EKARISTI, TANDA NYATA DAN KELIHATAN DARI KASIH YESUS

(Homili Kamis Putih – 9 April 20200, oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko)

Saudara-saudari, tahu tidak bahwa sejak tgl 21 Maret yang lalu, saya itu terheran-heran dan bertanya-tanya “mengapa Anda semua begitu tekun dan setia mengikuti perayaan Ekaristi, meskipun hanya secara online, entah dengan menggunakan HP, laptop, layar TV atau bahkan radio”. Apa ta yang membuat Anda bersemangat seperti itu?

  • Daripada nganggur dan bengong di rumah?
  • Bosen tinggal di rumah?
  • Kewajiban untuk misa?

Pasti ada alasan/motivasi yang sangat mendasar dan mendalam: karena kerinduan yang mendalam untuk berjumpa dengan Tuhan; untuk mengalami kehadiranNya; dan untuk menerima limpahan berkat kasihNya yang terwujud dalam Ekaristi. Persis inilah yang banyak diungkapkan oleh umat dalam sharing-sharingnya kepada saya:

  • Beberapa mengungkapkan Kerinduan:
    • Maturnuwun Mgr, misa online pagi ini (22 Maret 2020), sy brebes mili, treyuh, merindukan kehadiranNya.
    • Matur nuwun untuk misanya…rasanya gregeli [bergetar]. Kian bersyukur di akhir Mgr mentahtakan SMK. Sungguh mengobati kerinduan hati ini. Sangking tdk tahan, sy menciumNya (di layar monitor) karena rindu Yesusku.
  • Mengalami kehadiran Tuhan
    • Hari ini (22 Maret 2020) hati rasanya campur aduk, pertama kali mengikuti misa dari media tanpa menerima Hosti. Mulai misa sudah mrebes mili mata ini. Satu hal yg saya yakini juga bahwa Yesus juga hadir di rumah kami.
    • Pengalaman rohani saya, sewaktu Mgr mengangkat Tubuh Kristus dan sewaktu doa penerimaan komuni secara spiritual, saya menangis dan merinding seluruh badan…merasakan Yesus hadir di sebelah saya.
    • Sungguh kami sekeluarga merasakan sesuatu yg berbeda…. kehadiran Tuhan sungguh luar biasa dlm diri kami.
  • Mengalami berkat Tuhan
    • Anak2 PA Ganjuran bisa mengikuti dengan penuh khidmat dan sungguh terharu karena berkat yg luar biasa boleh kami terima.

Saudara-saudari, dari ungkapan2 tadi, menjadi nyata bahwa Ekaristi menjadi perayaan dimana kita bertemu dengan Tuhan dan menerima berkatNya yang menyelamatkan.

Ekaristi menjadi sarana nyata dan kelihatan bagaimana Yesus terus berkarya menyelamatkan kita, yakni dengan menyerahkan tubuhNya dan darahNya untuk disantap dan menjadi sumber kehidupan.

Pertanyaannya: sejak kapan Ekaristi diadakan? Sejak perjamuan malam terakhir, yakni ketika Yesus mengadakan perayaan paskah bersama murid-muridNya, sebagaimana kita dengar kisahnya dari bacaan-bacaan. Perayaan paskah yang semestinya dilaksanakan dengan menyembelih anak domba, oleh Yesus diubah dan dimaknai secara baru: bukan anak domba biasa yang disembelih dan dikorbankan, tetapi diriNya sendiri yang diserahkan sebagai korban penyelamatan.

Dengan berkata “Inilah TubuhKu yang diserahkan bagimu. Inilah DarahKu yang ditumpahkan bagimu”, Yesus menjadikan diriNya korban paskah itu sendiri. Yesus menjadikan diriNya tebusan bagi dosa manusia. Dialah penyelamat yang senantiasa kita nanti-nantikan. Itulah sebabnya selalu ada kerinduan dalam diri kita untuk menyambut Yesus dalam rupa roti ekaristis.

Bahkan seorang anak kecil, kelas TK A – Ave namanya, ketika mengikuti misa online melihat saya dan romo sambut komuni nyeletuk polos kepada bapaknya:

Pah, itu Bapak Uskup dan Romo kok boleh menerima komuni; mama papa khan tidak? Mbok suruh anter pakai gojek biar papa mama terima komuni”.

Sebuah ungkapan polos seorang anak mewakili kerinduan kedua orangtuanya.

Di masa merebaknya wabah virus corona ini, dimana kita hanya bisa mengikuti Ekaristi secara online dan menyambut Komuni secara batin, kerinduan untuk menyambut Yesus dalam sakramen mahakudus ini semakin terasa sekali. Ada yang kurang. Sekarang kita baru merasakan sungguh-sungguh makna penting Ekaristi bagi kita orang beriman. Hari-hari sebelum ada wabah corona, kita biasa-biasa saja, bahkan ogah-ogahan untuk mengikuti Ekaristi. Betul tidak?

Ekaristi menjadi wujud kasih dan pemberian diri Yesus secara terus-menerus pada kita. Hal ini sudah disampaikanNya pada saat perjamuan malam terakhir, ketika Ia berkata: “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu. Inilah Darah-Ku yang ditumpahkan bagimu”.

Namun ketika para murid tidak memahaminya, maka Yesus pun mencoba memperjelasnya melalui sebuah peragaan: membasuh kaki murid-muridNya. Namun simbolisasi inipun juga tidak dimengerti dengan baik oleh para murid. Akibatnya, Petrus menolak dibasuh kakinya oleh Yesus.

Para murid akhirnya menjadi paham setelah nantinya menyaksikan sendiri bagaimana akhir hidup Yesus. Kesengsaraan dan wafatNya di kayu salib membuat para murid memahami makna ungkapan “Inilah TubuhKu yang diserahkan bagimu. Inilah DarahKu yang ditumpahkan bagimu”. Juga memahami makna pembasuhan kaki. Semuanya mau mengungkapkan bahwa kematian Yesus di kayu salib benar-benar merupakan wujud kasihNya yang total kepada kitaa.

Yesus telah memberikan teladan kasih dan pengorbanan demi keselamatan kita. Maka kita pun diundang untuk meneladan kasih Yesus dengan saling melayani dan berani berkorban demi kebahagiaan/kesejahteraan orang lain:

  • Perhatian pada anggota keluarga dan komunitas yang kurang kita perhatikan: yang tua, yang sakit, yang berkebutuhan, yang tidak berkontribusi.
  • Baik kiranya kalau kebersamaan dalam keluarga yang mulai terbangun selama wabah virus corona ini, kita teruskan dan dilengkapi demgan pelayanan yang semakin tulus, satu terhadap yang lain. Pelayanan tulus itu nampak paling nyata dalam sikap mau memaafkan dan mengampuni.
  • Perhatian pada tetangga: kalau ada yang terduga kena virus corona: bagaimana reaksi kita?
    • Bukan menyingkirkan dan menjauhinya; apalagi menolaknya
    • Mesti memberi perhatian lebih: menyediakan kebutuhannya supaya tuntas dalam melakukan karantina
    • Menjauhi penyakitnya, YA; menjauhi manusianya, NO
  • Di masa wabah virus corona ini, pasti ada tetangga kita yang mengalami kesulitan ekonomi: kehilangan pekerjaan dan demikian juga penghasilan; atau masih bekerja namun semakin sedikit penghasilannya è berbagi rejeki
  • Di saat sulit seperti ini, sudah waktunya kita membuka lumbung kemurahan hati dan gudang kepedulian kita; sudah saatnya untuk membuka tabungan cinta kasih untuk dimanfaatkan agar orang lain ikut menikmatinya.
  • Sekarang marilah kita kembali merasakan dan mengalami kasih Tuhan Yesus yang menyerahkan diri untuk kita. Kita kenangkan saat Yesus membasuh kaki para Rasul. Dan sekarang kita bayangkan dan rasa-rasakan sekarang ini Yesus membasuh kaki kita satu per satu.

 

Facebook
Google+
Twitter

Kabar lain

INDONESIA MAJU

SURAT GEMBALA 75 TAHUN KEMERDEKAAN INDONESIA USKUP AGUNG KEUSKUPAN AGUNG