Pertemuan APP 2019 Minggu II

Pertemuan APP KAS 2019 Minggu II

Dalam pertemuan kedua, seluruh umat diajak untuk merenungkan tentang panggilan untuk mengusahakan keutamaan dan kesalehan hidup pribadi dalam hidup harian. Sumber inspirasi permenungan dalam pertemuan kedua adalah SC art.110 dan Ekshortasi Paus Fransiskus “Gaudete et Exultate”.

PEMBUKA
Lagu Pembuka
Tanda Salib dan salam
P: Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus
U: Amin
P: Rahmat Tuhan Kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan dengan Roh Kudus, beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya

Kata Pengantar

Bapak-ibu, dan saudara-saudari yang terkasih,
Salah satu maksud dari gerakan Aksi Puasa Pembangunan adalah untuk mengajak umat semakin dapat memanfaatkan masa prapaskah sebagai kesempatan untuk mengalami pertobatan sejati, dengan menyesali, membenci, dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan dosa dan bertumbuh dalam keutamaan-keutamaan hidup kristiani. Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium art.110 mengajak kita semua agar membina pertobatan, terutama: “Pertobatan selama masa empat puluh hari hendaknya jangan hanya bersifat batin dan perorangan, melainkan hendaknya bersifat lahir dan  sosial kemasyarakatan. Adapun praktek pertobatan, sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan zaman kita sekarang dari pelbagai daerah pun Juga dengan situasi Umat beriman, hendaknya makin digairahkan, dan dianjurkan oleh pimpinan gerejawi seperti disebut dalam artikel 22. Namun puasa Paska hendaknya dipandang keramat, dan dilaksanakan di mana-mana pada hari Jumat dengan Sengsara dan Wafat Tuhan, dan bila dipandang berfaedah, diteruskan sampai Sabtu suci, supaya dengan demikian hati kita terangkat dan terbuka, untuk menyambut kegembiraan hari Kebangkitan Tuhan.
“Oleh karena itu, dalam pertemuan kedua ini, seruan apostolic yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada 9 April 2018 yang berjudul “Gaudete et Exultate” (Bersukacitalah dan Bergembiralah) menjadi inspirasi pengolahan kita. Seruan “Gaudete et Exultate” sendiri bersumber dari Khotbah Yesus di Bukit yang berbunyi, “Bersukacitalah dan bergembiralah karena upahmu besar di surga” (Mat 5:12). Melalui seruan apostolik ini, Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk mengusahakan kekudusan di zaman ini (atau Zaman Now). Menurut Paus Fransiskus, mengusahakan kekudusan tidaklah harus menjadi serupa dengan santo atau santa, menjadi kaum religius/biarawan-biarawati. Kekudusan hidup seorang kristiani dapat diupayakan dengan cara-cara yang sederhana dan dapat kita lakukan setiap hari. Cara yang sederhana ini dapat dilakukan oleh siapa saja, baik itu oleh mereka yang sudah berumur maupun oleh anak kecil sekalipun. Perwujudannya pun juga bisa dilakukan di mana saja: bisa di tempat kerja, di gereja, di rumah, maupun di ternpat pendidikan.

Bapak-ibu dan saudara-saudariyang terkasih,
Marilah kita hening sejenak, kita sadari segala kelemahan kita yang terkadang kurang menanggapi panggilan Tuhan dalam mencari kekudusan di tengah dunia yang semakin individual ini.

DoaTobat

P: Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah kabar baik dari Allah yang dapat menyelamatkan kami. Tuhan, kasihanilah kami.
U: Tuhan, kasihanilah kami.

P: Engkau menguatkan kami dan melindungi kami terhadap yang jahat. Kristus, kasihanilah kami.
U: Kristus, kasihanilah kami.

P: Engkau membimbing kami supaya kami dapat mengasihi Allah dan menjadi tabah hati seperti Engkau sendiri. Tuhan, kasihanilah kami.
U: Tuhan, kasihanilah kami.

P: Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan menghantar kita ke hidup yang kekal.
U: Amin

Doa Pembuka
P: Marilah berdoa, (hening sejenak)
Ya Allah Bapa yang penuh dengan belas kasih, dalam kesempatan ini, kami bersama-sarna ingin merenungkan ajakan Yesus kepada setiap orang untuk bertekun mengusahakan kekudusan di dalam hidup sehari-hari. Bantulah kami putra-putriMu agar dapat mewujudnyatakan hid up yang kudus tersebut dengan cara sederhana yang dapat kami lakukan di tengah dunia yang semakin individual ini. Ini semua kami mohon dengan pengantaraan Kristus, Juru Selamat kami, yang bersama Dikau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.

Bacaan (Matius 5:1-12)

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu,”

P: Demikianlah Injil Tuhan
U: Terpujilah Kristus

Renungan Singkat

Dalam bacaan Kitab Suci yang telah kita dengarkan, Yesus mengajak para murid pada waktu itu untuk berani melibatkan diri dalam kehidupan sehari-hari sebagai masyarakat Israel. Keterlibatan menuju kepada kekudusan yang diinginkan Yesus kepada para murid adalah semangat miskin, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, bermurah hati, suci hati, membawa damai, dan menerima penganiayaan dengan tabah. Yesus sendiri menginginkan agar para murid dapat melaksanakan tindakan kekudusan tersebut di tengah situasi masyarakat Israel yang cenderung membanggakan bangsanya sendiri dan memusuhi bangsa yang lain serta munculnya semangat mementingkan kepentingan dirinya sendiri di tengah masyarakat tersebut. Para murid dengan kekhasannya masing-masingdiajakoleh Yesus untuk mengusahakan kekudusan di dalam hid up sehari-hari dengan cara mereka sendiri. Di sini pun, Yesus tidak membatasi mereka dengan aturan-aturan yang ketat untuk menjadi kudus, melainkan mengajak mereka semua untuk melakukan hidup harian mereka dengan penuh kasih.

Pertanyaan Permenungan/ Sharing

(Sebelum masuk dalam bagian permenungan/sharing, pemandu dapat membagi umat dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari 8-10 orang. Cara pembagiannya bisa dengan berhitung atau sesuai dengan kelompok usia. Tunjuklah ketua dalam masing-masing kelompok untuk memandu jalannya sharing kelompok serta mencatat hasil sharing.)

  1. Menurut Anda, seperti apakah orang yang disebut kudus itu?
  2. Dalam ekshortasi “Gaudete et exultate”, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Setiap orang beriman perlu “membedakan jalannya sendiri” dan “memunculkan yang terbaik dari dirinya sendiri”. Adakah cara/jalan istimewa/khas yang dapat anda temukan dari hidup anda setiap hari untukmengusahakan kekudusan?

Pleno Hasil Permenungan / Sharing

(Inti pesan yang ingin disampaikan adalah, “Bentuk dan cara untuk mencapai kekudusan berbeda-beda untuk setiap pribadi. Dan kita tidak perlu meniru kekudusan orang lain, kita harus punya cara sendiri menuju kekudusan. Syukur-syukur orang lain meniru cara kita dalam mencapai kekudusan”. Hal tersebut selaras dengan ajakan dari Paus Fransiskus, “Janqanlah takut menjadi kudus!”)

Perikop Sabda Bahagia yang kita dengarkan dalam pertemuan ini juga menjadi dasar permenungan Paus Fransikus dalam ekshortasi “Gaudete et exultate” yang ditulisnya untuk mengingatkan kita akan panggilan setiap orang dalam mengusahakan kekudusan di tengah tengah situasi zaman yang semakin mementingkan diri sendiri dan sekuler ini.

Jalan menuju kekudusan bukanlah jalan sempit yang hanya diperuntukkan bagi para santo-santa. Panggilan menuju kekudusan adalah panggilan bagi semua orang, tanpa kecuali. Untuk menjadi seorang yang kudus, seseorang tidak harus menjadi seorang uskup, imam, atau religius atau yang memiliki kesempatan untuk melepaskan diri dari urusan sehari-hari agar dapat mendedikasikan diri secara eksklusif dalam doa. Kita semua dipanggil menjadi orang kudus. Caranya ialah dengan hidup dalam kasih dan menawarkan kesaksian kita sebagai seorang Kristiani setiap hari.

Bapa Suci menawarkan suatu cara yang paling sederhana dan praktis yang dapat kita lakukan, yakni dengan menghidupi kehidupan sehari-hari dengan penuh kesungguhan dan dilandasi dengan rasa cinta (menjadi ibu yang baik, guru yang baik, murid yang baik, frater yang baik, pekerja yang baik, dan sebagainya) dan menghindari hal-hal yang menjauhkan pada kekudusan (sikap mementingkan diri sendiri maupun menjauhkan diri dari Tuhan). Sebab, pada dasarnya panggilan untuk sampai pada kekudusan adalah panggilan semua orang.

Dalam Konteks zaman ini bagi Paus Fransiskus, perlu bagi setiap orang untuk menjalani hidup dengan penuh ketekunan, kesabaran, kerendahan hati, sukacita, keberanian, dan penuh semangat. Selain itu setiap usaha yang kita lakukan juga perlu dilandasi dengan doa dan persekutuan dengan sesama terlebih dengan Tuhan.

Doa Umat Spontan (berdasarkan sharing)

Bapa Kami

Doa Penutup

P: Marilah berdoa, (hening sejenak)
Ya Allah Bapa yang penuh dengan belas kasih, kami menghaturkan terima kasih karena berkat rahmat kasih-Mu, kami memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi kudus. Kami pun juga menyadari bahwa kekudusan ini dapat kami capai di dalam kehidupan kami sehari-hari. Bantulah kami agar kami pun mempunyai keberanian di dalam memperjuangkan kekudusan dalam kehidupan kami sehari-hari. lni semua kami mohon dengan pengantaraan Kristus, Juru Selamat kami.Amin.

Berkat

P: Tuhan sertamu
U: Dan sertamu juga

P: Semoga Allah yang Mahakuasa senantiasa memberkati kita. Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus
U: Amin

Lagu Penutup

Kabar lain