logokas2

Katekese Midodareni

Katekese Midodareni

Midodareni merupakan tradisi Jawa yang juga mengakar kuat dalam umat Katolik, khususnya di Jawa. Oleh kaena itu, upacara adat ini sering dirayakan secara meriah, bahkan dalam sebuah perayaan Ekaristi. Apakah harus demikian?

Rini dan Tedi mendatangi pastoran, tempat mantan Rama Paroki mereka sekarang bertugas. Sewaktu Rama itu bertugas di paroki mereka, mereka sudah dekat dan akrab dengan Rama itu. Setelah omong sana-sini, Rini dan Tedi memohon kesediaan Rama untuk memimpin Misa Midodareni. Sedangkan yang memimpin Misa Perkawinan mereka adalah Rama Paroki yang sekarang. Rama itu menjelaskan dengan tenang, lembut tetapi tegas yang intinya ialah bahwa midodareni itu tidak perlu dilaksanakan dengan Misa Kudus. Rini dan Tedi dapat mengerti penjelasan ini dan mereka pulang kembali setelah dirasa cukup.

Acara midodareni diadakan pada malam hari menjelang hari perkawinan. Orang Jawa mempunyai keyakinan bahwa pada malam menjelang perkawinan itu, para bidadari turun dari kahyangan untuk bertandang di rumah calon mempelai perempuan itu dan akan mempercantik calon pengantin itu. Biasanya pada malam midodareni itu diadakan pula rangkaian acara adat di rumah pengantin putri, sepertiacara seserahan, pemberian petuah, doa-doa dan berbagai simbol yang semuanya secara adat memiliki makna.

Dalam tradisi Katolik, puncak perayaan perkawinan baru terjadi pada keesokan harinya yakni saat pengucapan janji perkawinan. Itulah sebabnya, midodareni sebaiknya tidak dilangsungkan dalam Misa Kudus. Mengapa? Agar berbagai upacara adat di seputar perkawinan itu tetap mengalami sebuah proses yang puncaknya adalah pengucapan janji perkawinan. Dan pada saat itulah perayaan perkawinan Katolik semestinya dilangsungkan dalam Misa Kudus (bdk. SC 78). Jangan sampai misalnya karena pengantin atau keluarga memiliki relasi dekat dengan beberapa Rama, lalu para Rama itu dijadwal untuk setiap tahap upacara di seputar perkawinan ini, termasuk midodareni. Kalau seperti itu yang terjadi, Misa perkawinan sudah tidak menjadi istimewa, karena tidak menjadi puncak lagi. Sebaliknya midodareni dengan ibadat dapat dipusatkan pada doa permohonan akan karunia Roh Kudus agar memberi kekuatan dan kesucian hati untuk menyambut puncak perayaan perkawinan dalam Misa keesokan harinya.

Facebook
Twitter

Kabar lain

CINTAMU MEMATRI PILIHANKU: Kita Jalani Bersama

Keluarga adalah Gereja terkecil, Setiap orang tua mempunyai tanggung jawab yang begitu besar untuk membawa anak-anaknya untuk beriman. Tidak terkecuali Orang tua Evan yang selalu beriman dalam keluarga. Namun sang ayah merasa ada yang berubah dari dalam diri Evan.

KARINA KAS: Respon Gempa Cianjur

Yayasan KARINAKAS berupaya hadir memberikan sapaan dan bantuan bagi mereka yang terdampak pada peristiwa gempa di Cianjur. Meskipun terkendala medan yang sulit dan jalan yang sangat padat, Gereja berupaya hadir memberikan bantuan tanpa memandang susahnya medan yang dijangkau.

Ngobrolin Suami ‘MUNTABER’ Mundur Tanpa Berita

Berdasarkan Assessment yang dilakukan kepada beberapa komunitas sekolah dan anak muda gereja mengenai pengalaman menyenangkan dan tidak menyenangkan, ditemukan setiap anak pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan di lingkungan sekitar mereka.

BABY VAMPY: HATI-HATI

Baddy, vampir yang usil, malas, dan tidak pernah bisa diam kembali membuat kegaduhan. Akibat kemalasannya ini yang bikin gaduh. Untung ada Vampy yang siap sedia memberi tau Baddy supaya lebih baik. 

TEMU PASTORAL KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG – KEVIKEPAN SURAKARTA

25 November 2022, bertempat di pusat spiritualitas Ignasian yaitu di Rumah Retret Panti Semedi , Sangkal Putung – Klaten diadakan Temu Pastoral Keuskupan Agung Semarang 2022 untuk wilayah Kevikepan Surakarta. Temu Pastoral kali ini terasa berbeda dari Temu Pastoral sebelumnya karena dibawakan dengan sangat