BKL Hari 18: Sakramen Tobat: Wujud Kemurahan Hati Allah

Sebelum Misa Jumat Pertama, ada seorang pemuda yang mengaku dosa kepada Rama Martinus. Pemuda itu berasal dari luar kota. Ia sudah lama tidak mengaku dosa. Begitu dosanya diampuni, ia merasa damai dan lega. Kemudian ia bertanya kepada Rama Martinus: “Rama, apa boleh saya minta Rosario untuk saya pakai doa?” Rama Martinus memberikan rosarionya kepada pemuda itu. Sebelum keluar ruang pengakuan, pemuda itu berkata sambil pegang perut: “Rama, saya belum makan dan tidak punya uang. Apakah saya boleh minta uang untuk makan?” Karena tergerak belas kasihan, Rama Martinus membuka dompet dan menyerahkan selembar uang 20 ribu kepadanya.

Apa yang dilakukan Rama Martinus dapat sedikit menggambarkan kemurahan hati Allah. Tentunya kemurahan hati Allah kepada kita yang bertobat dan rendah hati datang pada-Nya jauh lebih besar. Tuhan Yesus menggambarkan kemurahan hati Allah itu seperti kasih sang bapak yang menerima kembali anaknya yang bungsu (bdk. Luk. 15:11-32). Anak bungsu itu diampuni, diberi jubah indah, diberi cincin dan sepatu serta dipestakan. Semua dosa kita pun diampuni asal kita mengakuinya, menyesal dan membangun niat untuk bertobat.

Dalam Sakramen Tobat, kita mengalami kemuliaan Tuhan. Melalui sesal dan tobat, kita menjadi siap untuk menerima rahmat penebusan Tuhan sendiri.Kita pun didamaikan dengan Allah, sesama dan alam semesta. Temuilah seorang imam di dekat Anda. Jangan takut dan jangan malu! Dosa-dosa Anda tidak akan dibocorkan dan apalagi dijadikan bahan omongan oleh imam itu dalam hidup sehari-hari. Mengapa? Karena seorang imam disumpah untuk menjaga kerahasiaan dosa-dosa umat dalam Sakramen Tobat. Kitab Hukum Kanonik (KHK) no. 1388 §1 menyatakan dengan tegas: “Bapa pengakuan (imam), yang secara langsung membocorkan rahasia sakramen, terkena ekskomunikasi yang bersifat otomatis (latae sententiae) yang direservasi bagi Tahta Apostolik”. Artinya, imam itu akan diekskomunikasi (dikeluarkan) secara langsung dari Gereja Katolik, termasuk dicabut imamatnya. Yukk, merasakan kemurahan hati Allah dengan menerima Sakramen Tobat sesering mungkin.

Facebook
Google+
Twitter

Kabar lain

INDONESIA MAJU

SURAT GEMBALA 75 TAHUN KEMERDEKAAN INDONESIA USKUP AGUNG KEUSKUPAN AGUNG