oleh salah seorang formator (pendidik) di salah satu SMA Katolik di Jogja.

“Sekarang sudah lebih tertata. Hal-hal spesifik dikaji ulang. Kalau yang sekarang lebih banyak orang yang terlibat dan lebih banyak melibatkan (berbagai) bidang kehidupan manusia (psikologis, spiritual, dan pendampingan iman usia berjenjang),” ucap Suster Bibiana, CB

Ia pun berharap agar sinergi yang terjalin antar pendamping umat mampu dirasakan lebih dalam lagi. “Harapannya dengan Tepas ini, pelayanan iman umat maupun kategorial bisa terlaksana baik. Harapan lebih jauh, iman-iman anak muda dapat lebih berkembang lagi, karena keprihatinan iman anak muda sungguh sangat banyak,” sambung Suster Bibiana, CB.

Namun, Tepas kali ini pun perlu evaluasi, khususnya dalam keterlibatan kaum muda.  Salah seorang wakil PIOM bercerita mengenai keprihatinan Orang Muda Katolik (OMK) yang masih minim perhatian.

“Belum mewakili OMK karena PIOM yang datang (dari Kevikepan Yogyakarta Timur) kurang dari 50%. Aku berharap bahwa OMK lebih diperhatikan lagi. Apalagi dari data yang dibawa Monsinyur Rubi bahwa ada beberapa teman kami yang keluar dari Gereja Katolik.  Aku harap Keuskupan Agung Semarang, terutama Kevikepan Jogja Timur bisa menaruh perhatian lebih ke OMK,” kata Agnes Larasati.

Bapak Uskup Monsinyur Robertus Rubiyatmoko juga berpesan agar para peserta terus menghidupi spirit berkatekese yang gumregah dalam pendampingan iman umat sesuai dengan amanat Yesus Kristus sendiri. Pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku! (Mat.28:19-20). Beliau mengutarakan bahwa pendampingan iman umat harus dimulai bahkan sejak dalam kandungan. “Mosok ibu ninggalke (meninggalkan) kandungan di rumah,” ujar beliau yang diiringi gelak tawa peserta.

Berkah Dalem